Mengapa aset liquid perlu diprioritaskan? Apa dampak virus Corona terhadap kondisi ekonomi keluarga? Sudah hampir sebulan ini Indonesia disibukkan dengan penanganan virus Covid-19. Banyak langkah yang sudah diambil pemerintah pusat maupun daerah guna mengatasi penyebaran virus ini.

Langkah-langkah ini secara langsung mempengaruhi tatanan kehidupan banyak keluarga Indonesia. Hal ini juga mempengaruhi keputusan ekonomi tiap keluarga. Kebijakan seperti #dirumahsaja, social distancing, dan kebijakan-kebijakan lain, jelas mempengaruhi kehidupan ekonomi keluarga di Indonesia.

Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada tindakan konsumsi namun juga berpengaruh pada sisi pendapatan keluarga di Indonesia. Banyak keluarga yang melakukan panic buying terhadap kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi, banyak juga yang panik terhadap pembiayaan kehidupan keluarganya jika situasi seperti ini terus berlangsung—termasuk saya. Pemerintah pusat melalui Bank Indonesia (BI) pun sudah melakukan langkah preventif guna menjaga kestabilan ekonomi Indonesia. 

Keputusan ekonomi itu harus rasional

Salah satu prinsip yang mendasar dalam ilmu ekonomi menyatakan bahwa setiap keputusan ekonomi harus didasari rasionalitas. Salah satu hal yang mendukung keputusan yang rasional adalah kecukupan informasi yang diperlukan sebelum melakukan keputusan-keputusan ekonomi. Sayangnya dalam kondisi saat ini yang kurang kondusif, informasi yang kredibel sulit untuk didapatkan. Hal itu menjadi tantangan sendiri bagi individu dalam mengambil keputusan.

Check and re-check atas sebuah informasi harus dilakukan supaya dasar pengambilan keputusan kita lebih rasional. Memang sulit untuk tetap rasional dalam kondisi seperti ini. Namun, gelombang keputusan ekonomi yang tidak rasional akan berdampak luas pada tindakan panic buying yang justru berpotensi merugikan banyak orang. Sesulit apapun, kita harus tetap rasional dalam melakukan keputusan tindakan ekonomi, karena keputusan-keputusan ekonomi yang tepat adalah kunci.

Aset liquid lebih diperlukan daripada aset non-liquid

Pada dasarnya, aset dibagi jadi 2 kategori, yaitu aset liquid dan non-liquid. Aset liquid mencakup uang tunai, tabungan, dan investasi dengan jangka waktu tertentu. Sedangkan aset non-liquid mencakup tanah, bangunan, kendaraan, serta perhiasan. Nah, pada kondisi ekonomi yang tidak menentu ini, perlu penyikapan yang adaptif dalam merespon situasi ini. Respons ini pun tetap harus didasari pada pertimbangan yang rasional.

Di kondisi yang tidak stabil ini, saya merasa proporsi aset cair sebaiknya lebih tinggi dibanding dengan aset non-liquid. Karena menurut saya, kondisi yang tidak stabil ini akan mendorong masyarakat untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Siapa juga yang akan berpikir untuk membeli tanah pada kondisi seperti ini?

Saran penanganan aset liquid

Kebanyakan orang akan melakukan konsumsi terhadap komoditas sehari-hari. Saran saya bagi fams yang masih bermain saham, mungkin bisa mengalihkan sahamnya ke perusahaan yang menjual produk kebutuhan sehari-hari.

Asset liquid ada banyak jenisnya. Jadi fams tidak perlu melakukan penarikan uang tunai dalam jumlah besar. Baiknya Anda dapat menahan konversi aset liquid ke aset non-liquid, setidaknya hingga kondisi ekonomi stabil kembali. Saya sendiri sudah mengonversi saham saya menjadi tabungan biasa. Saya mencairkan beberapa aset saya berupa saham dan saya taruh ke dalam tabungan biasa, selain karena pertimbangan IHSG yang kian merah terus.

Saya juga menyarankan untuk tidak menjual aset-aset non-liquid saat ini karena demand yang turun. Ketika permintaan turun, sesuai hukum ekonomi, harga juga akan turun. Fams juga dapat melihat atau mencari referensi melalui media daring maupun akun finansial yang kredibel guna menata kembali proporsi aset Anda.

Konsumsi seperlunya

Selain rasional, keputusan ekonomi juga harus terukur. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil karena wabah virus maupun aspek kausalitas lainnya. Jadi apapun kondisinya, tindakan ekonomi yang optimal adalah menjaga tingkat konsumsi pada kondisi seperlunya. Tindakan ini membutuhkan pengalaman dan pemahaman agar dapat dilakukan dengan baik. Tetaplah rasional dan terukur dalam melakukan keputusan-keputusan ekonomi. Tetap jaga kesehatan dan tetap menjaga pola konsumsi yang rasional. Semoga kondisi ini cepat berakhir dan ekonomi kita kembali stabil.