Banyak orang yang percaya bahwa sekolah berbasis agama memiliki pendidikan moral yang lebih terjamin, sehingga mampu mencegah perbuatan tidak baik, seperti perilaku seksual pranikah. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri, bermanfaat bagi lingkungan sosialnya, berakhlak mulia, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun seiring perkembangan zaman, tantangan untuk mendidik anak menjadi lebih berat.

Pesatnya perkembangan teknologi di era globalisasi saat ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi dapat mempermudah anak mengikuti pelajaran di sekolah berkat kemudahan akses informasi. Namun di sisi lain, kemudahan akses tersebut juga berpotensi menyediakan akses informasi-informasi yang tidak layak bagi anak. Misalnya situs video porno. Kemudahan akses video porno kerap mendorong banyak remaja hingga terjerumus dalam perilaku seksual pranikah.

Pada 2012, Tru Research melakukan wawancara terhadap 2.017 remaja usia 13-17 tahun beserta orang tuanya, terkait kebiasaan menggunakan internet. Hasilnya:

  • 71% remaja menyembunyikan yang mereka lakukan dengan internet dari orang tua, dengan menghapus riwayat peramban, meminimalkan peramban saat dilihat orang tua, menghapus video porno, berbohong, browsing dengan smartphone.
  • 32% remaja mengaku sengaja mengakses konten pornografi. Bahkan, 43% di antaranya rutin melakukannya setiap minggu. Namun, hanya 12% orang tua tahu bahwa anak mereka sedang mengakses pornografi.

Pentingnya pengawasan orang tua terkait perilaku seksual pranikah

Tanpa penyaringan dan pengawasan dari orang tua, anak bisa saja bertindak berdasarkan informasi dari internet tanpa menghiraukan batasan norma dan agama. Orang tua tentunya tidak ingin anaknya terjerumus dalam perilaku-perilaku yang melanggar norma dan agama.

Oleh karena itu, orang tua pasti akan berusaha untuk memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, termasuk menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. Terkait dengan pendidikan agama, pemerintah Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk menyelenggarakan pendidikan agama di setiap jenjang pendidikan. Komitmen tersebut tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Namun pendidikan agama di sekolah umum, seperti Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), dianggap memiliki porsi yang terlalu sedikit. Pasalnya, mata pelajaran pendidikan agama di sekolah umum hanya diberikan selama dua jam pelajaran dalam seminggu.

Porsi pendidikan berbasis agama di sekolah

Porsi mata pelajaran pendidikan agama yang terlalu sedikit dinilai sangat kurang untuk menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik. Akibatnya, kini mulai banyak orang tua yang mulai melirik sekolah berbasis agama.

Berdasarkan nilai ajarannya, di samping sekolah umum, Indonesia juga memiliki sekolah berbasis agama. Sekolah-sekolah tersebut ada yang dikelola oleh pihak swasta maupun pemerintah (sekolah negeri). Tidak seperti sekolah umum negeri yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, sekolah berbasis agama negeri semuanya berada di bawah naungan Kementerian Agama. Contoh sekolah berbasis agama yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, di antaranya adalah, Madrasah (Islam), Sekolah Menengah Agama Katolik, Sekolah Menengah Teologi Kristen, Prasaman (Hindu),  dan Pendidikan Dhammasekha (Buddha).

Di sekolah berbasis agama, porsi mata pelajaran pendidikan agama tentunya akan lebih banyak daripada di sekolah umum. Sebagai gambaran, jika di sekolah umum mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hanya diberikan selama 2 jam pelajaran selama seminggu, di Madrasah, bahkan ada lima mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Lima mata pelajaran itu adalah Aqidah, Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Quran Hadits, dan Bahasa Arab. Tiap-tiap mata pelajaran agama tersebut juga mendapatkan jam masing-masing dalam setiap pertemuannya dalam seminggu.

Lalu apakah porsi mata pelajaran agama yang lebih besar dapat menjaga moral dan akhlak peserta didik, sehingga tidak terjerumus dalam perilaku seksual pranikah?

Perilaku Seksual Pranikah

Secara sederhana, perilaku seksual pranikah sebagai segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang dilakukan oleh dua orang, pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan yang sah.

Menurut, Sarwono (2011), adapun bentuk-bentuk perilaku seksual remaja antara lain:

  1. Perasaan tertarik, yaitu minat dan keinginan remaja untuk melakukan perilaku seksual berupa perasaan suka, perasaan sayang dan perasaan cinta.
  2. Berkencan, yaitu aktivitas remaja ketika berpacaran, misalnya berkunjung ke rumah pacar, saling mengunjungi dan berduaan.
  3. Bercumbu, yaitu aktivitas seksualitas di saat pacaran yang dilakukan remaja berupa berpegangan tangan, mencium pipi, mencium bibir, memegang buah dada, dan memegang alat kelamin yang masih tertutup pakaian. 
  4. Bersenggama, yaitu kesediaan remaja untuk melakukan hubungan seksual dengan pacarnya atau lawan jenis.

Putri (2012) mengamati 198 siswa dari SMA Umum, dan 198 siswa dari SMA berbasis agama untuk mengetahui pengaruh perbedaan sekolah terhadap perilaku seksual pranikah oleh siswa.

Hasilnya, baik siswa SMA umum maupun siswa SMA berbasis agama sama-sama memiliki kecenderungan untuk menentang perilaku seks di luar nikah.

Namun, jumlah siswa SMA berbasis agama yang menentang perilaku seksual pranikah ternyata lebih rendah, dengan persentase 77.8% saja. Sedangkan 89,9% siswa di SMA umum memiliki sikap yang menentang hubungan seks di luar nikah.

Kesenjangan pengetahuan dan pengamalan dalam sekolah berbasis agama

Dengan kata lain, porsi mata pelajaran agama yang lebih banyak di sekolah berbasis agama pun tidak menjamin bahwa siswa memiliki sikap yang lebih baik terhadap perilaku seksual pranikah, dibandingkan dengan siswa di sekolah umum.  Dalam penelitian tersebut menunjukkan, meski sama-sama memiliki sikap yang menentang perilaku seksual pranikah, siswa sekolah berbasis agama justru memiliki nilai sikap yang lebih rendah dari siswa di sekolah umum. 

Ada dugaan bahwa pendidikan agama di Indonesia hanya berorientasi pada aspek kognitif dan mengabaikan aspek afektif. Artinya pendidikan agama di Indonesia, baik di sekolah umum dan sekolah berbasis agama, cenderung hanya menekankan pada pengetahuan siswa terhadap agama.

Akibatnya, terjadi kesenjangan antara pengetahuan tentang agama dengan pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-harinya (Putri, 2012). Maka, tidak mengherankan jika ada orang yang memiliki pengetahuan tentang agama yang mumpuni, namun tidak tercermin dalam perilakunya.

Referensi:

Putri, Fanny Ariyandini. 2012. Perbedaan Tingkat Religiusitas dan Sikap Terhadap Seks Pranikah Antara Pelajar yang Bersekolah di SMA Umum dan SMA Berbasis Agama. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 1 No.1

Indotesis.com. 6 Februari 2017. Pengertian, Bentuk dan Faktor Penyebab Perilaku Seks Bebas