Anak yang ditinggal ibunya bekerja sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) tentunya akan kehilangan sosok sumber kasih sayangnya. Kehadiran orang tua tentunya memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan anak. Kehadiran orang tua diperlukan dalam memberikan perlindungan dan perhatian bagi anak, memenuhi kebutuhan sang anak, dan penanaman nilai moral.

Namun ada sejumlah alasan yang membuat orang tua harus absen dari kehidupan anak. Menurut Dr. Dono Baswardono, seorang psikoanalis dan psikoterapis keluarga dan perkawinan, ada 6 macam ketidakhadiran orang tua pada anak.

6 macam ketidakhadiran orang tua

Pertama, ketidakhadiran orang tua karena lebih sering meremehkan atau tidak setuju terhadap pilihan anaknya, sehingga Si Kecil merasa tak dianggap.

Kedua, orang tua yang lebih fokus pada perasaannya sendiri, entah itu sering marah-marah atau terus bersedih dan bersikap negatif terhadap berbagai hal. Akibatnya anak lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam perasaan mereka daripada mengungkapkannya.

Ketiga, ketidakhadiran karena orang tua mengalami kecanduan. Bukan hanya kecanduan obat, tetapi berbagai bentuk kecanduan lainnya, seperti kecanduan menonton film seri atau sinetron, kecanduan merokok, atau kecanduan bekerja. Kencanduan ini akan membuat orang tua lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan hal yang membuatnya kecanduan, daripada bermain bersama anak.

Keempat, orang tua yang tidak hadir karena mereka melakukan kekerasan fisik dan mental terhadap anaknya. Akibatnya, anak tidak merasa mendapatkan perlindungan yang layak dari orang tuanya.

Kelima, ketidakhadiran akibat pola asuh yang serba membolehkan atau tidak konsisten, dan tidak membiarkan anak menanggung konsekuensi atas perbuatannya sendiri. Inkonsistensi gaya pengasuhan di antara orang tua dapat membuat anak ragu-ragu dalam mengambil keputusan, tidak bisa mempercayai dirinya sendiri, dan sulit mempercayai orang lain.

Terakhir, yang merupakan ketidakhadiran yang paling jelas adalah, karena salah satu orang tua (ayah atau ibu) atau keduanya memang tidak hadir secara fisik. Misalnya karena orang tua terpaksa merantau meninggalkan anak sehingga harus tinggal secara terpisah, atau meninggal dunia.

Untuk poin yang terakhir, banyak sekali dialami oleh anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri, seperti Tenaga Kerja Wanita (TKW). Tidak merasakan kehadiran seorang ibu secara fisik tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap anak.

Ibu sebagai figur terdekat bagi anak

Selama ini ada anggapan bahwa figur terdekat bagi seorang anak adalah ibunya. Mengutip Rutter, Amalia (2011) mengungkapkan bahwa berdasar bukti-bukti empiris bahwa kasih sayang ibu merupakan satu syarat untuk menjamin suatu perkembangan psikis anak yang sehat. Namun, ia menambahkan kebutuhan kasih sayang ini tidak harus berasal dari ibu kandung, melainkan dapat dari orang-orang lain, misalnya dari ayah, nenek, kakek, atau orang lain pengganti ibu.

Amalia (2011) telah mewawancarai beberapa anak yang ditinggal ibunya bekerja di luar negeri sebagai TKW. Sebagian besar dari mereka mendapatkan sosok pengganti ibu dari kerabat yang masih memiliki hubungan darah. Namun ada juga yang merasa bahwa kasih sayang dari seharusnya ia dapatkan dari ibu atau keluarga dekat lainnya justru ia dapatkan dari orang yang tidak memiliki hubungan darah.

Kakak perempuan sebagai sumber kasih sayang dan perhatian bagi anak TKW

Kakak sebagai sosok pengganti ibu dirasakan oleh responden berinisial H. H ditinggal ibunya pergi ke luar negeri saat usianya masih 4 tahun. Pada saat itu sama sekali tidak merasa sedih, karena saat itu dia tidak memahami perpisahan tersebut. Namun setelah beranjak dewasa sedih dan kehilangan sosok ibu.

H tinggal bersama ayah dan kakak perempuannya. Karena itu kakak perempuannya menjadi sosok yang paling dekat dengan H. Dari sang kakak, H mendapatkan perhatian, layaknya perhatian seorang ibu. Selain itu, H juga merasa bahwa kakak perempuannya yang menjadi tempatnya bercerita tentang segala keluh kesah yang dia rasakan.

Bahkan H merasa bahwa dirinya merasa bahwa hubungannya terasa lebih dekat daripada hubungannya dengan ayah atau ibunya.

Ayah sebagai sumber kasih sayang dan perhatian

Ayah sebagai sosok pengganti ibu dirasakan oleh responden berinisial P. Saat ditinggalkan ibu pertama kali, P merasa sedih. Namun, kehadiran sosok ayah yang mampu memerankan sosok ibu, dapat membantu P menghadapi kesedihan, rasa kehilangan dan kerinduan yang ia rasakan karena kepergian ibunya.

Komunikasi dengan ibu juga berjalan baik. Ibunya selalu menelpon minimal seminggu dua kali dan sering mengirimkan SMS untuk P. Hal itu membuat P berangsur-angsur bisa mengatasi kesedihan dan tetap merasakan kedekatan dengan sang ibu, meskipun terpisah jarak.

Selain itu, Ayah P bisa memainkan peran ibu di rumah. Semenjak kepergian ibunya, segala sesuatu keperluan P ditangani oleh ayahnya. Jika P menghadapi masalah sehari-hari, ia akan meminta bantuan pada ayahnya. Peran ayah P dalam keluarga ini memegang peran pengasuh utama karena ketidakhadiran ibu.

Kakek dan Nenek sebagai kasih sayang dan perhatian anak TKW

Kebutuhan kasih sayang yang didapatkan dari kakek dan nenek karena ibu bekerja sebagai TKW dirasakan oleh responden berinisial D. Sebelum ditinggalkan ibunya untuk bekerja sebagai TKW, D sebelumnya juga sudah pernah ditinggal ibunya bekerja di Jakarta. Sementara itu dia tinggal bersama kakek dan neneknya di Ponorogo.

D tidak hanya kehilangan sosok ibu saja, melainkan juga kehilangan sosok ayahnya, yang juga meninggalkannya karena pekerjaan. Beruntung, sang kakek bisa mencurahkan kasih sayang dan perhatian pada D sehingga ia bisa merasakan kasih sayang.

Meski begitu, D merasa bahwa sosok yang paling memahami dirinya adalah sang ibu. Namun karena terpisah jarak, ia merasa ibu kurang terlibat dalam masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. Perhatian dan bantuan lebih banyak ia dapatkan dari sang kakek yang memang menemani D sehari-hari. Selain itu untuk curhat, D lebih mempercayai teman dan saudara sepupu yang umurnya sebaya. 

Sahabat sebagai sumber kasih sayang dan perhatian

Sebagian besar anak yang ditinggalkan ibunya untuk bekerja sebagai TKW mendapatkan kebutuhan kasih sayangnya dari kerabat dekat yang terhitung masih memiliki hubungan darah. Namun responden yang berinisial A ini justru merasa bahwa kasih sayang yang ia butuhkan justru ia dapat dari orang luar, yaitu sahabatnya.

A ditinggalkan ibunya untuk bekerja di Taiwan ketika usianya masih lima tahun. Tentunya perpisahan itu membuat A merasa sedih dan kehilangan. Sejak saat itu dia tinggal dengan ayah, kakek, dan neneknya. Meski begitu, A merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan kasih sayang yang ia butuhkan dari ketiga sosok tersebut.

Sebenarnya A berharap bahwa ayahnya bisa memberikan perhatian dan kasih sayang yang dia butuhkan. Namun ayah yang seharusnya bisa memainkan peran ibu justru tidak begitu peduli dengan A. Selain itu, sosok kakek dan nenek yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing membuat.

Kondisi seperti itu membuat A berusaha mencari kasih sayang dan perhatian dari orang lain, yaitu sahabatnya.  Karena di rumah ia merasa kurang diperhatikan, A lebih sering menginap di rumah sahabatnya. Apalagi dia merasa mendapatkan perhatian dari orang tua sahabatnya tersebut.

Kehadiran sosok seorang ibu tentunya sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketidakhadiran seorang ibu bagi anak karena sang ibu bekerja sebagai TKW, tentunya menuntut anggota keluarga lain seperti ayah, kakak perempuan, kakek, atau nenek untuk memainkan peran ibu. Jika anggota keluarga lain tidak bisa memainkan peran sebagai sosok ibu, anak biasanya akan mencoba mencari kasih sayang dan perhatian yang ia butuhkan dari orang lain.

Referensi:

Amalia, Lia. 2011. Dampak Ketidakhadiran Ibu sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) Terhadap Perkembangan Psikologis Remaja. Kodifikasia, Volume 5 No. 1 Tahun 2011