Tinggal sendiri maupun tinggal bersama mertua pasti ada suka dan dukanya masing-masing. Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan tertulis bahwa tujuan dari pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Oleh karena itu, baik suami maupun istri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya, membantu, dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.

Untuk mencapai tujuan dari pernikahan, kepuasan pernikahan bagi masing-masing pasangan merupakan salah satu hal yang penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Kepuasan pernikahan adalah persepsi terhadap kehidupan pernikahan seseorang yang diukur dari besar kecilnya kesenangan yang dirasakan dalam jangka waktu tertentu (Roach dalam Pujiastuti dan Retnowati, 2004). Jika dikaitkan dengan tujuan pernikahan menurut Undang-Undang tentang Pernikahan, bisa dikatakan bahwa kepuasan pernikahan merupakan tujuan dari pernikahan itu sendiri.

Risiko tinggal bersama mertua

Adapun kepuasan pernikahan ini juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah dimana pasangan suami istri itu tinggal. Menurut psikolog keluarga, Anna Surti Ariani, MPsi, pasangan suami istri yang baru saja menikah hendaknya tinggal sendiri. Artinya tidak tinggal bersama orang tua maupun mertua. Sebab, pengantin baru sedang dalam tahap saling mengenal dan belajar untuk berhubungan satu sama lain tanpa adanya pihak lain.

Dikhawatirkan jika pasangan baru tinggal bersama mertua, salah satu pasangan baik suami atau istri tidak bisa bersikap jujur dan menjadi dirinya sendiri. Artinya salah satu pasangan ada yang merasa kurang bebas untuk menjadi dirinya sendiri, karena harus menjaga sikap ketika di depan mertua.

Sayangnya ada berbagai alasan sehingga membuat pasangan suami istri harus tinggal dengan mertua. Ada banyak alasan pasangan suami istri tinggal bersama mertua. Alasan tersebut anatara lain karena, pasangan belum memiliki rumah sendiri, membutuhkan bantuan dari mertua untuk menjaga anak, serta faktor budaya yang mewajibkan anak laki-laki tetap tinggal bersama orang tua meski sudah menikah (Surya, 2013).

Tinggal bersama mertua memiliki risiko timbulnya konflik. Umumnya konflik terjadi di antara ibu mertua dengan menantu perempuan. Menurut Savitri (dalam Surya, 2013), perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang mendasar pada pola pikir dan psikologis, dimana perempuan cenderung lebih sensitif dibandingkan dengan laki-laki.

Terlebih lagi, bagi perempuan di awal masa pernikahan merupakan fase yang penting bagi mereka. Awal pernikahan adalah fase dalam pembelajaran menjalankan peran baru sebagai istri. Oleh karena itu, keterlibatan ibu mertua dalam urusan rumah tangga seperti urusan pengasuhan anak sering menjadi pemicu konflik di antara keduanya.

Kepuasan pernikahan pada istri yang tinggal bersama mertua

Untuk mengetahui sejauh mana risiko konflik antara ibu mertua dan menantu perempuan mempengaruhi tingkat kepuasan pernikahan, Surya telah mewawancarai 60 istri yang berusia antara 23-40 tahun. Dari jumlah tersebut, 30 istri tinggal bersama mertua, sementara 30 istri lainnya tinggal sendiri bersama suaminya.

Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepuasan pernikahan di antara responden yang tinggal sendiri maupun yang tinggal bersama mertua. Bahkan jumlah responden yang tinggal bersama mertua dengan tingkat kepuasan pernikahan tinggi jumlahnya lebih banyak daripada responden yang tinggal sendiri.

Meski begitu, responden yang tinggal bersama mertua tetap menjumpai konflik dengan mertua. Terhitung 15 responden mengaku pernah berkonflik dengan mertua mereka. Namun menariknya, 15 responden yang mengaku pernah berkonflik dengan mertua justru memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi.

Faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pernikahan tetap tinggi

Hal tersebut terjadi karena saat responden berkonflik dengan mertua, sikap adil sang suami dapat meredakan konflik. Akibatnya, konflik di antara mertua dan menantu perempuan tidak terlalu mempengaruhi tingkat kepuasan pernikahan. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Purnomo (1994). Dia menyatakan bahwa ketika timbul konflik, diperlukan kehadiran suami yang bersikap adil untuk meredakan konflik.

Faktor lain yang membuat responden memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi, yakni kedekatannya dengan mertua. Sejumlah 25 responden mengaku memiliki hubungan yang dekat dengan mertua mereka masing-masing. Kedekatan tersebut terwujud dalam kegiatan yang dilakukan bersama, seperti mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan jalan-jalan.

Pada akhirnya, pasangan yang tinggal dengan orang tua/mertua dan maupun yang tidak, bisa tingkat kepuasan pernikahan yang optimal. Bagi istri-istri yang tinggal di rumah mertua disarankan untuk memahami dan menjaga hubungan baik dengan mertua demi tercapainya tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi.

Usahakan juga untuk terus menjalin komunikasi yang teratur dengan mertua, terutama terkait pembagian tugas rumah tangga dan pola asuh anak/cucu. Kehadiran suami yang selalu bersikap adil dan tidak memihak juga sangat penting sebagai peredam jika terjadi konflik di antara ibu mertua dan menantu perempuan.

Referensi:

Surya, Tjwa Fenny. 2013.  Kepuasan Perkawinan pada Ditinjau dari Tempat Tinggal. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa universitas Surabaya Vol. 2 No. 1