Anak penyandang tunagrahita adalah kondisi disabilitas dimana anak memiliki keterbatasan dalam fungsi intelektual yang meliputi kecerdasan penalaran, kemampuan belajar, keterampilan kognitif, dan penyelesaian masalah.

Kondisi ini membuat penyandang tunagrahita lebih lambat belajar dibandingkan anak-anak sehat pada umumnya. Tidak hanya itu, mereka juga kurang cakap dalam mempraktikkan keterampilan untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, menggosok gigi, memakai baju, mengenakan sepatu, dan sebagainya.

Meski mengalami kesulitan dalam belajar, sekolah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan para penyandang tunagrahita. Pasalnya, di sekolah, penyandang tunagrahita akan diajari banyak keterampilan untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Kendati demikian, orang tua juga tidak bisa lepas tangan begitu saja dan menyerahkan segala urusan pendidikan kepada sekolah.

Orang tua juga harus turut berperan aktif dalam membangun kemandirian anak penyandang tunagrahita. Setidaknya sampai anak menguasai keterampilan dasar, seperti cara makan, minum, mandi, berpakaian, buang air kecil, buang air besar, dsb.

Menurut Samsuri (2013), untuk membangun kemandirian anak tunagrahita dalam menjalani aktivitas sehari-hari, umumnya orang tua akan mengajarkan keterampilan  dasar dengan memperkenalkan alat atau bendanya terlebih dahulu. Setelah itu, orang tua baru mengajari anak tentang cara menggunakan alat tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni dan Gaol (2018) mencontohkan bagaimana orang tua mengajari cara makan pada anak penyandang tunagrahita. Orang tua memberikan sendok terlebih dahulu, baru kemudian mengajari cara menggunakannya.

Dalam penelitian yang dilakukan Samsuri (2013), bentuk upaya lain dalam membangun kemandirian anak penyandang tunagrahita antara lain adalah dengan mengulang instruksi, memberikan pengarahan, mencontohkan, dan memodifikasi alat.

Mengulang instruksi pada anak penyandang tunagrahita

Mengingat bahwa anak penyandang tunagrahita sangat lambat dalam proses belajarnya, mengulang instruksi sangat penting bagi orang tua untuk membangun kemandirian anak. Misalnya saat mengajarkan anak mandi sendiri, penting bagi orang tua untuk terus menerus memberitahu anak cara mandi yang benar dan bagian tubuh mana saja yang harus digosok dengan sabun agar bersih.

Pasalnya, jika instruksi hanya diberikan sekali saja, biasanya anak hanya akan menggosok bagian tubuh tertentu saja dan mengabaikan kebersihan bagian tubuh yang lain. Umumnya penyandang tunagrahita hanya akan menggosok tubuh bagian depannya saja.

Pengarahan langkah-langkah

Selain mengulang instruksi, upaya lain yang dilakukan orang tua adalah mengarahkan langkah demi langkah. Misalnya saat mengajarkan cara menggosok gigi. Orang tua tidak bisa hanya memberikan gambaran cara menggosok gigi secara umum saja, melainkan juga harus mengarahkan anak mulai dari cara memegang sikat gigi, mengeluarkan pasta gigi ke sikat gigi, menunjukkan gerak menyikat gigi dan cara berkumur.

Memberikan contoh langsung

Dalam memberikan contoh, orang tua menunjukkannya dengan melakukannya secara langsung. Misalnya saat orang tua mengajarkan cara menggunakan pakaian, orang tua langsung menunjukkan bagaimana dia menggunakan pakaian di depan anak, mulai dari cara mengenakan baju, mengancingkan baju, mengenakan celana, sampai mengikatkan tali sepatu.

Memodifikasi alat pendukung anak penyandang tunagrahita

Memodifikasi alat ditunjukkan orang tua dengan cara mengubah atau mengganti alat agar lebih mudah dan aman untuk digunakan anak penyandang tunagrahita. Misalnya saja saat mengajarkan anak menyikat gigi. Banyak orang tua mengaku bahwa anaknya sering menelan air yang digunakan untuk berkumur ketika pertama kali belajar menyikat gigi. Untuk mengatasi masalah tersebut para orang tua kemudian mengganti air mentah dengan air yang sudah matang. Bahkan ada yang mengganti air kumur dengan air hangat.

Bentuk-bentuk upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama sampai anak dapat membiasakan diri tanpa bantuan dari orang tua.

Penyandang tunagrahita mengalami kesulitan untuk cepat menangkap stimulus yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan susunan syaraf pusat. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk terus telaten dan konsisten untuk mendidik kemandirian pada penyandang tunagrahita dengan cara yang mudah dipahami, rinci, dan dilakukan secara telaten dan konsisten.

Referensi:

Anggraeni, Lina Dewi & Gaol, Elisa Lbn. 2018. Pengalaman Orang Tua dalam Memandirikan Anak dengan Tunagrahita. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 10. No 2 (2018)

Samsuri, Alian Febri. 2013. Gambaran Pengalaman Orang Tua dalam Memandirikan Anak Retardasi Mental di SLB N Surakarta. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta