Pesatnya perkembangan teknologi digital berpengaruh besar terhadap pola perilaku masyarakat hingga spiritualitas anak. Contoh perubahan yang paling mudah dilihat adalah pola kerja. Sebelum adanya internet, seseorang harus berangkat ke kantor atau ke pabrik untuk melaksanakan tugasnya sebagai pegawai.

Meski kegiatan berangkat ke kantor atau pabrik tidak sepenuhnya hilang, namun hal itu mulai berkurang. Kini orang bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dari lokasi manapun selama masih terhubung dengan jaringan internet.

Berbelanja pun juga begitu. Perkembangan teknologi informasi membawa manusia pada pengalaman berbelanja ke level yang berbeda. Sekarang orang bisa membeli barang dari luar negeri hanya dengan mengoperasikan ponselnya.

Dengan kata lain, perkembangan teknologi informasi punya pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku masyarakat yang berkaitan dengan hal-hal keduniawian. Dengan begitu, kita bisa berasumsi bahwa perkembangan teknologi itu juga memiliki pengaruh terhadap spiritualitas masyarakat.

Spiritualitas sendiri sering dikaitkan dengan agama. Namun sebenarnya spiritualitas dan agama merupakan konsep yang berbeda. Secara sederhana, agama adalah suatu sistem kepercayaan pada kekuatan ilahi atau kekuatan besar, dan praktik-praktik ibadah atau ritual lain yang ditujukan pada kekuatan yang tak terlihat, seperti Tuhan (Zinnbauer dan Pargament, 2005). Meski memiliki konsep yang berbeda, namun dalam praktiknya beragama melibatkan aspek spiritualitas.

Sedangkan spiritualitas dapat dipahami sebagai proses pencarian makna, tujuan, moralitas, kesejahteraan dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan realitas yang hakiki (Amir & Lesmawati, 2016).

Spiritualitas ada di dalam sanubari setiap manusia, termasuk anak-anak. Spiritualitas juga tidak terikat pada suatu agama. Orang yang tidak memeluk agama apapun tetap memiliki spiritualitas. Untuk lebih memahami bagaimana anak bisa memiliki pengalaman spiritual bisa dibaca di sini (link to Memaknai Spiritualitas pada Anak).

Kecerdasan Spiritualitas Anak

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, untuk menempatkan perilaku dan tindakan dalam hidup (Zohar dkk, 2000). Individu yang cerdas secara spiritual mampu menghubungkan persoalan hidup dengan makna kehidupan secara spiritual.

Kecerdasan spiritual dapat mempengaruhi sikap seseorang, terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, dengan baik dan benar, berdasarkan pertimbangan nurani.  Menurut Khavari (2000), tingkat kecerdasan spiritual seseorang dapat dilihat dari tiga indikator.

1. Sudut Pandang Relasi Vertikal

Relasi vertikal mengacu pada kedalaman hubungan seseorang dengan sang pencipta. Contoh dari relasi vertikal adalah saat seseorang berdoa serta rasa syukur yang dipanjatkan.

2. Sudut Pandang Relasi Sosial

Sudut Pandang ini melihat bagaimana kecerdasan spiritual seseorang memengaruhi sikap seseorang dalam kehidupan sosialnya, contohnya sikap dermawan.

3. Sudut Pandang Etika

Sudut pandang ini mengacu pada ketaatan seseorang terhadap nilai etika dan moral. Contohnya antara lain, sifat jujur, dapat dipercaya, sopan santun, dan toleransi.

Lalu bagaimana tingkat spiritualitas di era digital dilihat dari tiga indikator di atas?

Teknologi Digital dan Spiritualitas Anak

Era digital adalah istilah yang mengacu pada sebuah zaman yang ditandai oleh peralihan dari penggunaan teknologi analog ke teknologi digital. Perubahan yang paling tampak dari pergeseran teknologi ini adalah pergeseran budaya dalam penyampaian informasi. Dulu, penyebaran infomormasi dilakukan melalui media cetak (koran, majalah, tabloid) dan media elektronik (radio dan televisi), namun setelah kemunculan era digital, penyebaran informasi mulai beralih melalui media digital yang tersebar melalui jaringan internet.

Hadirnya teknologi digital memungkinkan seseorang untuk menyebar dan menerima informasi lebih cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan teknologi digital tidak hanya terbatas pada penyebaran informasi, tetapi juga untuk keperluan lain, seperti berbelanja dan bermain gim. Dengan berbagai macam kemudahan yang ditawarkan, bukan berarti teknologi digital tidak memiliki pengaruh buruk.

Degradasi moral dan spiritualitas anak karena teknologi digital

Bahkan ada anggapan bahwa penggunaan perangkat smartphone berpotensi menyebabkan degradasi etika dan moral pada sebagian orang. Contoh yang paling sederhana adalah saat perangkat smartphone yang terhubung dengan jaringan internet digunakan untuk mengakses video porno.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sekarang smartphone tidak hanya digunakan oleh remaja dan orang dewasa saja, bahkan anak-anak SD sudah memiliki smartphone-nya sendiri. Bukan tidak mungkin, penggunaan smartphone pada anak-anak berdampak buruk juga bagi anak-anak, khususnya pada aspek kecerdasaan spiritualnya.

Menurut Saputra dkk (2017), penggunaan gadget yang berlebihan pada anak usia 5-15 memiliki pengaruh buruk terhadap etika anak. Lebih dari 50% orang tua mengaku bahwa mereka mendapatkan tanggapan yang kurang baik dari anak. Anak jadi mudah marah ketika diperintah, sementara si anak sedang asyik dengan gadget. Sementara itu, 30% orang tua mengaku bahwa anaknya jadi sering berkata kasar setelah sering menggunakan gadget.

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Chusna (2017), anak usia 5 tahun yang mulai kecanduan gadget sudah berani berbohong dan mencuri-curi waktu untuk bermain gadget. Selain itu, anak cenderung bersikap membela diri dan marah ketika ada upaya untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan games.

Pengaruh terhadap etika

Dari penjelasan di atas, moral dan etika anak menjadi buruk setelah terlalu sering bermain gadget. Tindakan mereka jadi tidak sopan terhadap orang tua, mulai sering berkata kasar, serta mulai berani berbohong. Padahal moral termasuk salah satu indikator tingkat kecerdasaan spiritualitas anak, apalagi di era teknologi digital seperti sekarang.

Terkait dengan sudut pandang relasi sosial, Chusna (2017) menjelaskan bahwa kecanduan gadget membuat anak tidak lagi suka bergaul atau bermain diluar rumah dengan teman sebaya.

Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bahwa anak memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang rendah. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk selalu mengawasi penggunaan gadget pada anak. Buat aturan yang yang jelas terkait penggunaan gadget, misalnya berapa lama anak boleh bermain gadget dan kapan saat untuk bermain gadget. Bagi orang tua, usahakan untuk tidak mengandalkan gadget untuk menenangkan anaknya yang rewel.

Referensi:

Amir, Yulmaida & Lesmawati, Diah Rini. 2016. Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris Vol. 2., No. 2., 2016. Hal. 67-73

Anis, Muhammad. 2013. Spiritualitas di Tengah Modernitas Perkotaan. Jurnal Bayan, Vol. II, No. 4

Budianto, Imam. _______. Apakah Indonesia Sudah Siap Dengan Era Digital?

Chusna, Puji Asmaul. 2017. Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak. Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Sosial Keagamaan Vol. 17, No. 2

Fiah, Rifda El. 2014. Mengembangkan Potensi Kecerdasaan Anak Usia Dini Implikasi Bimbingannya. Konseli: Jurnal Bimbingan dan Konseling 01 (1) halaman 95-103