Kerapuhan anak karena cinta benar adanya. Sejatinya, cinta ada pada tiap lapisan usia. Sejak tangisan pertamanya, sang anak sudah mampu merasakan cinta, meski dalam bentuk maupun wujud yang berbeda. Layaknya asap yang tak mungkin muncul tanpa hadirnya api, cinta juga bisa menghadirkan kekecewaan dan patah hati tanpa terkecuali. Seiring pertumbuhan dan perkembangannya, penting bagi anak untuk mendapatkan petunjuk yang tepat mengenai apa itu cinta dan bagaimana cinta bisa hadir dan berkembang dalam dirinya.

Anak akan mengeksplorasi berbagai wujud komunikasi dengan teman-teman sebayanya mulai usia TK hingga SD. Tentunya sudah menjadi naluri bagi orangtua untuk memperlakukan anaknya dengan selembut dan sehangat mungkin. Kerapuhan hati dan seorang anak menjadi latar belakang perlakuan lembut dan penuh kasih sayang.

Kendati demikian, terdapat beberapa anak yang mungkin lebih rapuh dari yang lainnya. Beberapa faktor kerentanan dapat menjadi latar belakang kerapuhan cinta seorang anak, antara lain:

  1. Kesulitan anak dalam memahami atau berkomunikasi,
  2. Kesulitan anak dalam menerima kontak fisik,
  3. Ketakutan anak akan orang lain hingga mencari pelarian dalam dunia mereka sendiri,
  4. Penelantaran atau perlakuan kasar yang diterima anak,
  5. Kondisi disabilitas perkembangan pada anak, seperti retardasi mental, hingga autisme.

Kerapuhan seorang anak dapat membentuk ingatan yang membekas dan berkepanjangan pada perkembangannya. Anak yang menderita perlakuan tidak menyenangkan pada masa kanak-kanaknya kemungkinan besar akan mendapati kesulitan dalam menerima maupun menanamkan cinta. Meskipun termasuk bagian dari insting dasar manusia, perihal mencintai pun perlu ditanamkan pada anak.

Contohnya, apabila anak mengalami penelantaran di awal perkembangannya, sang anak akan membentuk ingatan dan paham bahwa dunia ini tidak menyenangkan dan penuh kerapuhan akan cinta. Jika hal ini dibiarkan, anak akan membentuk sebuah ketakutan yang pada akhirnya hanya bisa ditangani dengan perlakuan khusus. Akibat dari ketakutan ini akan muncul dalam bentuk memalingkan muka ketika bertemu orang baru, menundukkan wajah karena malu, hingga perasaan tidak berharga.

Pentingnya Menanamkan Cinta pada Anak

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Art of Loving’, Erich Fromm mengemukakan mengenai 5 unsur cinta yang positif, yakni perasaan, pengenalan, tanggung jawab, perhatian, dan saling menghormati. Menurut Fromm, tanpa adanya sinergi dari kelima unsur ini, maka cinta tersebut belumlah sempurna. Diperlukan adanya perasaan suka terhadap orang tersebut, lalu berkenalan dengan baik, adanya rasa tanggung jawab dan perhatian, hingga hadirnya rasa saling menghormati satu sama lain. Fromm juga memandang cinta sebagai upaya untuk mengembangkan kepribadian seorang individu.

Tak hanya sebagai sesuatu yang muncul dalam diri, cinta juga hadir untuk dibagi, yang artinya ada unsur interaksi dalam cinta. Sebagai makhluk sosial, sudah sewajarnya seorang individu—dalam hal ini seorang anak—untuk berinteraksi dengan orang lain dan menumbuhkan cinta. Tanpa adanya cinta yang tertanam, maka semakin sulit anak untuk membagi kembali cinta tersebut. 

Tanpa mengesampingkan unsur romansa maupun asmara, cinta penting untuk hadir dalam diri anak guna sang anak tahu bagaimana memberi perhatian maupun menghargai sekitarnya. Untuk menanamkan cinta pada diri anak, anak terlebih dahulu perlu dipastikan bahwa mereka aman dan dicintai, agar mereka merasa aman dan dicintai.

Terkadang konsep cinta yang begitu mendalam bisa menjadi terlalu sulit untuk dipahami oleh anak usia dini, sehingga dibutuhkan bantuan orangtua maupun guru untuk bisa mengajarkan anak mengenai seluk-beluk cinta dan unsur-unsur lainnya.

4 Paham Dasar Cinta pada Buah Hati

McGee, sebagai pakar anak, menemukan ada 4 fase memahami dasar cinta yang sebaiknya diajarkan kepada anak, yakni:

  1. Rasa aman,
  2. Rasa dicintai,
  3. Rasa dilibatkan, serta
  4. Rasa menyayangi

Pertama-tama, anak perlu diyakinkan bahwa ia akan selalu aman berada dengan anda. Yakinkan pada anak bahwa tangan anda tidak akan pernah menyakitinya. Beri anak pemahaman bahwa kata-kata anda tidak akan pernah menjatuhkannya, serta mata anda akan selalu menatapnya dengan hangat dan penuh cinta. Dengan begitu, niscaya rasa aman dan nyaman akan mulai tumbuh pada anak dan kerapuhan cinta tidak akan muncul.

Kedua, anak perlu diberi rasa yang tegas bahwa anda mencintainya dengan sepenuh hati. Anak yang memiliki perasaan bahwa ia dicintai akan lebih mudah untuk menyimpan perasaan tersebut dan membawanya hingga ia dewasa nanti. Yakinkan anak bahwa cinta yang anda berikan tidak bersyarat dan tidak terbatas kondisi apapun.

Ketiga, anak perlu diajari bahwa berada bersama orangtuanya adalah sesuatu yang baik dan menyenangkan, selain rasa aman dan dicintai tadi. Buat anak paham bahwa selain menyenangkan, menghabiskan waktu bersama-sama juga merupakan hal yang penting dan berharga bagi anda dan si buah hati. Buat anak merasa bahwa dirinya terlibat dan dibutuhkan.

Terakhir, setelah anak tahu bahwa dirinya aman, dicintai, dan dilibatkan, anak perlu ditanamkan rasa cinta yang bisa ia lanjutkan ke orang lain. Ajari anak bahwa mencintai orang lain juga penting dan baik untuk dilakukan. Buat anak berperilaku penuh dengan kasih sayang tidak hanya kepada anda tapi juga ke orang lain.

Keempat langkah ini merupakan hal yang vital bagi perkembangan emosional anak. Selain langkah ini, McGee juga memaparkan 3 instrumen pengayoman fisik yang dapat membantu anak merasa lebih dicintai, antara lain:

  • Tangan, yakni untuk memperlakukan anak dengan penuh kelembutan, keamanan, dan cinta.
  • Kata-kata, yakni untuk meninggikan, menyemangati, serta menghargai usaha sang anak.
  • Mata, yakni untuk menatap ke dalam hati sang anak guna memancarkan cinta, pemahaman, serta kehangatan khas orangtua.

Anak yang penuh dengan cinta adalah anak yang punya kesempatan lebih besar untuk tumbuh kembang dengan bahagia dan tanpa hambatan. Dengan hadirnya cinta dalam porsi yang tepat, anak akan lebih mudah untuk mencintai sesama dan ceria tiap harinya.

Referensi

Alekhine, R. (2017, April 26). Psikologi & Cinta. Retrieved from PSYLine

Mcgee, J. J. (2008). Mending Children’s Broken Hearts. A Guide for Parents and Teachers, 1-35.