Faktanya, banyak anak di bawah umur yang menjalin hubungan via online, bahkan hubungan asmara. Era perkembangan teknologi seperti sekarang ini terus menerus mendukung perkembangan dan penggunaan internet secara maksimal.

Kemudahan dalam mengakses dunia internet membuat siapa pun dapat menggunakannya, termasuk anak remaja. Penelitian mengenai perkembangan remaja dan internet yang dikemukakan oleh Jenssen dkk. (2014) telah menyatakan bahwa internet maupun platform media sosial kerap menjadi wadah bagi remaja untuk mengembangkan diri.

Dalam penelitiannya, Lenhart (2011) mengemukakan data bahwa 95 persen dari anak berusia 12 hingga 17 tahun di Amerika Serikat sudah fasih berselancar di dunia maya serta media sosial, seperti Facebook atau Instagram. Penggunaan internet di usia muda tanpa pengawasan bisa menjadi hal yang berisiko. Internet bisa menjadi tempat yang sangat indah sekaligus sangat kelam. Pasalnya, di dunia internet siapapun bisa menyembunyikan identitasnya hingga kita tidak bisa menebak apa tujuan mereka sebenarnya, baik itu di forum online, media sosial, atau aplikasi kencan online yang bisa digunakan oleh siapapun.

Selayaknya hutan belantara, anak anda bisa menemukan banyak hal baru hingga terlena dan tersesat di internet. Lalu pertanyaannya, apakah orang tua perlu khawatir? Mari kita bahas.

Mengapa Anak Memilih Menggunakan Internet?

Rasa keingintahuan anak yang tinggi membuat anak ingin mencoba segala sesuatu yang baru dan asing. Jenssen, Gray, Harvey, DiClemente, & Klein (2014), menyatakan bahwa aspek jejaring dari dunia maya dapat membantu anak remaja awal dalam perkembangan psikososialnya yang mencakup perkembangan identitas, intimasi, seksualitas, kesejahteraan, serta peningkatan kepercayaan diri. Selain itu, anak juga bisa mengakses informasi apapun di internet. Mulai dari film favoritnya, gambar maupun video yang ia sukai, hingga kabar terkini dari artis idolanya.

Biasanya dalam platform jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, maupun Instagram, pengguna dapat melengkapi data diri mereka, mengunggah berbagai macam postingan, yang nantinya bisa diberi feedback oleh lingkaran temannya di jejaring tersebut. Meskipun tidak secara langsung, pemberian feedback melalui jejaring sosial ini bisa berdampak positif terhadap kepercayaan diri individu.

Penelitian yang sama mengatakan bahwa masa kanak-kanak hingga remaja merupakan masa untuk mengeksplorasi kebutuhan dengan cara mengekspresikan dirinya di dalam komunitas yang memberinya rasa aman dan percaya diri. Platform jejaring sosial bisa berperan sebagai komunitas tersebut.

Kesempatan untuk bertemu dengan orang baru di jejaring sosial ini sangatlah besar. Bahkan di platform tertentu, pengguna bisa mengatur agar dipertemukan dengan pengguna lain dengan karakteristik tertentu yang diinginkan. Oleh karena itu, ketertarikan terhadap pengguna lain hingga taraf menyukai tidak mustahil bisa terjadi di dunia maya. Jika sudah ada kecocokan, maka anak bisa mulai menjalin hubungan online dengan teman barunya di internet.

Tantangan Menjalin Hubungan di Dunia Online bagi Anak

Fitur pertemanan di jejaring sosial memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk memperluas lingkaran pertemanannya hingga membangun hubungan baru yang intim dengan pengguna internet lainnya. Hal ini menjadi salah satu alasan anak menyukai kehidupan sosial di internet, yakni untuk bersosialisasi, menghabiskan waktu mengobrol dengan teman, berbagi pesan, menghabiskan waktu bersama, hingga bertemu secara langsung.

Ramasubbu (2016) membagi proses anak menjalin hubungan online melalui internet sebagai media menjadi 6 tahapan, yakni:

  1. Kontak pertama, yakni kali pertama pengguna bersinggungan atau berkenalan dengan orang baru menggunakan email, chat, maupun fitur jejaring sosial lainnya yang didasari oleh rasa ingin tahu anak yang besar.
  2. Ketertarikan, yakni adanya karakteristik tertentu dari lawan bicara yang ditemui di internet yang sesuai dengan apa yang anak inginkan, seperti ketertarikan terhadap fisik maupun kepribadian lawan bicaranya.
  3. Berteman, yakni tahapan hubungan saat kedua belah pihak mulai sering berinteraksi dan berbagi cerita hingga hadir kecenderungan untuk saling mendukung satu sama lain
  4. Cyber love, yakni tahapan saat satu sama lain saling merasakan adanya rasa suka atau cinta, yang mencakup unsur kelekatan dan kedekatan emosional dalam hubungan mereka.
  5. Melangkah lebih lanjut, yakni keputusan untuk bertemu di dunia nyata dengan mempertimbangkan waktu, tempat, dan lain-lain, serta risiko yang mungkin terjadi.
  6. Idealisasi, yakni tahapan paling akhir dan final, seperti meminta persetujuan dan mengenalkan pasangan ke orang tua untuk mulai menjalin hubungan yang lebih serius.

Dengan memahami tahapan-tahapan di atas, orang tua akan lebih mudah untuk memutuskan kapan harus mulai menyikapi perilaku internet anak yang sekiranya bisa membahayakan sang anak sendiri. Namun terlepas dari tahapan apa yang sedang dilalui anak dalam menjalin hubungan online, penting bagi orang tua untuk terus menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak.

Di usia remaja awal, tidak jarang anak mulai memberi jarak dengan orang tuanya sendiri. Anak ingin merasa lebih bebas dan independen. Kendati demikian, justru penting bagi orang tua untuk tetap mempertahankan komunikasi. Buat anak merasa seaman dan senyaman mungkin. Dengan adanya keterbukaan komunikasi, maka akan lebih mudah bagi orang tua untuk menjaga anak dari bahaya yang mungkin datang dari orang asing.

Bagaimana Orang Tua Menyikapinya

Dikarenakan usia anak yang masih terlalu muda untuk memutuskan segalanya sendiri, diperlukan pengawasan yang terorganisir dari orang tua selaku sosok pelindung. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?

Meski sekedar berkenalan dengan orang baru tidak terdengar begitu berbahaya, namun internet memungkinkan adanya banyak tindak kriminal yang bisa membahayakan bagi anak. Contohnya seperti sexual predator, penipu online, konten pornografi, dan masih banyak lagi hal ilegal lainnya.

Alih-alih melarang anak untuk mengakses internet, orang tua dapat meminimalisir bahaya internet dengan memberi batasan wajar bagi anak. Dilansir dari Huffpost, berikut ini adalah beberapa peraturan dasar mengenai berinteraksi dengan orang baru di internet:

  • Jangan pernah memberikan informasi pribadi, seperti nomor telepon, alamat tempat tinggal, serta informasi penting lainnya.
  • Jangan pernah bertemu dengan teman dari internet sendirian. Baiknya untuk pertemuan pertama, carilah pendamping, seperti orang tua, saudara, atau teman dekat.
  • Jangan pernah melakukan transaksi berupa uang di internet tanpa izin orang tua.
  • Jangan menerima permohonan pertemanan dari orang asing tanpa sebelumnya berdiskusi dengan orang tua.
  • Jangan merespon atau mendukung komunikasi yang berbau seksual—jika terjadi, segera hubungi orang tua.

Peraturan di atas merupakan pedoman agar aktivitas anak di internet tetap berjalan dengan aman. Tanamkan pedoman-pedoman ini pada anak. Jalin komunikasi yang baik dengan anak dan tanyai anak mengenai kegiatannya di internet secara berkala. Buat anak nyaman untuk berbicara secara terbuka dan dampingi setiap kegiatannya.

Karena sejatinya, asmara wajar ditemukan di mana saja dan pengalaman ini baik untuk perkembangan anak. Wajar bagi orang tua untuk khawatir saat anak terjun ke dunia baru yang asing, namun kekhawatiran ini perlu direspon secara tepat dengan kepala yang dingin dan langkah yang taktis. Khawatir mungkin perlu, tapi cukup agar orang tua lebih ‘melek’ terhadap keamanan buah hatinya yang tercinta.

Referensi

Jenssen, B. P., Gray, N. J., Harvey, K., DiClemente, R. J., & Klein, J. D. (2014). Language and Love: Generation Y Comes of Age Online. SAGE Open, 1-8.

Ramasubbu, S. (2016, December 7). Digital Dating & Teens. Retrieved from Huffpost

Rambaree, K. (2008). Internet-Mediated Dating/Romance of Mauritian Early Adolescents: A Grounded Theory Analysis. International Journal of Emerging Technologies and Society, 6(1), 34-59.