Banyak orang tua di Indonesia yang membedong bayi mereka, khususnya di awal 3 bulan usia bayi. Setiap orang tua pasti mengharapkan bayinya bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal, baik secara motorik, kognitif, bahasa, dan psikososial. Anak yang telah mengalami perkembangan yang optimal dapat dilihat dari ciri-ciri sesuai aspeknya.

Misalnya aspek keterampilan motorik. Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak anak. Anak dapat dikatakan memiliki perkembangan motorik yang optimal saat dia bisa mencapai tonggak perkembangan motorik sesuai usianya.

Perkembangan motorik anak bisa dikatakan normal apabila tidak ada keterlambatan. Sementara itu, anak dikatakan mengalami keterlambatan motorik jika anak belum bisa mencapai dua keterampilan motorik sesuai tonggak perkembangan motorik.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi laju perkembangan motorik anak. Faktor-faktor tersebut mencakup faktor genetik, asupan nutrisi, sosial ekonomi, dan lingkungan. Selain faktor-faktor tersebut, budaya ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan motorik anak. Pasalnya, budaya kerap dikaitkan dengan pola perilaku masyarakat di suatu wilayah. Dengan kata lain, budaya setempat di mana anak dilahirkan akan menentukan bagaimana dia diperlakukan, dididik, dan dirawat.

Budaya membedong bayi

Terkait dengan budaya merawat bayi, dalam budaya Jawa dikenal istilah bedong. Bedong merupakan sebuah metode yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa untuk membalut tubuh bayi dengan kain, terutama untuk bayi yang baru lahir.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa bayi yang tidak dibedong akan menyebabkan kakinya menjadi bengkok saat besar nanti. Masyarakat Jawa juga meyakini bahwa bedong akan membuat bayi tidur lebih nyenyak dan lebih tenang. Ada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa bayi lebih tenang saat dibedong karena dia merasa diingatkan dengan tempat yang familiar, yaitu saat bayi masih di dalam kandungan.

Bedong juga dapat menghindarkan bayi dari dari refleks moro. Refleks moro merupakan refleks alamiah yang dimiliki bayi pada bulan-bulan awal kelahirannya. Biasanya, refleks ini timbul karena adanya suara, sentuhan, atau perubahan cahaya mendadak. Refleks inilah yang terkadang membuat bayi kaget dan terbangun dari tidurnya.

Kendati demikian, bukan berarti tidak ada risiko dalam budaya membedong bayi. Membedong bayi dikhawatirkan dapat membuat bayi mengalami displasia pinggul. Displasia pinggul merupakan kondisi ketika tulang-tulang yang menyusun pinggul tidak terhubung secara pas. Seseorang yang menderita kelainan ini akan mengalami kesulitan untuk menjaga kestabilan saat berdiri dan berjalan. Membedong bayi terlalu ketat juga bisa membuat bayi merasa kepanasan. Risiko terbesarnya, bayi bisa mengalami infeksi pada saluran pernapasannya.

Membedong menghambat perkembangan motorik bayi

Membedong bayi juga dikhawatirkan dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik anak. Pandangan ini lahir dari asumsi bahwa saat bayi dibedong, dia tidak memiliki banyak ruang gerak. Akibatnya, bayi tidak bisa melakukan aktivitas untuk melatih keterampilan motoriknya.

Untuk membuktikan asumsi tersebut, Solikah dan Suminar (2017) mengamati perkembangan motorik 28 bayi yang dibedong. Hasilnya, bayi-bayi yang dibedong sampai usia 45 hari tidak menunjukkan tanda adanya keterlambatan perkembangan motorik di usia 3 bulan. Sementara itu, 2 dari 8 bayi yang dibedong sampai usia 60 hari mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya. Sedangkan bayi yang dibedong hingga usia 75-105 hari semuanya menunjukkan tanda keterlambatan dalam perkembangan motoriknya.

Berdasarkan penelitian tersebut, bisa disimpulkan bahwa membedong memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan motorik bayi. Apalagi jika bayi dibedong sampai usianya lebih dari 60 hari.

Kendati demikian, bukan berarti orang tua tidak diperkenankan membedong bayinya. Apalagi bedong bayi dapat membuat bayi merasa lebih tenang dan lebih nyenyak saat tidur. Pastikan juga kain yang membalut bayi tidak terlalu ketat sehingga masih memberikan ruang gerak bagi bayi. Hentikan kebiasaan membedong menjelang bayi berusia 45 hari.

Referensi:

Solikah, Siti N & Suminar, Saka. 2017. Pengaruh Pemberian Bedong terhadap Perkembangan Motorik Bayi Usia 3 Bulan. Unnes Journal of Public Health 6 (3) (halaman 203-208)

Shabariah, Rahmini., Farsida., dan Prameswari, Indri. 2019. Hubungan Ukuran Lingkar Kepala dengan Perkembangan Anak Usia 12 – 36 Bulan Berdasarkan Skala Denver Development Screening Test-II

(DDST-II) di Posyandu RW 03 Mustika Jaya Bekasi Timur November 2016. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol. 15, No. 1 (halaman 46-55)

Putri, Resthie Rachmanta. 18 Oktober 2018. Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Bedong Bayi. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3616527/mengenal-kelebihan-dan-kekurangan-bedong-bayi

Veratamala, Arinda. _______. 5 Manfaat Membedong Bayi, dan Bagaimana Cara Bedong yang Aman. https://hellosehat.com/parenting/tips-parenting/cara-manfaat-membedong-bayi/

Childdevelopment.com.au. ______. Child Development Chart. https://childdevelopment.com.au/resources/child-development-charts/gross-motor-developmental-chart/

Psycholigymania.com. _______. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak. https://www.psychologymania.com/2012/09/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_19.html

Alodokter.com. _________. Hati-hati, Inilah Bahayanya Membedong Bayi. https://www.alodokter.com/hati-hati-inilah-bahayanya-membedong-bayi

Savio, Sherly Desnita. 18 Mei 2018. Benarkah Bedong Dapat Meluruskan Kaki Bayi yang Bengkok?. https://www.depokpos.com/2018/05/benarkah-bedong-dapat-meluruskan-kaki-bayi-yang-bengkok/