Posisi tidur bayi akan menentukan gerak motorik dalam tumbuh kembangnya. Pada usia 3 bulan pertama, bayi mulai berkembang menjadi individu yang aktif dan responsif terhadap sekitarnya. Bayi mulai perlahan kehilangan gerak refleksnya dan digantikan dengan pertumbuhan gerak motorik kasar. Penglihatan bayi juga berkembang. Bayi menjadi lebih awas dan lebih tertarik terhadap hal-hal di lingkungannya, seperti wajah manusia lain serta objek berwarna mencolok.

Selain itu, bayi juga mulai memiliki rasa keingintahuan yang besar. Bayi akan mulai mencoba mengikuti benda yang bergerak, mengenali hal-hal yang familiar, serta lebih sering menggunakan tangan dan kakinya. Perkembangan motorik pada bayi ini juga dipengaruhi oleh posisi tidur si bayi. Menurut Judith Owens, direktur medis masalah tidur di Children’s National Medical Centre di Amerika, hormon pertumbuhan umumnya diproduksi ketika anak dalam kondisi tertidur.

Oleh karena itu, banyak masalah medis yang bisa hadir jika anak mengalami kekurangan tidur atau posisi tidur yang buruk. Meskipun belum ada yang menyatakan secara ilmiah mengenai posisi tidur yang baik maupun buruk, beberapa penelitian mendukung manfaat dari tidur tengkurap pada bayi.

Salah satu penelitian yang mendukung pernyataan ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Davis, Moon, Sachs, & Ottolini (1998). Penelitian yang melibatkan sebanyak 351 bayi ini berusaha untuk membandingkan kecepatan perkembangan motorik bayi pada bayi yang terbiasa tidur terlentang dengan bayi yang biasa tidur tengkurap.

Permasalahan posisi bayi tidur tengkurap

Bagi generasi terdahulu, tidur tengkurap merupakan posisi tidur yang cukup disukai oleh bayi juga oleh para orang tua. Dilansir dari babble.com, bayi cenderung lebih mudah terlelap tidur dalam posisi tengkurap. Ketika bayi tidur dalam posisi terlentang, gerak refleks membuat kaki dan tangan bayi mengarah ke atas dan tampak tidak nyaman, sehingga lebih sulit bagi bayi untuk beristirahat dan tertidur dengan nyenyak. Sedangkan dalam posisi tengkurap, anggota tubuh bayi terlipat dengan nyaman dan penglihatan bayi terhadap dunia sekitarnya terbatasi, sehingga bayi dapat terlelap dengan lebih mudah.

Meskipun posisi tidur terlentang masih banyak direkomendasikan oleh berbagai artikel online mengenai menidurkan bayi, namun posisi tidur tengkurap juga memiliki manfaat tersendiri.

Pro-kontra tidur tengkurap

Menurut kesaksian Judith Owens yang dilansir dari Milna.com, tidur tengkurap memiliki beberapa keuntungan, yakni:

  • Posisi tidur tengkurap efektif untuk menidurkan bayi yang mengidap penyakit asam lambung.
  • Posisi tidur tengkurap efektif untuk menidurkan bayi dengan kelainan anatomi pernapasan, seperti sindrom Pierre Robin, Down Syndrome, dll.
  • Posisi tidur tengkurap dapat meningkatkan pengaliran oksigen ke paru-paru yang dapat membantu menidurkan bayi prematur dengan masalah pernapasan.

Namun demikian, pada tahun 1992, American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan sebuah pernyataan yang mengimbau para orang tua untuk menidurkan bayi mereka dengan posisi menyamping atau telentang. Imbauan ini disebarluaskan dalam rangka mengurangi terjadinya insiden sudden infant death syndrome (SIDS). SIDS sendiri merupakan kematian bayi yang terjadi tiba-tiba ketika bayi tidur dan hingga sekarang belum ada yang bisa menjelaskan penyebabnya secara medis dan faktual. Asumsi bahwa posisi tidur tengkurap menjadi penyebab SIDS hanyalah sekedar asumsi dan masih menjadi perdebatan.

Sebuah penelitian di Selandia Baru pernah mengemukakan bahwa SIDS tidak dipengaruhi oleh posisi tidur, melainkan pengaruh pemaparan bahan kimia yang dihasilkan dari pencucian matras non-organik. Kendati demikian, Aliansi SIDS di Amerika tidak menganggap studi ini signifikan dan memilih untuk mengabaikannya. Hingga sekarang SIDS merupakan isu yang mengambang dan kompleks

Perkembangan motorik bayi yang dipengaruhi posisi tidur tengkurap

Terlepas dari risiko SIDS yang belum jelas tersebut, Davis, Moon, Sachs, & Ottolini (1998) menjalankan penelitian mereka dengan meminta para orang tua dari para bayi untuk menidurkan anak mereka dengan posisi tengkurap dan telentang. Sebelum memulai penelitian ini, para peneliti melakukan penyaringan subjek. Hanya bayi yang sehat secara fisik tanpa komplikasi penyakit apapun yang diperbolehkan ikut dalam penelitian ini. Bayi diteliti dan diamati sejak ia berusia 1 minggu hingga 6 bulan.

Setelah penelitian dilakukan, terbukti bahwa bayi yang terbiasa tidur dengan posisi tengkurap memiliki perkembangan yang lebih cepat di 8 titik perkembangan motorik anak. Delapan titik perkembangan motorik itu antara lain adalah:

  1. Menggulingkan badan dari posisi tengkurap ke telentang
  2. Menggulingkan badan dari posisi telentang ke tengkurap
  3. Duduk dengan bantuan tangan sebagai penyangga
  4. Duduk sempurna tanpa bantuan penyangga apapun
  5. Bergerak merayap tanpa mengangkat tubuh dari lantai
  6. Bergerak merangkak dan mengangkat tubuh menggunakan topangan tangan dan kaki
  7. Berdiri dengan menarik sesuatu
  8. Berjalan sendiri tanpa bantuan

Selain 8 titik perkembangan motorik ini, peneliti juga menemukan adanya pengaruh tidur tengkurap terhadap perkembangan kemampuan motorik halus bayi, yakni kemampuan memindahkan objek dari tangan satu ke tangan lainnya.

Prinsip dasar menidurkan bayi

Umumnya, pendapat orang tua mengenai perkembangan bayi yang normal diukur dari pencapaian gerak motorik si bayi pada tahun pertamanya. Pandangan ini menjadikan pencapaian perkembangan gerak motorik bayi menjadi sangat penting. Berdasarkan pendapat Davis dkk., titik perkembangan motorik bayi yang terlewat atau terhambat dapat berisiko munculnya perkembangan yang abnormal pada bayi.

Kendati tidur tengkurap terbukti menghasilkan pencapaian gerak motorik yang lebih cepat daripada bayi yang tidur telentang, bukan berarti bayi yang tidur telentang mengalami perkembangan yang lebih lambat dari seharusnya. Kedua posisi tidur ini memiliki efek terhadap pencapaian kemampuan motorik bayi yang sama-sama normal, hanya saja posisi tidur tengkurap menunjukkan hasil yang lebih dini. Titik pencapaian kemampuan motorik antara kedua posisi tidur ini memiliki rentang perbedaan 3 hingga 4 bulan, sehingga orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

Prinsip dasar yang harus selalu dipegang orang tua dalam menidurkan anak adalah ‘lakukan saja manapun yang efektif’. Artinya, selama anak bisa tidur dengan nyenyak, posisi seperti apapun dapat Anda terapkan. Namun jika Anda ingin memicu perkembangan kemampuan motorik anak yang lebih cepat, tidak ada salahnya mencoba menidurkan bayi anda dengan posisi tengkurap.

Referensi

Davis, B. E., Moon, R. Y., Sachs, H. C., & Ottolini, M. C. (1998, November). Effects of Sleep Position on Infant Motor Development. PEDIATRICS, 102(5), 1135-1140.

Milna. (2018, April 1). Understanding The Best Baby Sleeping Position. Diambil kembali dari Milna

Morris, C., & Odes, R. (2008). IS PUTTING BABY TO BED FACE-DOWN REALLY SO TERRIBLE? Diambil kembali dari Babble by Disney