Pengaruh pola asuh atau parenting merupakan hal yang wajib diketahui oleh para orang tua. Dalam pengertiannya, pola asuh atau parenting adalah suatu upaya pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, ada hal penting yang wajib diketahui oleh para orang tua terkait etimologi pola asuh ini.

“The sum of the influences modifying the expression of the genetic potentialities of organism”

-Webster

Kutipan di atas menjadi indikator penting dalam konsep pola asuh pada anak. Meriam Webster yang mengartikan pola asuh ke dalam nurture mengasumsikan bahwa tindakan mengasuh sama halnya dengan sejumlah perubahan ekspresi yang dapat mempengaruhi genetik yang melekat pada seseorang. Dengan kata lain, menjadi orang tua adalah menjadi panutan bagi anak-anaknya nanti.

Saat ini pemerintah Indonesia sangat gencar sekali dalam menggaunggan revolusi mental dalam rangka membentuk karakter bangsa. Bahkan, revolusi mental yang dicanangkan pemerintah Indonesia ini diturunkan dalam tataran kurikulum pendidikan dasar, yaitu pendidikan karakter anak. Akan tetapi, pembentukan karakter anak tidaklah semudah membuat kurikulum yang didistribusikan dalam beberapa materi pembelajaran. Ada hal yang lebih utama dalam mengupayakan pendidikan karakter anak ini, yaitu membentuk orang tuanya.

Orang Tua dan Pola Asuh Yang Tidak Disengaja

Menurut Singgih (2008) dalam bukunya yang berjudul Dasar dan Teori Perkembangan Anak mengatakan bahwa seringkali orang tua melakukan tindakan-tindakan yang dirasa kurang baik tetapi dilihat anak sehingga terekam dalam memori anak untuk melakukannya sebagai bentuk coping individu. Hal ini sangat mudah kita temukan saat di jalan, seperti orang tua mengajak anaknya berpergian tetapi tidak menggunakan helm. Ada juga orang tua yang tidak sengaja membuang bungkus permen seenaknya karena tidak ada tempat sampah di dekatnya saat sedang jalan-jalan dengan anaknya.

Fenomena seperti ini mungkin kelihatan biasa saja bagi sebagian masyarakat Indonesia. Kasus buang sampah sembarangan misalnya. Sangat jarang orang yang rela membawa bungkus permen yang ukurannya kecil untuk nantinya di buang di tempat sampah. Kebanyakan berasumsi bahwa bungkus permen itu kecil, sedangkan tempat sampahnya jauh maka buang sampah sembarangan mungkin dapat pemakluman.

Namun, hal kecil ini bisa berdampak pada pembentukan karakter anaknya untuk membuang sampah pada tempatnya. Jika anak adalah hasil imitasi genetis dari perilaku pola asuh maka sekecil apapun yang dilakukan oleh pengasuh pasti akan memberikan dampak yang bersifat jangka panjang. Di sisi lain, orang tua memiliki harapan agar anak-anaknya menjadi pribadi yang baik untuk keluarga dan negara.

Beberapa Kasus Kecil dalam Kesalahan Pola Asuh

Contoh kasus sederhana yang marak terjadi saat ini misalnya, melarang anak bermain handphone berlebihan. Fenomena ini marak terjadi di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Banyak anak yang gemar menghabiskan waktu di layar smartphone daripada belajar. Tidak mungkin seorang anak melakukan hal tersebut jika tidak melihat pengasuhnya sering memainkan smartphone saat bersama anak yang diasuhnya.

Dalam hal ini, banyak orang tua yang tidak sengaja mengajarkan menghabiskan waktu di layar smartphone. Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, tetapi waktu bersama anak menjadi tidak berkualitas. Mungkin anak belum bisa komplain terhadap perilaku tersebut, tetapi orang tua seringkali mempermasalahkan jika anak yang melakukannya. 

Pola asuh yang tidak disengaja seperti inilah yang menjadikan kesan bahwa anak kita bandel atau sulit diatur. Padahal jika kita memahami konsep pola asuh berarti adalah sejumlah ekspresi yang mempengaruhi genetik dari pengasuh kepada yang diasuh. Dalam kasus ini, dari orang tua kepada anaknya. Dengan kata lain, apa yang menjadikan anak sulit dibentuk karakternya karena memang orang tua tidak pernah menjadi contoh karakter yang diinginkan oleh orang tua itu sendiri.   

Implikasi Pola Asuh Bagi Anak-Anak

Menurut psikolog asal Amerika, Gordon W. Allport, mengatakan bahwa organisasi dinamis dalam setiap individu sebagau sistem psikofisis dapat menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Selain itu, hal tersebut mempengaruhi kepribadian yang terus berkembang dan berubah meskipun ada organisasi yang mengikat dan menghubungkan sebagai komponen kepribadian.

Maksud pernyataan Allport tersebut mengindikasikan bahwa pola asuh yang diterapkan secara sengaja maupun tidak sengaja kepada anak dapat menentukan caranya menyesuikan diri dengan lingkungannya. Apa yang dilihat anak dalam kurun waktu tertentu dapa ditiru sebagai suatu proses menyesuaikan diri sehingga jika orang tua sering memainkan smartphone saat kumpul bersama keluarga bisa menjadi pemicu anak memilih bermain smartphone daripada mendengarkan nasihat orang tuanya.

Dengan kata lain, anak merupakan cerminan orang tuanya sebagai role model pertama dan paling lama sehingga sistem psikofisi dapat berimplikasi pada karakter anak. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita harus berhati-hati dalam berkata dan bertindak. Apalagi saat orang tua di depan anak-anaknya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya orang tua mencontohkan hal baik di depan anak-anaknya. Hal Ini menjadi pekerjaan rumah bagi orang tua dalam membentuk karakter diri terlebih dahulu sebelum membentuk karakter orang lain, khususnya karakter anak-anaknya sendiri.