HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh anak pengidap HIV/AIDS dengan menginfeksi dan menghancurkan sel darah putih. Akibatnya, kekebalan tubuh seorang yang terjangkit virus HIV akan semakin lemah, sehingga rentan terserang berbagai penyakit. Infeksi HIV yang berkelanjutan akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah tingkat akhir dari kondisi seseorang yang terinfeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

HIV/AIDS tergolong sebagai penyakit yang sangat berbahaya, karena sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Obat yang tersedia hanya sebatas memperlambat perkembangan virus tersebut. Berdasarkan data UNAIDS (Joint United Nations Programme on HIV/AIDS), terdapat 36,9 juta orang di seluruh dunia yang terjangkit HIV/AIDS pada 2017. Kawasan Asia Pasifik, yang mencakup wilayah Indonesia, menduduki peringkat ketiga sebagai wilayah dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak di seluruh dunia dengan total penderita sebanyak 5,2 juta jiwa. Pada tahun 2017, jumlah kematian yang disebabkan oleh AIDS tercatat sebanyak 940.000 kasus di seluruh dunia. Usia dewasa sebanyak 830.000 dan usia anak sebanyak 110.000 jiwa.

Idealnya, selain penanganan medis yang memadai, dukungan keluarga sebagai pengasuh merupakan garis pertahanan pertama dalam penanganan anak pengidap HIV/AIDS. Keluarga memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan, dengan menyediakan berbagai akses kesehatan, perawatan di rumah (memberikan obat dan pemenuhan nutrisi anak pengidap HIV/AIDS), sehingga akan mengurangi kebutuhan rawat inap di rumah sakit (Ernawati & Armiyati, 2014).

Merawat anak pengidap HIV/AIDS tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Minimnya pengetahuan terhadap HIV/AIDS sering menjadi kendala dalam merawat anak pengidap HIV/AIDS. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang permasalahan yang dihadapi keluarga anak pengidap HIV/AIDS, Ernawati dan Armiyati mewawancarai orang tua/wali anak pengidap HIV/AIDS dengan rentang usia 0-5 tahun.

Dari wawancara tersebut, diketahui bahwa keluarga dengan anak pengidap HIV/AIDS menghadapi berbagai permasalahan dalam merawat anak mereka. Permasalahan tersebut diantaranya masalah pengobatan, asupan nutrisi, emosional, dan sosial.

Perawatan medis anak pengidap HIV/AIDS

Hampir semua keluarga telah memeriksakan anaknya ke dokter, meskipun banyak di antaranya yang terlambat. Sebagian besar responden mengaku bahwa masalah terlambat memeriksakan anak ke dokter kerap disebabkan kendala keuangan.

Hanya kondisi anak yang semakin memburuk yang bisa  mendesak keluarga mendatangi pelayanan kesehatan untuk melakukan tes. Hal itu yang diungkapkan salah satu partisipan berikut:

Sebenarnya sejak bapaknya ketahuan HIV bulan juni 2011, terus saya dan anak disarankan tes juga. Karena waktu itu saya menunggui anak ke-3 sakit di RS, untuk tes saya tunda dulu. Setelah itu periksa, saya kaget ternyata sakitnya kok itu (HIV) tidak ada obatnya. Misalnya bapaknya tidak ketahuan, ya tidak ketahuan semua.” (ibu dari anak pengidap HIV positif, 32 tahun)

Ada juga seorang ibu yang mengaku berhenti memeriksakan anaknya ke puskesmas, setelah salah satu petugas menyebarkan informasi bahwa anaknya mengidap HIV/AIDS.

“Saya pernah sakit hati, waktu periksa ke puskesmas ada petugas yang menceritakan ke orang-orang kalau anak saya AIDS. Padahal petugas kesehatan kan lebih tahu apa itu HIV. Akhirnya saya tidak pernah lagi ke puskesmas, ya kalau anak sakit langsung ke dokter anak yang menangani dari kecil.” (Ibu dari anak HIV positif, 23 tahun)

Asupan nutrisi

Pengidap HIV umumnya rentan terhadap penyakit lain, seperti halnya flu, alergi, batuk, bahkan tuberkulosis. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk memberi asupan nutrisi yang berimbang agar dapat menjaga daya tahan tubuh anak pengidap HIV/AIDS. Sayangnya, akibat kondisi ekonomi keluarga yang kekurangan, pemenuhan nutrisi anak yang rata-rata masih berusia balita, seperti susu, kadang tidak bisa dipenuhi.

Masalah emosional anak pengidap HIV/AIDS

Akibat penyakit yang dideritanya, anak sering kali tiba-tiba rewel dan menangis. Hal itu sering kali mengganggu kegiatan keluarganya. Bahkan ada seorang kakek yang mengasuh anak pengidap HIV/AIDS mengaku sampai memberi anak obat tidur agar bisa beristirahat saat malam hari.

Ya, kalau dia rewel biasanya tidak bisa tidur, terus saya ajak jalan-jalan, minta jajan dan lain-lain. Ya dibujuk kalau mau, terus dituruti maunya. Kalau periksa ke bidan, saya minta obat yang membuat anak bisa mengantuk. Kalau tidak–kalau malam dia tidak tidur, saya tidak bisa bekerja pagi harinya.” (kakek, 53 tahun)

Sosial

Anak-anak memerlukan kesempatan untuk bermain untuk belajar keterampilan sosial yang mereka butuhkan agar bisa berinteraksi dengan orang lain atau teman sebayanya. Sayangnya, banyak anak kemudian dikucilkan ketika diketahui mengidap penyakit HIV/AIDS.

Kalau orang tidak tahu dia sakit itu (HIV/AIDS), dilihat seperti anak yang lain, lari-lari bermain biasa. Temannya juga banyak, namun ada orang tuanya yang tidak membolehkan kumpul dengan cucu saya.” (Nenek, 55 tahun)

Nenek tersebut juga menyayangkan sikap guru TK yang memberikan perlakuan berbeda pada cucunya.

Waktu di sekolah, setiap hari Sabtu anak-anak TK makan bersama, itu ibu guru memberikan gelas dan piring yang berbeda. Sendok yang dipakai adik langsung dibuang. Saya merasa kasihan. Kenapa orang-orang pintar yang harusnya mengetahui jelas tentang penyakit ini kok berperilaku begitu.” (Nenek, 55 tahun)

Seorang ibu lain bahkan mengaku memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan petugas medis yang merawat anaknya. Berikut pengakuannya:

Beberapa bulan ruam, ku lihat banyak sekali hampir merata seluruh tubuh (anak). Lalu saya bawa ke RS Dr. Kariadi kemudian dilakukan pemeriksaan kulit. Waktu itu benar-benar saya sakit hati, dokter itu pakai sarung tangan berlapis, masker muka juga. Katanya takut tertular. Kok sampai sebegitunya.” (ibu HIV positif, 29 tahun)

Dengan virus HIV yang menyerang daya tahan tubuh anak, mereka menjadi rentan terhadap penyakit lain. Oleh karena itu, perawatan medis dan pemenuhan asupan nutrisi yang tepat akan dapat mengurangi risiko anak terserang penyakit lain. Dukungan keluarga dan masyarakat juga dapat memperbaiki mood dan emosi anak pengidap HIV/AIDS, sehingga anak bisa memiliki semangat dan motivasi untuk terus hidup dan mematuhi prosedur pengobatan medis.

Sayangnya, stigma negatif dari masyarakat terhadap penyakit HIV/AIDS sering menimbulkan penolakan terhadap penderitanya. Oleh karena itu, pengetahuan terkait HIV/AIDS sangat penting, tidak hanya bagi keluarga sebagai pengasuh anak pengidap HIV/AIDS, tetapi juga bagi masyarakat secara umum.

Referensi:

Ernawati & Armiyati, Yunie. 2014. Analisis Kebutuhan Perawatan di Rumah untuk Penderita HIV/AIDS Anak. Jurnal Keperawatan Komunitas: Universitas Muhammadiyah Semarang

UNAIDS Data 2018. https://www.unaids.org/sites/default/files/media_asset/unaids-data-2018_en.pdf