Penulis: Khoirunnissa Hidayati

Editor: Bernadeta Diana

Ketika sudah berkeluarga, kita pasti akan merasakan perbedaan yang cukup signifikan terkait keuangan. Pada awalnya, biaya yang dikeluarkan untuk makan, uang transportasi dan lain sebagainya tidak seberapa, karena memang hanya membiayai untuk satu orang saja. Sebaliknya, ketika jumlah anggota keluarga bertambah maka biaya yang dibutuhkan pun meningkat karena kebutuhan yang harus dibeli juga semakin beragam. Apabila tidak direncanakan dan dibahas dari awal dengan pasangan, hal tersebut dapat memicu konflik keuangan dalam keluarga. Namun demikian, sudahkah kamu memahami berbagai hal yang dapat memicu terjadinya konflik keuangan dalam keluarga?

Enggan Terbuka Soal Masalah Keuangan

Pembicaraan mengenai uang kerap dianggap sebagai sesuatu yang tabu bagi sebagian besar orang, termasuk masyarakat Indonesia. Padahal, berbagai masalah dalam ranah keluarga kerap terjadi akibat hal-hal yang berkaitan dengan aset atau uang. Adanya kasus terkait pembagian warisan yang berujung pada tindakan kriminal menjadi salah satu buktinya. Selain itu, tindakan meminjam nama anggota keluarga untuk meminjam uang di bank juga bisa memicu masalah di kemudian hari. Terlebih apabila ternyata pembayaran atas pinjaman tersebut tidak berjalan lancar, namun tidak dikomunikasikan lebih jauh dengan yang bersangkutan.  

Perbedaan Gaya Hidup

Gaya hidup yang berbeda sebelum menikah bisa menjadi salah satu alasan timbulnya konflik keuangan. Misalnya saja sebelum menikah, kamu memiliki gaya hidup yang terbilang hemat dan lebih banyak menabung karena memang diajarkan oleh orang tua untuk hidup sederhana, sehingga ketika lepas dari orang tua, lebih memilih untuk memasak sendiri daripada makan di luar. Sementara itu, pasanganmu justru memiliki gaya hidup yang boros dan memegang prinsip “you only live once” sehingga ia dengan mudah mengeluarkan uang. Ia tidak mau susah, untuk makan saja ia tidak mau masak karena repot dan memilih makan di restoran.

Dua orang yang dibesarkan dengan cara yang berbeda memang tak jarang menimbulkan gesekan ketika akhirnya hidup dalam satu atap. Ketika dua gaya hidup yang berbeda disatukan bisa timbul konflik karena masing-masing orang harus beradaptasi dengan gaya hidup pasangannya yang berbeda dengan dirinya.

Jumlah Pendapatan Berbeda

Jumlah pendapatan yang berbeda juga bisa menjadi salah satu penyebab konflik karena adanya rasa terbebani, rendah diri atau iri hati. Di Indonesia, suami berpenghasilan yang tinggi dan istri tidak bekerja atau memiliki penghasilan yang rendah adalah hal yang biasa. Ketika hal tersebut dibalik dimana istri memiliki penghasilan yang lebih tinggi, bahkan menjadi tulang punggung keluarga dan suami tidak memiliki penghasilan, biasanya sang suami akan merasa rendah diri. Sebenarnya tidak ada masalah siapa yang menjadi tulang punggung keluarga, siapa yang memiliki penghasilan lebih tinggi karena pada akhirnya uang yang didapatkan tersebut akan digunakan bersama-sama.

Tidak Melakukan Perencanaan Keuangan

Dengan merencanakan keuangan, setidaknya sudah bisa diketahui seberapa banyak uang yang harus disimpan untuk asuransi, pendidikan anak, dana darurat, hingga tabungan untuk hari tua. Tanpa adanya rencana keuangan, tidak sedikit keluarga yang gagal memenuhi kebutuhan dan menyebabkan timbulnya konflik. Apalagi di era digital seperti sekarang, masyarakat dimanjakan dengan segala kemudahan untuk berbelanja. Namun kemudahan tersebut hanya menjadi bumerang karena membuat hidup lebih boros. Sedikit saja melihat barang promo, diskon gede-gedean, mata akan menjadi kalap dan jari akan lebih lincah memasukkan barang-barang ke cart dan membelinya melalui mobile banking.

Menghindari Konflik Keuangan

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan ketika ingin menghindari konflik keuangan, namun yang paling penting adalah perencanaan keuangan. Bisa dimulai dengan melakukan assessment seperti mengenali berapa jumlah tanggungan dalam keluarga. Apakah hanya menanggung keluarga inti saja yaitu pasangan dan anak atau juga menanggung orang tua serta saudara? Kemudian bagaimana dengan pekerjaan, apakah hanya satu orang saja yang bekerja atau dua orang. Apakah pekerjaan tersebut beresiko atau tidak, ada asuransi yang di cover oleh perusahaan atau tidak. Hal semacam ini tentu bersifat personal lantaran berkaitan dengan kebutuhan dari masing-masing keluarga.

Setelah melakukan assesment dan sanggup mengetahui profil risiko keuangan, pahami pula current financial statement berupa kondisi keuangan baru-baru ini. Bisa dimulai dengan melihat pengaturan pengeluaran dan pemasukan, apakah penghasilan yang didapatkan seimbang dengan pengeluarannya? Apakah memiliki cicilan seperti cicilan rumah, cicilan mobil, atau motor? Apakah memiliki investasi atau tidak? Seberapa besar alokasi untuk simpanan atau tabungan, dan sebagainya. Semua ini perlu dibicarakan bersama pasangan. Ambillah waktu dihari libur atau weekend khusus untuk membicarakan hal tersebut. Karena yang namanya hubungan dengan orang lain termasuk terkait dengan masalah keuangan, hal yang paling utama adalah komunikasi dan terbuka dengan pasangan.

Yang tidak kalah penting selain komunikasi adalah mindset seseorang terhadap pengelolaan keuangan karena hal tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap sukses atau tidaknya proses menuju kebebasan finansial. Jika kamu atau pasanganmu memiliki mindset yang salah terkait keuangan seperti “uang ada untuk digunakan, bukan untuk disimpan” atau “tidak perlu menabung, yang namanya rejeki pasti ada karena sudah digariskan oleh Tuhan”, pikirkan kembali lantaran kita tidak hanya hidup hari ini, melainkan juga harus mampu bertahan untuk masa depan. Apabila sudah memiliki mindset yang tepat, jalan menuju keuangan yang sehat akan lebih mudah.

https://jouska.financial/mustreadpage.html#galleryModal-event (The Basic Triangle of Personal Finance)