Kodrat manusia sebagai manusia sosial membuat manusia tidak bisa hidup secara individual. Nyaris tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa manusia lain. Hal ini lebih terasa bagi mereka yang hidup di lingkungan sosial yang erat. Hofstade dalam teorinya membagi tingkat sosial dari sebuah Negara kedalam beberapa kategori, dan seperti yang di duga Indonesia masuk kedalam kategori Negara yang kolektivis. Negara kolektivis ini mencerminkan bahwa hubungan sosial antar masyarakatnya sangat erat, sederhananya di negara ini masyarakatnya suka kongko atau nongkrong. Ketika kita bicara terkait hubungan sosial antar individu ada aspek biaya di sana yang sering disebut dengan biaya sosial. Nah oleh karena itu Imaos.id kali ini akan membahas biaya-biaya sosial yang sering muncul dalam kehidupan bersosial kita, dan kami sajikan dalam tabel biaya-biaya sosial yang sering muncul berikut.

Tabel Biaya-biaya sosial yang sering muncul

Pengeluaran sosial yang terjadwal Besaran
Iuran komplek Rp 80,000
Iuran sampah Rp 30,000
Iuran keamanan Rp 25,000
Jimpitan Rp 15,000
Total Rp 150,000
Pengeluaran sosial yang tidak terjadwal Besaran
Sumbang manten Rp 100,000
Tengok bayi Rp 100,000
Sunatan Rp 100,000
Tengok tangga/kerabat sakit Rp 50,000
Melayat Rp 100,000
Menjadi tuan rumah acara kenduri Rp 500,000
Sumbangan kegiatan Komplek (Seperti 17an) Rp 50,000
Total Rp 1,000,000

*Sumber dari survei dengan beberapa kepala keluarga di D.I.Yogyakarta

Melalui tabel biaya-biaya sosial yang sering muncul di atas kami membagi jenis pengeluaran menjadi dua bagian, yaitu pengeluaran sosial yang terjadwal dan yang tidak terjadwal. Kedua kategori itu akan di jelaskan selanjutnya.

Biaya sosial yang sering muncul dan terjadwal

Biaya sosial yang sering muncul dan terjadwal merupakan biaya yang muncul bulanan. Berdasarakan survai kecil yang dilakukan oleh tim Imaos.id ada beberapa pos pengeluaran umum yang muncul pada kategori ini. Biaya yang sering dikeluarkan keluarga untuk kategori ini meliputi biaya iuran komplek, iuran sampah komplek, iuran keamanan dan jimpitan.

Untuk masalah besaran semua tergantung dari lokasi tepat tinggal fams. perumahan elit dan perumahan yang biasa saja pasti berbeda untuk besaran iuran ini. Angka yang kami ambil adalah angka rerata yang disebutkan oleh responden kami yang tergolong keluarga menengah. Berdasarkan data dari tabel biaya-biaya sosial yang sering muncul, untuk kategori yang terjadwal fams sebaiknya menyiapkan alokasi dana Rp 150.000.

Biaya sosial yang sering muncul kategori tidak terjadwal

Pada tabel biaya-biaya sosial yang sering muncul ada kategori pengeluaran yang tidak terjadwal. Biaya yang tidak terjadwal ini memiliki besaran yang cukup besar. Pada tabel di atas kami memberikan ilustrasi pengeluaran dalam satu bulan dan satu kali pengeluaran dalam satu bulan tersebut. Angka tersebut seperti sumbangan manten dan melayat bisa berubah berdasarkan intensitas dan besaran berbeda yang tergantung kelegowoan fams.

Biaya sosial tidak terjadwal yang menyita alokasi paling besar adalah untuk acara kenduri. Di beberapa tempat masih ada yang melakukan budaya kenduri ini, khususnya di daerah Yogyakarta. Angka Rp 500.000 ini kami dapat dengan asumsi jumlah orang yang hadir dalam acara tersebut antara 10-20 orang. Untuk fams yang tinggal di daerah yang tidak kuat budaya kendurinya mungkin biaya ini bisa diabaikan saja fams ya.

Biaya sosial yang tidak terjadwal ternyata malah memerluhkan alokasi biaya yang besar. Berdasarkan data yang kami sajikan pada tabel, fams sebaiknya menyiapkan anggaran sebesar Rp 1.000.000 untuk pos pengeluaran ini. Sekali lagi angka ini akan berbeda jika fams tinggal di kota lain selain Yogyakarta. Meski angka berbeda namun untuk pos pengeluarannya akan mirip-mirip sih fams.

Pengelolaan biaya-biaya sosial yang sering muncul

Melalui tabel biaya-biaya sosial yang sering muncul, fams dapat melihat bahwa biaya sosial ini memerlukan alokasi pengeluaran yang tidak sedikit. Oleh karenanya diperlukan persiapan-persipan untuk hal tersebut supaya tidak mengganggu keuangan keluarga fams.

Fams dapat memulainya dengan mendata pengeluaran-pengeluaran sosial fams, setelah itu fams dapat menentukan besaran yang akan fams keluarkan untuk setiap pos pengeluaran biaya sosial keluarga fams. dengan demikian fams akan memiliki rancangan pengeluaran biaya sosial.

Setelah fams memiliki rancangan pengeluaran biaya sosial fams akan lebih mudah dalam menyiapkan dana terkait hal tersebut. Meskipun pengeluaran sosial merupakan sesuatu yang dinamis, ketika fams sudah memiliki rencana pengeluaran dana sosial maka fams akan lebih mudah dalam melakukan penyesuaian baik dari sisi pemasukan dan besara pengeluaran. Perlu di ingat fams rencana pengeluaran itu bukan sesuatu yang saklek, namun sesuatu yang terbuka untuk di sesuaikan jika pada kenyataannya berbeda.

Perencanaan pengeluaran biaya sosial

Jadi rencana pengeluaran sosial ini ibaratnya “ancer-ancer” atau patokan ketika fams mengelola keuangan keluarga fams. Sederhanannya fams tidak kaget ketika pengeluaran fams membengkak, karena sudah memiliki bayangan akan adanya biaya-biaya yang sering muncul.

Meskipun biaya-biaya sosial yang sering muncul menambah pos pengeluaran keluarga, namun hal ini akan memiliki return yaitu modal sosial. Terjalinnya hubungan sosial yang baik dengan sekitar akan memberikan fams banyak kemudahan nantinya. Ya minimal kalau kunci rumah fams tertinggal di pintu rumah tetangga fams bakal memberitahu fams, bahkan bisa juga disimpankan. Selamat merancang rencana pengeluan biaya-biaya sosial yang sering muncul ya fams…