Penulis: Hanum

Editor:Rizki Ardinanta/ Bernadeta Diana

Umumnya, pasangan berani memutuskan menikah ketika mereka telah mendapatkan penghasilan yang dianggap stabil atau mencukupi. Namun, satu hal yang kerap terjadi tetapi jarang disadari adalah kenyataan bahwa umumnya tingkat pendapatan akan berbanding lurus dengan tingkat pengeluaran. Dengan demikian, kenaikan gaji terkadang disertai dengan keinginan pembelian barang-barang yang semula masih bisa ditunda.

Sekali dua kali, pengeluaran untuk kebutuhan tersier mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun, apabila tidak dibatasi, frekuensi pengeluaran yang tak terkontrol tersebut akan merepotkan dan berdampak pada peningkatan gaya hidup.

Penggunaan Kartu Kredit Sebagai Solusi Pembayaran

Apabila nafsu pengeluaran tak kunjung mereda, salah satu solusi yang kemudian terlintas di benak kita adalah utang. Salah satu bentuk populer untuk melakukan pembayaran dalam bentuk utang adalah dengan menggunakan kartu kredit. Kartu kredit sendiri merupakan salah satu layanan perbankan yang memungkinkan penangguhan pembayaran untuk kemudian ditagihkan ketika jatuh tempo. Singkatnya, penggunaan kartu kredit memungkinkan kita melakukan pembelian atau cicilan tanpa perlu langsung mengeluarkan uang tunai.

Sebagaimana utang pada umumnya, pengguna kartu kredit memiliki kewajiban untuk melakukan pembayaran berikut dengan kompensasi dalam bentuk bunga sesuai dengan ketetapan. Kenyamanan dan kemudahan yang ditawarkan oleh kartu kredit di sisi lain membuat orang cenderung tidak berpikir panjang menggesek kartu untuk melakukan pembayaran. Pernyataan ini sejalan dengan studi Raghubir dan Srivastava (2008) yang menyatakan bahwa semakin nyata arus keluar pembayaran, maka semakin besar pula keengganan akan pengeluaran, yang kemudian disebut dengan istilah pain of paying. Singkatnya, pembayaran tunai akan terasa lebih ‘menyakitkan’ daripada pembayaran dengan media kartu. Alhasil banyak orang yang kemudian tidak sadar telah menumpuk beban sedemikian besar dan tidak sanggup membayar kredit tersebut ketika jatuh tempo. Lantas bagaimana cara kita terhindar dari jebakan kredit yang menggiurkan tersebut? Atau bagaimana jika salah satu pasangan merupakan seorang overspender?

Membandingkan Berbagai Fasilitas atas Layanan Kartu Kredit

Sebelum memutuskan untuk menggunakan layanan kartu kredit, kita perlu melakukan riset dengan membandingkan fasilitas kartu kredit dari berbagai bank terlebih dahulu. Kartu kredit dengan promo seperti diskon dan cashback yang melimpah tentu akan jauh lebih menarik. Selain itu, suku bunga juga perlu menjadi pertimbangan kita dalam memilih kartu kredit yang tepat. Pasalnya, hal tersebut berhubungan langsung dengan besarnya dana yang akan kita keluarkan pada masa penagihan. Pertimbangan tadi pada akhirnya mengarah pada keputusan untuk memilih penyedia layanan kartu kredit dengan benefit maksimal. Termasuk keputusan untuk menentukan batasan jumlah kartu kredit yang sanggup kita gunakan.

Usai menentukan layanan kartu kredit yang sesuai, kita masih perlu membuat prioritas utang berdasarkan tenggat pembayaran. Pembayaran utang sebelum jatuh tempo akan menghindarkan kita dari denda sekaligus meringankan beban pikiran. Namun demikian, sebagai konsekuensi, kita pun harus menghimpun dana yang cukup untuk membayar utang tersebut. Apabila tenggat sudah berada di depan mata dan pemasukan utama sudah habis untuk keperluan lainnya, jangan pernah berpikir untuk membayar utang dengan utang alias gali lubang tutup lubang. Utang tambahan berarti lebih banyak bunga yang juga perlu dibayar di kemudian hari. Dengan demikian, gali lubang tutup lubang hanya akan memperbesar total utang yang harus kita bayar di akhir.

Waktu yang mepet dan kebutuhan yang mendesak memang tidak dapat diatasi hanya dengan menunggu gaji bulanan turun. Akhirnya, langkah yang tepat adalah dengan menambah nominal arus pemasukan atau revenue stream. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat usaha kecil-kecilan atau bila memang sangat terdesak, dengan menjual barang-barang yang tidak terpakai, seperti melalui garage sale. Solusi lainnya adalah dengan melakukan pembayaran minimum payment yang umumnya sebesar 10% dari total tunggakan serta tagihan pada bulan sebelumnya. Sayangnya, jalan pintas tersebut hanyalah solusi sesaat lantaran kita tetap saja menimbun utang serta bunga untuk dibayarkan di kemudian hari.

Di era yang serba mudah ini, kartu kredit muncul sebagai solusi atas kebutuhan dan keinginan manusia yang terus meningkat. Meski demikian, kemudahan kartu kredit kerap menjebak penggunanya dalam kasus kredit yang melilit. Oleh karena itu, kita sebagai pengguna kartu kredit tetap wajib membatasi pengeluaran dan juga menyadari kemampuan kita dalam membayar tagihan utang di masa mendatang.

Referensi:

Raghubir, P., & Srivastava, J. (2008). Monopoly Money: The Effect of Payment Coupling and Form on Spending Behavior. Journal of Experimental Psycology: Applied, 14(3), 213-225.