Komunikasi pada anak penyandang tunagrahita harus dilakukan dengan perhatian khusus. Retardasi mental atau tunagrahita adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan rendahnya tingkat kecerdasan dan kognitif dibandingkan anak pada umumnya. Kondisi ini dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan.

Penyandang tunagrahita biasanya memiliki keterbatasan kemampuan intelektual (IQ), yang membuat mereka sulit belajar. Selain mempengaruhi kemampuan belajar anak, tunagrahita juga memiliki keterbatasan dalam aspek-aspek lainnya, seperti aspek fisik (kemampuan berjalan, menulis, bergerak), aspek merawat diri (kemampuan untuk makan sendiri, mandi sendiri), serta aspek komunikasi (kemampuan berbicara, memahami instruksi).

Meski memiliki keterbatasan kemampuan intelektual, bukan berarti anak penyandang tunagrahita sama sekali tidak mampu belajar. Mereka tetap bisa belajar, namun dengan kecepatan dan cara yang berbeda. Sekolah khusus biasanya mengajari anak penyandang tunagrahita mengenai keterampilan hidup dan bagaimana cara bersikap. Biasanya seorang guru akan mengajarkan bagaimana berpakaian, makan, mandi, menjaga kebersihan diri, dsb.

Selain sekolah, orang tua juga memiliki peran penting untuk mendukung anak penyandang tunagrahita agar dapat belajar dengan pesat. Tentu saja hal itu bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, penyandang tunagrahita juga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Padahal komunikasi merupakan salah satu aspek yang penting dalam pertukaran informasi dan kegiatan belajar mengajar.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua maupun tenaga pendidik untuk memahami pola komunikasi anak tunagrahita. Untuk mengungkap hal itu, Setyawan (2018) meneliti pola komunikasi anak penyandang tunagrahita di Sekolah Khusus As-Syifa, Kota Tangerang, Banten.

Dari pengamatan tersebut, ada tiga cara untuk bisa berkomunikasi dengan anak penyandang tunagrahita. Tiga cara tersebut meliputi bahasa verbal (dengan kata-kata), isyarat, dan penggunaan alat bantu.

Cara komunikasi anak penyandang tunagrahita

Komunikasi verbal merupakan pola komunikasi yang umum digunakan dalam proses berkomunikasi. Di Sekolah Khusus Asy-Syifa, berkomunikasi secara verbal hanya diterapkan pada sebagian anak yang keterampilan bahasanya sudah berkembang. Sebagian besar guru menggunakan bahasa verbal dalam berkomunikasi dengan para siswa dalam proses belajar mengajar. Meski begitu, penyampaian materi belajar dengan bahasa verbal tetap dikombinasikan dengan penggunaan isyarat atau simbol-simbol.

Komunikasi dengan bahasa verbal diterapkan karena penggunaan pola komunikasi ini sudah umum digunakan di masyarakat. Sehingga anak penyandang tunagrahita dapat berkomunikasi dengan orang lain ketika sudah terjun di masyarakat.

Selain bahasa verbal, penggunaan alat bantu sebagai media komunikasi juga digunakan jika bahasa tidak bisa digunakan untuk menyampaikan suatu informasi kepada anak penyandang tunagrahita. Alat bantu yang digunakan biasanya berupa poster, gambar, tulisan, mainan yang berwarna, dan lain-lain.

Di sekolah ini komunikasinya dengan menggunakan bahasa dalam penyampaiannya. Dan sebagian anak ada yang nggak bisa baca, jadi kita pakai alat lain sebagai alat bantu, seperti gambar, warna, dan tulisan digabung.” (Rikit, Guru)

Faktor pendorong dan penghambat

Kepercayaan menjadi faktor utama yang mendorong perkembangan kemampuan komunikasi anak penyandang tunagrahita. Dengan adanya rasa percaya, anak akan merasa aman dan tidak takut untuk bertindak maupun menyampaikan sesuatu.

Sementara itu, kendala terbesar yang dihadapi para guru dalam mengembangkan kemampuan komunikasi anak penyandang tunagrahita adalah minimnya peran orang tua. Menurut para guru, apa yang diajarkan di sekolah seharusnya bisa diterapkan oleh orang tua di rumah. Jika apa yang diajarkan di sekolah tidak diterapkan di rumah, maka dikhawatirkan anak akan mengalami gangguan perkembangan .

Sekolah juga mengadakan seminar untuk orang tua dan wali siswa. Seminar tersebut bertujuan untuk membentuk kerja sama yang sinergis antara guru dan orang tua/wali siswa dalam mengembangkan kemampuan komunikasi anak penyandang tunagrahita. Dengan kata lain, orang tua juga perlu berperan aktif dalam mengajarkan kembali apa yang telah dipelajari di sekolah, untuk mendorong perkembangan komunikasi anak penyandang tunagrahita.

Referensi:

Setyawan, Andi. 2018. Pola Komunikasi Anak Difabel (Tuna Grahita) Pada Sekolah Khusus AS-Syifa. Jurnal Ilmu Komunikasi (J-IKA), Vol. V No. 2, September 2018