Penulis: Hanum

Editor: Bernadeta Diana

Generasi milenial kini telah dianggap memasuki usia yang ideal di mata masyarakat untuk menikah. Gerakan nikah muda yang belakangan marak pun seakan turut mendorong generasi milenial dan setelahnya untuk menikah. Sayangnya, narasi kehidupan yang digembar-gemborkan segelintir kalangan usai menikah seakan menutupi realitas berupa tantangan finansial yang harus dihadapi bersama.

Menyadari Permasalahan Finansial Keluarga Muda

Permasalahan finansial pasangan muda yang kerap ditemui salah satunya berakar dari kebutuhan untuk hidup mandiri dan terpisah dari keluarga besar. Artinya, keputusan untuk membangun rumah tangga perlu disertai kesadaran penuh akan pengelolaan finansial bersama pasangan. Salah satu upaya pasangan muda untuk hidup mandiri terlihat dari keputusan untuk membeli rumah baru untuk ditinggali. Namun demikian, milenial disebut-sebut sebagai generasi yang tidak akan bisa membeli rumah sendiri.

Dilansir dari situs Kompas, Ignatius Untung selaku Country General Manager Rumah123.com mengatakan bahwa hasil riset kerja sama dengan Karir.com menunjukkan bahwa rata-rata kenaikan gaji normal pada tahun 2016 berkisar di angka 10%. Di sisi lain, lonjakan harga properti mencapai 20% dan tak menutup kemungkinan bahwa tren kenaikan harga properti tersebut akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Di samping upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya, kecenderungan semacam itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan baru.

Membuat Rencana Keuangan Secara Matang

Guna mengatasi kekacauan finansial dalam keluarga muda, terdapat satu hal penting yang

perlu diperhatikan dan dipersiapkan secara matang yakni rencana keuangan. Otoritas Jasa Keuangan mendefinisikan perencanaan keuangan sebagai seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh individu atau keluarga untuk mencapai tujuan yang efektif, efisien, dan bermanfaat, sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera. Rencana keuangan berguna untuk memetakan kebutuhan, baik jangka pendek maupun panjang. Pembuatan rencana keuangan sekaligus merupakan bekal untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan, termasuk ketika memutuskan untuk memiliki momongan. Intinya, keluarga muda perlu benar-benar sadar akan prioritas keuangan keluarga dan tidak boleh ragu untuk mengkomunikasikan hal tersebut dengan pasangan.

Menghindari Perilaku Berbelanja Impulsif

Sebagaimana yang sudah sempat sedikit disinggung sebelumnya, hal mendasar mengenai perencanaan keuangan adalah kesadaran akan prioritas pengeluaran. Di samping itu, keluarga muda juga perlu menyadari godaan yang timbul akibat kemudahan transaksi elektronik masa kini. Rencana keuangan yang sudah disusun secara matang bisa saja runtuh akibat maraknya aneka promosi pembelian dengan uang elektronik atau layanan pembayaran non-tunai lainnya.

Menjamurnya toko berbasis daring dan kemudahan transaksi menjadi pisau

bermata dua yang memicu impulse buying behavior. Batasan antara kebutuhan dan keinginan pun menjadi kian kabur. Misalnya saja ketika ada promo potongan harga untuk pembelian barang elektronik yang sebetulnya bisa ditunda. Untuk itu, diperlukan ketegasan dalam menjalankan rencana keuangan yang sudah dirancang bersama.

Salah satu upaya menghindari kecenderungan berbelanja secara impulsif demi mengendalikan pengeluaran adalah dengan cara membatasi transaksi nontunai. Menurut Raghubir dan Srivastava (2008), semakin nyata arus keluar pembayaran, maka semakin besar pula keengganan akan pengeluaran, yang disebut dengan istilah pain of paying. Dengan demikian, pembelanjaan dengan mode pembayaran yang ‘kurang nyata’

seperti kartu kredit atau kartu debit pun menjadi lebih ‘enteng’ dilakukan.

Mengevaluasi dan Menyusun Kembali

Usai mampu menghindari kecenderungan berbelanja secara impulsif, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi keuangan keluarga yang sudah dijalani. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah kebutuhan yang telah direncanakan sebelumnya dapat dipenuhi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mencatat aset-liabilitas serta penghasilan-pengeluaran dalam satu periode waktu tertentu, misalnya setiap bulan. Apabila hasil evaluasi tersebut ternyata menunjukkan besar pasak daripada tiang, diperlukan tindakan lanjutan demi menjaga agar arus pengeluaran dan pemasukan menjadi lebih stabil untuk masa mendatang.Termasuk mengalokasikan sebagian pendapatan untuk tabungan.

Usai menjalankan evaluasi anggaran keluarga, selanjutnya kamu bisa menyusun kembali anggaran keuangan bulanan secara lebih realistis. Penyusunan tersebut mempertimbangkan nominal penghasilan serta alokasi untuk pengeluaran kebutuhan yang berkaca dari pola konsumsi anggota keluarga. Meski demikian, penghasilan tersebut tentu tak lantas dihabiskan begitu saja untuk keperluan konsumsi saja. Ada pula alokasi khusus untuk pembayaran cicilan maupun utang demi menghadapi risiko tunggakan di masa mendatang. Pertimbangkan juga alokasi khusus untuk dana darurat, asuransi, maupun investasi ketika pola pengeluaran dan pemasukan benar-benar sudah stabil.

Kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan tak dapat dipungkiri merupakan hal yang sangat penting demi menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk itu, dibutuhkan kesediaan masing-masing pasangan untuk merencanakan masa depan secara terbuka, bahkan sebelum menikah. Di sisi lain, dibutuhkan pula komitmen yang kuat dari segi finansial demi mewujudkan rencana tersebut.

Referensi:

Raghubir, P., & Srivastava, J. (2008). Monopoly money: The effect of payment

coupling and form on spending behavior. Journal of Experimental Psychology: Applied,

14 (3), 213-225.

https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/images/FileDownload/25_Buku_Perencanaa

n_Keuangan.pdf

https://properti.kompas.com/read/2016/12/14/160706321/lima.tahun.lagi.generasi.mil

enial.terancam.tidak.bisa.membeli.rumah