Long-distance marriage atau pernikahan jarak jauh merupakan konsep yang sudah ada sejak lama. Berdasarkan catatan sejarah, tidak semua pasangan yang sudah menikah akan tinggal bersama. Seringkali pekerjaan sang suami membuatnya harus pergi meninggalkan rumah. Terdapat beberapa alasan yang mau tidak mau membuat seorang suami tinggal berjauhan dengan istri dan anaknya.

Sebelum era industrialisasi, banyak kepala keluarga yang membawa dagangannya untuk dijual ke pusat kota. Banyak juga yang dipanggil untuk berperang, ada yang dipenjara, dan terkadang ada yang terluka parah sehingga harus ditahan di rumah sakit.

Perkembangan teknologi dan pendidikan juga memicu terjadinya LDM. Lapangan pekerjaan semakin langka dan tuntutan terhadap tenaga ahli semakin tinggi. Selain itu, keahlian khusus juga mendorong terjadinya separasi. Contohnya seperti atlet profesional, politikus, hingga entertainer. Maka dari itu bisa disimpulkan bahwa alasan untuk tinggal berjauhan dengan pasangan akan selalu ada.

Dewasa ini, muncul kondisi lain yang turut berkontribusi terhadap LDM, yakni pasangan dual-career. Sebuah pernikahan disebut pernikahan pasangan dual-career ketika kedua pasangan sama-sama meniti kariernya dalam pekerjaan.

Zaman dulu, pernikahan pasangan dual-career terjadi karena karier sang suami menuntutnya untuk pergi meninggalkan rumah, sedangkan sang istri memilih untuk tinggal di rumah karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Namun sekarang bentuk pernikahan dual-career lebih menjunjung sistem egaliter daripada patriarkis. Long-distance marriage masa kini juga kerap terjadi karena sang istri yang pergi mengejar karier atau studi, sedangkan sang suami menjaga rumah. Tanpa disadari, bentuk pernikahan semacam ini semakin banyak muncul.

Scott (2002) membagi LDM menjadi 2 jenis, yakni pernikahan dual-career, dan pernikahan dual-earner. Pasangan dual-career adalah jenis pernikahan yang kedua pasangannya sama-sama aktif dalam karier yang menuntut komitmen yang tinggi, kemampuan yang spesifik, serta tanggung jawab sembari tetap mengejar kehidupan berkeluarga yang aktif.

Di sisi lain, pernikahan dual-earner biasanya memiliki satu pasangan yang memiliki pekerjaan tingkat bawah yang tidak membutuhkan begitu banyak kemampuan khusus, waktu, maupun komitmen. Pernikahan semacam ini biasanya memiliki bentuk yang cukup umum. Biasanya sang suami memiliki sebuah ‘karier’ yang ia kejar sementara sang istri memiliki pekerjaan sebagai penghasilan tambahan. LDM bisa terjadi pada kedua jenis pernikahan ini, namun lebih banyak terjadi pada pasangan dual-career.

Macam-macam bentuk long-distance marriage

Dalam banyak penelitian mengenai pernikahan jarak jauh, sebutan yang biasa digunakan oleh para peneliti adalah commuter marriage (CM) dan long-distance marriage. CM mengacu pada pasangan yang bertemu dengan frekuensi yang lebih tinggi, seperti beberapa hari atau seminggu sekali. Sedangkan pasangan LDM biasanya lebih jarang bertemu daripada pasangan CM karena terpisah lebih jauh dari segi geografis. Pertemuan antar pasangan LDM biasanya terjadi beberapa minggu hingga beberapa bulan sekali.

Begitu banyak penelitian yang mengulik kehidupan commuter marriage. Kebanyakan hasil penelitian menunjukkan bahwa CM memiliki kesuksesan pernikahan yang lebih tinggi daripada kehidupan pernikahan biasa, yakni pasangan menikah yang tinggal bersama. Menurut hasil riset, kehidupan pernikahan biasa cenderung memiliki diskusi yang minim antara kedua pasangan. Waktu luang di akhir pekan cenderung digunakan untuk mengurus urusan rumah, seperti membersihkan pekarangan rumah, membayar tagihan, membersihkan rumah, atau membawa mobil ke bengkel. Urusan-urusan rumah semacam ini menguras waktu luang yang harusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hubungan pernikahan.

Di sisi lain, pasangan yang menjalani CM terbukti sering mengobrol lewat telepon di malam hari pada hari kerja. Pada akhir pekan, mereka bertemu dan memprioritaskan waktu bertemu ini untuk mempererat hubungan romantis mereka.

Dalam penelitiannya, Scott (2002) memperjelas perbedaan antara kehidupan pernikahan biasa, CM, dan LDM. Pernikahan biasa memiliki interaksi harian dan komunikasi verbal maupun non-verbal yang tinggi. CM memiliki interaksi mingguan dan komunikasi verbal sehari-hari via telepon atau media komunikasi lainnya. Sementara long-distance marriage memiliki kekurangan dalam komunikasi secara langsung karena jarang bertemu, namun tetap memiliki komunikasi sehari-hari via telepon atau media komunikasi lainnya.

Alasan orang-orang memilih LDM

Tingkat pendidikan dan besar penghasilan juga mempengaruhi keputusan menjalani LDM. Orang-orang yang memilih menjalani gaya hidup LDM biasanya mengaku bahwa karier dan pernikahan adalah prioritas hidupnya. Mereka memilih gaya hidup ini karena dengan adanya jarak, mereka dapat mengarahkan fokus mereka ke prioritas diri masing-masing.

Selagi berjauhan, pelaku LDM bisa fokus pada karier mereka. Selagi bertemu, mereka bisa fokus pada hubungan mereka. Di sela-sela antara berpisah dan bertemu, mereka bisa menggunakan beragam media komunikasi untuk menyokong keberlanjutan hubungan mereka.

Pasangan LDM biasanya memiliki tempat tinggal masing-masing yang terpisah di lokasi yang berbeda. Mereka akan mengunjungi satu sama lain ketika jadwal kerja mereka cocok. Namun beberapa pasangan memiliki satu rumah utama. Biasanya salah satu pasangan akan menempati rumah utama ini sementara satu pasangan lainnya memiliki tempat tinggal di lokasi lain yang bersifat sementara, seperti indekos atau apartemen. Ketika pasangan yang tinggal di lokasi ini pulang, maka ia akan pulang ke rumah utama tempat pasangannya menetap.

Perasaan bahwa long-distance marriage hanya bersifat ‘sementara’ merupakan tema yang penting dalam berbagai penelitian terkait LDM. Meskipun banyak pasangan LDM yang berpisah untuk durasi yang tidak tentu, namun mereka selalu merasa bahwa LDM itu hanya sementara.

Perasaan sementara ini menjadi pendukung utama bagi para pelaku LDM untuk bertahan. Dengan memberitahu diri mereka sendiri bahwa ini semua hanya sementara, para pelaku LDM mampu meraih dua pencapaian penting.

Pertama, mereka mampu menangkis pandangan masyarakat umum yang menganggap bahwa hubungan jarak jauh pasti berakhir dengan perpisahan. Kedua, mereka mampu memandang pernikahan dan karier mereka sebagai sesuatu yang sama pentingnya secara terus-menerus. 

Jika durasi perpisahan dirasa permanen atau tidak tentu, kedua pasangan cenderung akan meragukan masa depan dan komitmen mereka bersama. Oleh karena itu, memandang perpisahan sebagai sesuatu yang sementara dapat mempengaruhi kesuksesan hubungan LDM dan kepuasan pernikahan itu sendiri.

Referensi

Scott, A. T. (2002). Communication characterizing successful long distance marriages. LSU Doctoral Dissertations, 3840.