Tim imaos baru saja melakukan research media sosial di akhir tahun ini. Ternyata, ada hal trending di media sosial tentang isu perceraian dari seorang influencer ternama di Indonesia. Terlepas dari problem personal, ada istilah perceraian demi kebahagiaan kedua dalam hidup.

Hanya saja, perceraian terkadang membawa dampak tidak hanya pada pasangan yang bercerai tetapi juga keluarga dari pasangan tersebut, seperti anak, orang tua, dan keluarga mereka. Lalu, apakah benar percerian itu demi kebahagiaan yang kedua untuk pasangan yang sudah tidak cocok lagi?

Artikel ini ditulis berdasarkan dari hasil kajian pustaka yang pernah dilakukan oleh para ahli. Ada beberapa hal yang mungkin belum banyak diketahui orang tentang perceraian. Apakah perceraian itu selalu buruk, ataukah perceraian itu memang benar menjadi solusi untuk kebahagiaan pasangan yang sudah tidak cocok lagi.

Peningkatan Kasus Perceraian di Indonesia

Faktanya, kasus perceraian di Indonesia ini selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus perceraian ini. Hanya saja, data yang disampaikan Kemenag menunjukkan bahwa ada benang merah dari perceraian ini, seperti masalah ekonomi, seksual, dan sosial masyarakat.

Dari laporan kasus perceraian di Indonesia, Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung mencatat setiap tahunnya mengalami kenaikan. Di tahun 2015, kasus perceraian 394.246 kasus, kemudian pada tahun 2016 bertambah menjadi 401.717 kasus, tahun 2017 ada 415.510 kasus, tahun 2018 menjadi 444.358 kasus, tahun 2019 480.618 kasus, dan Agustus 2020 ada 306.688 kasus.

Konsekuensi Pasangan Bercerai

Bagi orang awam, konsekuensi perceraian sering dihubungkan dengan dampak kepada anak. Tapi, ada konsekuensi lain yang harus ditanggung oleh pasangan yang bercerai. Ada banyak penelitian yang menyebutkan pasangan yang bercerai tidak memiliki kualitas hidup yang baik.

Menurut Paul R Amato (2004) dalam penelitiannya yang berjudul The Consequences of Divorce for Adults and Children menjelaskan bahwa konsekuensi perceraian dapat menurunkan kebahagiaan, kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga meningkatkan risiko kematian.

Memang, ada pernyataan yang mengklaim bahwa perceraian untuk mendapatkan kebahagiaan kedua. Asumsi lebih baik bercerai daripada bertahan dengan keadaan rumah tangga yang tidak sehat memang tidak bisa dipungkiri.

Namun, tidak menutup kemungkinan juga bahwa konsekuensi dari perceraian itu juga selalu akan mengikuti pasangan yang melakukannya. Dengan kata lain, ada sisi positif dan negatif dari sebuah keputusan untuk perpisah dengan pasangan daripada harus mempertahankannya.

Perceraian Demi Kebagiaan Anak! Mungkinkah?

Perceraian demi kebahagiaan anak mungkin bisa saja menjadi salah satu alasan untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan. Hanya saja, ada hal-hal yang perlu dipahami oleh pasangan yang ingin memutuskan bercerai.

Pertama, jika sebuah rumah tangga hanya menghadirkan keributan antara orang tua dihadapan anak, maka bercerai memang bisa menjadi solusi. Hal ini untuk menghindari anak mendapatkan pengalaman yang tidak baik dan traumatis dalam melihat konsep pernikahan.

Kedua, pasangan yang bercerai karena keegoisan justru lebih memperburuk keadaan mental anak. Hal ini karena anak akan melakukan coping terhadap perilaku orang tua atau perilaku pasangan yang mereka lihat sehari-hari di rumah. Dengan kata lain, untuk kasus ini perceraian demi kebahagiaan anak tidak akan terwujud.

Ketiga, perceraian demi kebahagiaan anak adalah sebuah klise yang terkesan dibuat-buat oleh orang tua yang ingin berpisah. Bagaimanapun juga, perceraian selalu membawa dampak kepada orang-orang di sekitarnya.

Mungkin orang tua yang bercerai tetap berhubungan baik dan menghidupi anaknya layaknya orang tua pada umumnya. Tapi, anak tidak hanya hidup dengan orang tua saja. Anak-anak juga hidup dengan nilai-nilai sosial yang ada di sekitarnya sehingga sedikit banyak tetap akan memberikan dampak kepada mereka.

Tidak Ada Mantan Orangtua dan Mantan Anak

Perceraian demi kebahagiaan anak adalah klise yang dibuat untuk menjustifikasi keegoisan orang tua. Tapi, perceraian demi kebahagiaan individu adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri realitasnya.

Oleh karena itu, pasangan yang bercerai memang harus menyadari adanya konsekuensi dari tindakannya tersebut, khususnya konsekuensi yang akan dialami oleh anak. Konsekuensi tersebut tidak selalu datang dari internal keluarga tetapi bisa juga muncul akibat faktor sosial eksternal anak.

Hasil penelitian yang dilakukan Constance R Ahrons (2007) tentang Family Ties After Divorce: Longā€Term Implications for Children menjelaskan bahwa orang tua yang memutuskan bercerai harus tetap bisa menjaga ikatan emosional dan sosial dengan anak.

Anak dari orang tua yang bercerai akan mengalami dampak negatif dari hilangnya sosok harmonis orangtua, mereka secara perlahan juga akan kehilangan hubungan emosional dan sosial dengan keluarga masing-masing orang tua.

Oleh karena itu, pasangan yang bercerai harus memberikan pemahaman yang jelas tentang relasi hubungan orangtua dan keluarga besarnya. Terkadang, meskipun orangtua yang bercerai mampu menjalani hubungan yang baik-baik saja dengan anak tetapi belum tentu keluarga besar bisa melakukan hal yang sama.

Dengan kata lain, jika memang perceraian adalah jalan akhir yang harus ditempuh maka orangtua harus bisa memberikan penjelasan secara perlahan dan sejujur-jujurnya kepada anak dengan kondisi yang akan diterima. Orangtua juga tetap harus selalu ada di samping anak saat dibutuhkan meskipun sudah tidak ada dalam satu atap yang sama.

Tim imaos berharap agar keluarga kalian semua baik-baik saja sehingga selalu memberikan keharmonisan di dalam keluarga dan orang-orang sekitar. Tapi, jika memang ada dari pembaca imaos yang terpaksa harus berpisah, semoga tetap diberi kelancaran dan diberi kebahagiaan kedua di suasana yang lain.