Problematika merantau muncul ketika salah satu anggota keluarga, baik itu ayah, ibu, atau anak, pergi ke tempat yang jauh dari tempat tinggalnya dalam waktu yang lama. Mencari peruntungan secara ekonomi, penempatan pekerjaan, serta kuliah kerap menjadi alasan banyak orang untuk merantau dan meninggalkan tempat asalnya.

Bagi yang sudah menikah, membawa serta pasangan dan anak-anak tentu akan membuat kehidupan di perantauan menjadi lebih mudah. Namun ada sejumlah situasi yang memaksa seorang merantau tanpa mengajak anggota keluarga lainnya, sehingga harus dalam waktu yang lama.

Jarak kini merupakan kendala yang dapat diatasi dengan mudah dengan teknologi informasi dan komunikasi seperti smartphone. Namun menurut Brown dan Grinter (2012), merantau masih menimbulkan problematika lain bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama anak.

Problematika merantau bagi anak yang ditinggalkan

Anak-anak yang ditinggal merantau oleh orang tuanya biasanya akan mengalami tekanan psikologis dan rentan terhadap perlakuan yang tidak layak seperti diabaikan wali atau pengasuhnya. Selain itu, katidakhadiran orang tua juga membuat anak terus menanti waktu berkumpul dengan orang tuanya lagi. Hal itu sering membuatnya kehilangan konsentrasi dan semangat belajar di sekolah.

Dengan kata lain, orang tua yang merantau sehingga harus menjalani hubungan jarak jauh dengan keluarga juga berpengaruh pada pendidikan anak. Dalam penelitian di Jamaika yang dilakukan Brown dan Grinter (2012), orang tua yang merantau meninggalkan anaknya juga menghadirkan kendala yang dihadapi guru.

Problematika merantau bagi guru dari anak yang ditinggalkan

Kendala utamanya adalah proses koordinasi dengan orang tua murid terkait pendidikan anak di sekolah. Misalnya saja, saat guru ingin berbicara dengan orang tua/wali murid dalam sebuah pertemuan maupun panggilan langsung, yang datang justru seseorang yang kurang kompeten untuk menjadi wali murid, seperti kakak atau nenek. Hal itu disebabkan karena orang tua dari murid merantau.

Anak yang ditinggalkan orang tua merantau sering melanggar aturan sekolah

Selain itu, peningkatan kesejahteraan juga menjadi salah satu kekhawatiran guru bagi proses belajar-mengajar anak di sekolah. Banyak orang tua mungkin berpikir bahwa ketidakhadirannya karena merantau bisa digantikan dengan pemberian hadiah maupun uang jajan yang banyak pada anaknya. Sayangnya, hal itu sama sekali tidak menggantikan kasih sayang, perhatian, dan waktu bersama orang tua yang justru lebih dibutuhkan anak.

Namun kadang pemberian yang berlebihan dari orang tua justru dapat mendorong anak untuk melanggar aturan sekolah, seperti aturan berpakaian dan kepemilikan teknologi yang dilarang. 

Anda melihat ada siswa mengenakan sepatu bermerek. Padahal sebagian siswa mengikuti aturan berpakaian, sehingga semua orang akan mengenakan seragam yang sama. Akan tetapi ada anak yang memakai sepatu dan tas bermerek dan sebagainya. Dan seringkali, mereka adalah orang-orang yang memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan.” (Hasil wawancara Brown dan Grinter terhadap narasumber yang seorang guru)

Ditinggal merantau membuat anak kehilangan motivasi belajar

Selain itu, masalah motivasi belajar juga menjadi salah satu problematika merantau yang dikhawatirkan para guru. Motivasi belajar anak seringkali dipengaruhi oleh harapan mereka untuk berkumpul atau tinggal bersama keluarga. Banyak anak yang ditinggal merantau ke luar negeri semula dijanjikan akan dibawa serta ke tanah rantau oleh orang tuanya. Sayangnya, janji tersebut justru membuat performa belajar anak menurun. Karena sudah dijanjikan akan dibawa orang tuanya ke tempat perantauan, anak-anak jadi berpikir bahwa yang ia lakukan di sekolah tidak ada gunanya lagi.

Banyak dari mereka dijanjikan selama bertahun-tahun bahwa (orang tua di luar negeri) akan mengajukan izin tinggal agar anak mereka bisa tinggal di luar negeri. Akibatnya mereka duduk di sekolah dan tidak melakukan apa-apa. Dan saya tidak berpikir orang tua menjelaskan bahwa anak mereka perlu melakukan (belajar) dengan baik. Saya tahu beberapa (anak yang ditinggal merantau) ada yang bersikap dewasa dan mereka masih di sini.”

Brown dan Grinter mengungkapkan bahwa salah satu problematika merantau muncul saat semula para orang tua memiliki rencana yang menyeluruh tentang perantauannya. Rencana tersebut meliputi durasi perantauan dan upaya berkumpul kembali dengan keluarganya, baik dengan cara membawa serta anak atau pulang ke tanah air.

Namun begitu pergi, periode waktu yang telah direncanakan sering diperpanjang, sehingga melampaui rencana awal. Akibatnya proses reunifikasi dengan cara pulang ke kampung halaman menjadi tertunda. Upaya reunifikasi dengan cara membawa serta anak pun juga tidak bisa berjalan mulus karena proses imigrasi yang panjang dan mahal.  

Dihadapkan berbagai macam problematika merantau ini, para guru mengharapkan suatu sistematika komunikasi dengan orang tua yang meninggalkan anaknya merantau untuk membicarakan masalah yang dihadapi anak di sekolah.

Referensi:

Brown, Deana &Grinter, Rebecca E. 2012. Takes a Transnational Network to Raise a Child: The Case of Migrant Parents and Left-Behind Jamaican Teens. Ubicomp’ 12, Sep 5 – Sep 8, 2012, Pittsburgh, USA