Psikosis postpartum adalah penyakit mental yang serius yang biasanya menyerang wanita paska melahirkan. Penyakit mental ini disebabkan oleh adanya perubahan hormonal pada wanita yang melahirkan. Tapi, sebuah penelitian di tahun 2020 menjelaskan ternyata ada juga psikosis postpartum pria.

Seorang psikoterapi bernama Dana Dorfman sempat mengungkapan bahwa ada kemungkinan 25% – 45% seorang pria mengalami psikosis postpartum ini. Bidang kajian patologi berasumsi bahwa gejala psikosis postpartum ini sudah bisa dideteksi sejak awal pria merespon kehamilan istrinya.

Banyak pengamat mengungkapkan bahwa gejala ini merupakan gangguan spektrum respon patologi yang cukup ekstrem. Memang, sejauh ini gejala psikosis postpartum sering menyerang wanita paska melahirka. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga bahwa penyakit mental ini menyerang pria.

Melahirkan Anak dari Sudut Pandang Pria

IMaos sebagai portal media untuk lelaki sangat memahami bahwa menjadi ayah bukanlah hal mudah. Tidak pernah ada pendidikan formal yang mengajarkan para pria untuk menjadi seorang suami idaman istri dan ayah yang baik.

Kebanyakan pria hanya diajarkan untuk tanggungjawab kepada kepada istri dan anaknya. Ajaran untuk tanggungjawab pun hanya sebatas wacana dari mulut ke mulut. Tidak ada bentuk konkret tentang bagaimana seorang pria harus mengambil sikap dalam setiap kondisi.

Ya, memang pria harus bisa mengambil sikap meskipun bisa dikatakan bahwa tidak ada pelajaran yang mengajarkan pria cara mengambil sikap.

Dalam proses persalinan, semua dukungan ditujukan kepada istrinya yang akan melahirkan. IMaos sudah membahas bagaimana lingkungan sosial memaksakan sikap siaga suami saat melahirkan. Jangan khawatir, pria memang dituntut seperti itu!

Hal yang kemudian dianggap wajar jika psikosis postpartum pria ini belum banyak dikaji. Banyak artikel parenting yang masih tetap berpendirian bahwa wanita harus dimengerti terlebih lagi saat dia hamil dan paska melahirkan.

Jika pria ditanya, bagaimana sudut pandangnya ketika proses persalinan itu terjadi? Pasti langsung yang terfikirkan adalah bagaimana keadaan istrinya; apakah bayinya akan lahir selamat dan normal; kapan istri dan anaknya nanti bisa pulang ke rumah; masih adakah barang yang belum dibeli saat anak sudah sampai di rumah; dan berapa biaya rumah sakit yang harus ditanggung.

Jadi, sudut pandang pria saat kondisi melahirkan anaknya adalah memandang bagaimana dirinya berguna untuk istri, anak, dan keluarganya.

Gambaran Saat Psikosis Postpartum Pria

Di sini IMaos akan memberikan sedikit gambaran yang menyebabkan psikosis postpartum dan gejala yang muncul akibat penyakit mental itu menyerang. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada kalian para istri dan pria supaya lebih waspada.

Gambaran ini berasal dari studi kasus yang dilakukan Stanley Saphiro dan Jack Nass tentang peneltiannya terhadap psikosis postpartum pada pria. Dalam kasus yang mereka amati, psikosis postpartum ini memang tidak muncul begitu saja. Tapi, ada faktor lain yang melatar belakangi penyakit ini muncul.

Kasus ini mereka teliti dari seorang pasien pria berusia 30 tahun yang baru memiliki anak. Pasien ini dulunya pernah akan mempunyai anak tetapi gagal karena istrinya keguguran. Saat menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL), pria ini muncul pikiran-pikiran negatif.

Pikiran negatif ini adalah salah satu gejala dari psikosis postpartum. Pasien berfikir istrinya tidak akan baik-baik saja karena harus memasuki ruang operasi. Ia juga takut kalau anak yang akan lahir mengalami kecacatan. Pasien juga tidak bisa berbicara layaknya orang normal seperti sedang delusi. Bahkan, setiap topik pembicaraannya selalu menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan bayi.

Selain itu, gejala yang muncul akibat psikosis postpartum pada pria ini mengakibatkan insomnia, hilangnya nafsu makan, pikiran stres, bahkan hingga berperilaku jorok. Dari berbagai gejala ini, ternyata tidak semua pria yang terkena psikosis postpartum ini sama. Masing-masing orang akan cenderung memiliki perbedaan gejala.

Oleh karena itu, kami berharap kepada kalian para pria luar biasa agar tetap menjaga kesehatan mental saat menghadapi proses persalinan. Semoga kalian dan keluarga diberikan kesehatan jasmani dan rohani selalu oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.