Ketika anak ditinggal merantau oleh orang tua, tentunya anak butuh sosok orang tua pengganti. Hingga saat ini, merantau kerap dilakukan oleh banyak orang guna mencari nasib yang lebih baik. Sayangnya, keputusan untuk merantau juga membuat mereka harus meninggalkan keluarganya di kampung halaman. Menurut Brown dan Grinter (2012), perantauan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap mereka yang ditinggalkan, baik bagi suami, istri, maupun anak-anak.

Brown dan Grinter juga menjelaskan bahwa anak yang ditinggal merantau oleh orang tuanya biasanya mengalami tekanan psikologis. Anak juga rentan diabaikan dan kurang mendapat perhatian. Selain itu, harapan untuk berkumpul dan tinggal bersama orang tua kadang membuat anak kehilangan konsentrasi. Sehingga performanya di sekolah menjadi menurun.

Pasangan yang ditinggalkan merantau kerap merasakan perasaan kesepian, cemas, khawatir, dan stres. Belum lagi jika pasangan ditinggalkan bersama anak. Pastinya akan ada tanggung jawab yang semakin berat. Pasangan yang menjalani LDM mungkin bisa lebih fokus dengan pekerjaannya. Namun pasangan yang tinggal dengan anaknya biasanya juga harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal (Julinda, 2009).

Kendala mengelola rumah tangga dan mengasuh anak mendorong orang tua untuk mengakalinya dengan berbagai cara, mulai dari pengalihan peran dan mencari bantuan dari orang lain.

Pembantu rumah tangga (PRT) selaku sosok orang tua pengganti

Pasangan biasanya akan mencari bantuan dengan mempekerjakan pembantu rumah tangga (PRT) untuk meringankan beban tugas rumah tangga dan mengasuh anak (Brown dan Grinter, 2012). Marthadewi dan Sari (2016) juga mengungkapkan bahwa mempekerjakan PRT biasanya dilakukan keluarga LDM, terlebih lagi bagi pasangan yang masing-masing bekerja. Tugas PRT tidak hanya terbatas pada urusan rumah tangga, seperti membersihkan rumah, memasak, dsb. PRT bahkan juga bertugas untuk mengasuh anak, entah itu menyuapi, bermain, dan membantu mereka mengerjakan PR.

Mempekerjakan PRT tentu sangat meringankan beban tugas pengelolaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Meski begitu, mempekerjakan PRT juga memiliki kekurangan. Misalnya saja, jika tugas pengasuhan dialihkan pada PRT sejak anak masih kecil, ada kemungkinan anak akan lebih dekat dengan PRT daripada orang tua kandungnya sendiri.

Selain itu, bagi anak yang ditinggal merantau pada usia remaja, kehadiran PRT atau pengasuh sama sekali tidak menggantikan kehadiran orang tua. Dalam penelitian Brown dan Grinter (2012), salah seorang responden mengatakan bahwa minimnya peran PRT membuatnya harus mengemban peran ibu karena posisinya sebagai anak sulung. 

“Karena ayah tiriku adalah seorang perwira polisi, dia sering kali tidak ada di rumah. Dan kami hanya di rumah dengan PRT dan nenekku. Sepertinya tidak ada orang dewasa di sana. Meskipun PRTku ada di sana, itu tidak sama dengan memiliki orang tua. Rasanya seperti kami sendirian. Sehingga menjadi menyedihkan setelah beberapa saat. Karena itu saya harus mengambil peran ibu dan merawat adik saya. Bagian itu sangat sulit.”

Wali Murid

Selain mempekerjakan PRT, terkadang orang tua meminta bantuan wali, baik itu yang masih terhitung kerabat maupun bukan. Wali ini akan bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Sayangnya, anak-anak yang diserahkan kepada wali yang bukan kerabat sering diperlakukan layaknya orang asing, yakni tanpa kasih sayang dan tanpa melibatkan aspek emosional.

Pengasuh atau wali yang bukan orang tua biasanya bertindak sebatas perantara saja. Ia hanya menyampaikan informasi tentang anak kepada orang tua yang merantau, misalnya mengirim rapor anak. Akan tetapi, kadang-kadang penyampaian informasi juga dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan secara finansial, seperti meminta uang untuk menutupi pengeluaran anak. 

Anak sulung mengemban peran sebagai orang tua pengganti

Brown dan Grinter (2012) juga mengemukakan bahwa dalam beberapa kasus, ada anak yang kemudian terpaksa mengambil alih peran kepala rumah tangga karena ditinggalkan orang tua. Umumnya, peran itu diambil oleh anak sulung. Artinya, anak sulung dalam keluarga tersebut terpaksa memikul tanggung jawab orang tua, seperti mengelola keuangan rumah tangga dan mengasuh adik-adiknya. 

Menyerahkan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga pada anak sulung dilakukan oleh orang tua yang merantau karena anak sulung dianggap sudah cukup dewasa. Selain itu, orang tua juga merasa tidak ada orang lain yang bisa dipercaya untuk diberi tanggung jawab untuk mengasuh anak-anak mereka.

Referensi:

Brown, Deana & Grinter, Rebecca E. 2012. Takes a Transnational Network to Raise a Child: The Case of Migrant Parents and Left-Behind Jamaican Teens. Ubicomp’ 12, Sep 5 – Sep 8, 2012, Pittsburgh, USA

Marthadewi, Roosdiana & Sari, Endah Puspita. 2016. Dinamika Kompetensi Pengasuhan pada Ibu yang Menjalani Long Distance Marriage. Prosiding Konferensi Nasional Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XIII: Penguatan Peran Perempuan Muda Menuju Indonesia Berkemajuan