Keluarga prasejahtera atau keluarga miskin memerlukan strategi khusus untuk merawat anak dengan penyakit kronis seperti leukemia. Selain proses pengobatan yang panjang dan menyakitkan, masalah keuangan menjadi salah satu masalah serius ketika salah satu anggota keluarga didiaognosis mengidap penyakit kronis, seperti leukemia.

Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta 2010, terdapat 215 anak yang menderita leukemia. Enam puluh persen dari total jumlah anak tersebut mengalami penolakan atau penghentian pengobatan karena masalah keuangan. Dari 60% yang melakukan penolakan proses pengobatan tersebut, 70% anak meninggal (Sitaresmi, 2010).

Namun, masih ada orang tua yang terus bertahan dengan lamanya proses perawatan anak penderita leukemia hingga tuntas meskipun berasal dari keluarga prasejahtera. Tentu fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai cara keluarga prasejahtera bisa melewati setiap hambatan dan kesulitan dalam proses pengobatan kanker.

Untuk mengetahui hal itu, Handian dkk. (2017) mewawancarai 8 orang tua dari anak pengidap leukemia yang tergolong sebagai keluarga prasejahtera. Responden dipilih dari wilayah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Bantul dan Kulon Progo.

Dalam wawancara tersebut Handian dkk. mengulik tiga hal terkait proses yang dilewati oleh keluarga prasejahtera dalam melakukan pengobatan leukemia, yaitu motivasi yang mendorong orang tua untuk tetap melanjutkan proses pengobatan, hambatan yang dihadapi saat proses pengobatan, serta strategi merawat anak pengidap leukemia.

1.Motivasi

Dari wawancara yang dilakukan oleh Handian dkk. (2017), motivasi terbesar bagi orang tua untuk terus melanjutkan pengobatan sampai tuntas adalah keinginan untuk melihat anaknya sembuh. Keinginan tersebut mendorong mereka untuk melakukan upaya yang mereka bisa untuk menyembuhkan anaknya.

Selain keinginan untuk melihat anak sembuh, keyakinan terhadap proses pengobatan medis dalam menyembuhkan leukemia menjadi salah satu alasan mengapa keluarga prasejahtera tetap melanjutkan proses pengobatan sampai tahun kedua.

Motivasi juga didapatkan dari komunitas penderita kanker. Mendengar pengalaman dan motivasi dari sesama penderita leukemia yang sudah sembuh dapat meningkatkan semangat orang tua untuk melanjutkan pengobatan terhadap anak.

Terakhir, yang menjadi motivasi orang tua untuk terus melanjutkan proses pengobatan anaknya adalah rasa kasih sayang. Perasaan itu membuat orang tua tidak ingin kehilangan anaknya. Rasa kasih sayang tersebut diungkapkan orang tua dalam bentuk upaya untuk tetap berobat meskipun banyak kesulitan yang dihadapi.

2. Kendala

Ketika mendampingi anak dalam proses pengobatan, para orang tua mengaku banyak menghadapi berbagai macam kendala. Kendala tersebut antara lain adalah keterjangkauan lokasi, keuangan, dan emosi.

a. Keuangan

Semua orang tua mengeluhkan tentang kendala dana yang harus dikeluarkan untuk pengobatan anak. Di sisi lain, banyak ayah yang jadi tidak bekerja karena waktunya digunakan untuk ikut merawat anak selama di rumah sakit. Perubahan status pekerjaan ini mengakibatkan terbatasnya sumber dana yang dimiliki sehingga orang tua harus berusaha untuk mencari sumber dana baru.

Pemanfaatan asuransi dari pemerintah maupun swasta terkadang tidak cukup untuk meringankan beban keuangan keluarga. Pasalnya, pihak asuransi hanya membayar biaya pengobatan sebesar 29%. Artinya, 71% biaya pengobatan harus dibayar sendiri (Balitbangkes, 2008). Jumlah biaya yang harus dibayarkan di luar biaya asuransi inilah yang memberatkan keluarga prasejahtera.

Beberapa orang tua menyampaikan bahwa keseluruhan biaya yang dikeluarkan selama 2 tahun perawatan sekitar 30-50 juta rupiah. Bahkan 1 orang tua mengaku telah menghabiskan lebih dari 50 juta rupiah, karena lebih sering menggunakan jasa taksi untuk mengantar anak kemoterapi. Satu orang tua lain mengaku telah menghabiskan lebih dari 200 juta rupiah selama dua tahun proses pengobatan. Mereka menghabiskan lebih banyak uang untuk mencari obat tambahan yang berkualitas agar anak lekas sembuh. Selain itu, karena anak mereka juga mengalami infeksi paru yang berkepanjangan, mereka harus mengeluarkan biaya pengobatan tambahan.

b. Keterjangkauan dan Lokasi

Selain keuangan, kendala lainnya meliputi keterbatasan aksesibilitas pelayanan kesehatan dan sulitnya mendapatkan fasilitas transportasi umum. Apalagi, 4 keluarga berasal dari Kabupaten Gunung Kidul, yang merupakan daerah perbukitan kapur. Menurut Suryatmojo (2006), permasalahan yang muncul pada daerah perbukitan kapur seperti di Gunung Kidul adalah kekeringan, kekurangan air, kualitas sumber daya air, rendahnya pendapatan, serta kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia. Lebih lanjut, kondisi alam yang berbukit-bukit mempersulit akses ke luar daerah.

c. Stres

Proses pengobatan kanker relatif sangat panjang dan menyakitkan. Untuk bisa sembuh total, pengidap kanker harus melewati proses pengobatan selama 2-2,5 tahun. Maka tidak mengherankan jika hal itu juga berpengaruh pada kondisi emosi orang tua.

Para orang tua mengungkapkan adanya perubahan emosi pada anak baik sebelum dan sesudah masa pengobatan. Seringkali anak menjadi lebih mudah marah dan mengamuk. Bahkan anak sering minta semua keinginannya dipenuhi. Misalnya saja saat dia menginginkan mainan baru, maka pada saat itu juga orang tua harus mengabulkan keinginannya.

Salah satu orang tua bercerita, “Dulu itu anak ini sepertinya sabar, terus setelah mulai kemoterapi itu nganu, apa itu, emosinya tidak terkontrol, sering marah-marah, dan segala keinginannya harus dipenuhi.

Belum lagi, orang tua juga harus menghadapi saudara kandung pasien yang iri, karena merasa kurang mendapat perhatian selama orang tua merawat anak yang sakit. Hal itu membuat orang tua mendapat tekanan yang lebih besar dalam proses merawat anak yang terkena leukemia.

3. Strategi orang tua dalam merawat anak penderita leukemia

Tidak diragukan lagi jika selama proses perawatan anak pengidap leukemia, orang tua banyak menghadapi kendala, mulai dari masalah keuangan, keterjangkauan, dan stres. Namun tentunya ada sejumlah cara atau strategi yang ditempuh para orang tua untuk terus melanjutkan proses pengobatan.

a. Strategi orang tua untuk mengatasi masalah keterjangkauan

Untuk mengatasi sulitnya transportasi menuju rumah sakit, para orang tua mencari transportasi alternatif, misalnya dengan menggunakan ojek sepeda motor atau dengan menyewa mobil. Sementara itu, ada pula orang tua yang menginap di yayasan kanker, tinggal di rumah indekos atau penginapan yang lebih dekat dengan rumah sakit. Bahkan ada yang menginap di selasar rumah sakit.

b. Strategi orang tua untuk mengatasi masalah keuangan

Untuk menanggulangi biaya pengobatan leukemia yang relatif besar, para orang tua mengatasinya dengan meminta bantuan donatur, baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga. Para orang tua juga berupaya meminta bantuan dari instansi-instansi pemerintah untuk mendapatkan program bantuan dana kesehatan. Selain mencari bantuan dari donatur dan instansi pemerintah, para orang tua juga mencari tambahan penghasilan di luar pekerjaan utama mereka.

c. Perubahan peran anggota keluarga

Dalam wawancaranya dengan para orang tua, Handian dkk. (2017) menemukan keluarga yang mengalami perubahan peran dalam rumah tangga. Misalnya, tugas merawat anak yang sehat dilakukan oleh nenek, kakek, atau kakaknya. Kemudian peran ayah yang biasa bertugas mencari nafkah, selama anak dirawat di rumah sakit digantikan oleh keponakan atau paman. Pada dasarnya, pengalihan peran ini dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan keseimbangan struktur keluarga.

d. Upaya spiritual

Para orang tua berpandangan bahwa penyakit yang diderita oleh anak berasal dari Tuhan, maka untuk menyembuhkan juga perlu memohon kepada Tuhan. Upaya ini dilakukan orang tua dengan mengadakan kegiatan keagamaan misalnya berdoa, tahlilan atau yasinan.

Orang tua juga mengakui bahwa setelah melakukan kegiatan yang bersifat keagamaan, mereka jadi merasa lebih lega dan tenang. Selain itu, setelah berdoa para orang tua juga merasa seperti diberi kekuatan dan mampu melakukan segala upaya untuk menyembuhkan anaknya.

Mendengar anak didiagnosis penyakit kronis seperti leukemia tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga, khususnya orang tua. Ditambah lagi, proses penyembuhan yang relatif panjang dan biaya yang tidak sedikit, kadang membuat para orang tua. terutama dari keluarga prasejahtera, merasa putus asa. Bahkan ada di antaranya yang menghentikan pengobatan. Kendati demikian, masih ada jalan untuk melanjutkan pengobatan sampai anak sembuh total, seperti meminta bantuan dana pengobatan ke pemerintah atau instansi swasta, terlibat dalam komunitas pengidap kanker, dan memperkuat aspek spiritual.

Referensi:

Handdian, Feriana Ira., Widjajanto, Pudjo Hagung., dan DW, Sumarni. 2017. Motivasi, Hambatan, dan Strategi Orangtua Keluarga Miskin dalam Merawat Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut (LLA). Jurnal Care Vol .5, No.1,Tahun 2017