Penulis: Bernadeta Diana

Melibatkan diri dalam kegiatan investasi sejak usia muda sepintas terdengar sebagai keputusan tepat. Apapun bentuk investasinya, kegiatan ini menjanjikan keuntungan yang dapat diperoleh tanpa perlu bekerja keras apabila dilakukan berdasarkan riset dan pertimbangan yang tepat. Namun demikian, benarkah keputusan untuk melakukan investasi benar-benar perlu dilakukan dengan segera? Terlebih ketika generasi milenial sudah memiliki penghasilan tetap dan tidak lagi menjadi tanggungan orang tua?

Mendefinisikan Kesejahteraan Pribadi

Keputusan generasi muda untuk melakukan investasi tentu perlu disertai dengan kesadaran penuh perihal kesejahteraan diri sendiri. Sebelum memutuskan investasi macam apa yang paling sesuai, kesejahteraan pribadi tentu perlu diraih terlebih dahulu. Istilah sejahtera secara umum dapat dipahami sebagai sebuah kondisi ketika seseorang merasa hidup aman, makmur, serta terlepas dari beragam gangguan.

Definisi kesejahteraan pribadi pun tentunya berbeda bagi masing-masing orang. Secara sederhana, seseorang dapat dikatakan sejahtera apabila kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Sebagaimana dipahami oleh kebanyakan orang, kebutuhan dasar terdiri dari sandang, papan, serta pangan. Belum lagi kebutuhan sosial, hobi, serta hiburan yang tak kalah penting sebagai reward bagi diri sendiri usai lelah bekerja. Selain mengalokasikan dana untuk kebutuhan dasar tersebut, sebagian generasi muda yang sudah bekerja juga masih perlu menyisihkan sebagian pendapatannya bagi orang tua.

Kesejahteraan pribadi hanya dapat diraih apabila generasi muda sudah benar-benar mampu mengalokasikan penghasilannya secara tepat sasaran. Artinya, perencanaan keuangan senantiasa didasari oleh skala prioritas sebagai bahan pertimbangan personal. Apabila kamu belum benar-benar mampu mengenali dan mencapai kesejahteraan pribadi, lebih baik pikirkan kembali untuk berinvestasi.

Mengalokasikan Dana Darurat

Sesudah mampu mendefinisikan serta memenuhi kesejahteraan pribadi, mengalokasikan penghasilan untuk dana darurat juga tak kalah penting. Dana darurat sendiri merupakan sekian persen dari penghasilan yang dialokasikan untuk hal-hal mendesak di luar pengeluaran rutin. Misalnya untuk keperluan berobat saat sakit atau biaya perbaikan rumah saat terjadi kerusakan akibat bencana alam. Terlebih apabila kamu sudah menikah atau memiliki tanggungan lainnya seperti anak, adik, serta orang tua. Menjadi mandiri secara finansial tentu perlu disertai dengan kesadaran penuh akan berbagai kemungkinan buruk yang membutuhkan biaya di masa depan.

Bagi kamu yang sudah bekerja di perusahaan, bentuk pengalokasian dana darurat tampak pada pemotongan gaji untuk kepentingan iuran jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan. Namun demikian, mengalokasikan dana khusus untuk hal-hal mendesak dalam rekening pribadi tetap diperlukan. Menyisihkan pemasukan untuk kepentingan darurat dalam rekening pribadi memudahkan kamu untuk dapat mengambilnya dengan segera sewaktu diperlukan.

Membuat rekening khusus untuk menyisihkan dana darurat dapat menjadi salah satu upaya untuk mendisiplinkan diri dalam mengatur keuangan. Salah satu kesalahan yang umumnya dilakukan oleh milenial adalah kurangnya ketegasan dalam dalam mengatur penggunaan uang pada masing-masing rekening yang dimiliki. Ketika memutuskan membuat rekening khusus untuk keperluan dana darurat, kamu tidak boleh menggunakan rekening tersebut untuk “menambal” pengeluaran harian. Artinya, usai menerima gaji, pastikan dulu seluruh kewajiban kamu terpenuhi. Termasuk menyisihkan nominal tertentu untuk pengeluaran rutin seperti uang makan dan transportasi. Pembiasaan semacam ini tentu membutuhkan penyesuaian di sana-sini sehingga hanya kamu sendiri yang paham seberapa besar dana darurat yang mungkin disisihkan di rekening terpisah.

Mengenali Risiko dan Beragam Instrumen Investasi

Secara umum, investasi dipahami sebagai kegiatan penanaman sejumlah uang atau modal pada perusahaan maupun proyek demi memperoleh keuntungan di masa mendatang. Kegiatan investasi sendiri kadang kala dilakukan di luar kegiatan usaha utama sehingga kerap tidak mendapatkan perhatian penuh. Idealnya, investasi baru dapat dilakukan ketika memang kamu sudah mampu mengenali pola pemasukan dan pengeluaran rutin serta mengalokasikan dana khusus untuk hal-hal darurat. Singkatnya, kondisi keuangan kamu harus stabil sehingga kemudian mampu menyisihkan uang untuk keperluan investasi.

Usai memastikan bahwa kondisi keuanganmu sudah stabil, kenali beragam instrumen investasi yang beredar di pasaran berikut risikonya. Misalnya saja kamu memutuskan untuk melakukan investasi di bidang properti dengan membeli sebidang tanah atau bangunan di lokasi strategis. Mengingat harga tanah serta bangunan yang cenderung naik, investasi di bidang ini diharapkan mampu menghasilkan keuntungan di masa mendatang.

Keputusan generasi muda untuk berinvestasi di bidang properti tentu perlu disertai dengan pertimbangan matang. Dilansir dari Kompas.com , selain mempertimbangkan lokasi, seorang investor juga perlu mengenali reputasi pihak pengembang. Tengok saja contoh kasus Meikarta yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Keputusan untuk melakukan investasi di bidang properti juga perlu mempertimbangkan biaya perbaikan serta perawatan properti tersebut. Hal ini lantaran properti merupakan salah satu instrumen investasi yang bersifat jangka panjang.

Instrumen investasi lain yang tak kalah populer adalah berupa deposito. Dilansir dari Kompas.com , deposito merupakan instrumen investasi jangka pendek yang dianggap aman lantaran pengelolaannya diserahkan pada pihak bank. Akan tetapi, investasi dalam bentuk ini tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu lantaran adanya masa simpanan tertentu yang harus disepakati. Pengambilan dana sebelum masa investasi berakhir akan berakibat pada pemotongan dana sesuai kesepakatan antara investor dengan pihak bank.

Referensi:

https://money.kompas.com/read/2019/03/16/094000626/ini-tips-dan-pilihan-investasi-yang-cocok-buat-anak-muda?page=all
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/06/132100826/perhatikan-5-hal-ini-sebelum-investasi-properti