Pengaruh kemoterapi pada anak bisa membuat anak merasa sangat tidak nyaman. Berbagai gangguan kesehatan yang kronis atau berlangsung lama berpengaruh besar tidak hanya pada kesehatan fisik penderitanya, namun juga pada keseluruhan hidup penderita, termasuk keluarga dan sekolah. Apalagi jika penderita penyakit kronis masih anak-anak atau remaja. Proses pengobatan yang panjang membuat penderita usia anak-anak dan remaja merasa berbeda dari teman-teman sebayanya.

Kanker adalah salah satu penyakit kronis yang membutuhkan serangkaian proses pengobatan panjang untuk bisa sembuh. Proses pengobatan penyakit kanker meliputi beberapa metode, yakni pembedahan, kemoterapi, dan radiasi (James & Ashwill, 2007). Pemilihan metode pengobatan disesuaikan dengan jenis kanker yang diderita oleh pasien. Ada yang menerapkan ketiga jenis metode pengobatan. Ada juga yang hanya menerapkan satu metode pengobatan. Namun secara umum, kemoterapi cukup banyak digunakan pada pengobatan beberapa jenis kanker untuk membatasi tumbuhnya sel-sel kanker.

Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker atau membunuh sel kanker dengan obat-obat anti kanker (Ball & Bindler, 2003). Namun demikian, pengobatan dengan metode kemoterapi juga memiliki efek samping bagi pasien. Setelah melakukan kemoterapi, biasanya anak penderita kanker akan mengalami pengaruh seperti mual, muntah, demam, diare, stomatitis (luka pada mulut dan gusi), rambut rontok, gangguan pergerakan, hingga penurunan fungsi kognitif (Bowden & Greenberg, 2010).

Pengaruh dan efek samping kemoterapi pada anak

Pengaruh yang ditimbulkan dari kemoterapi menjadi hal yang kerap ditakuti oleh penderita, khususnya pada anak-anak. Banyak penderita kanker yang memilih alternatif pengobatan lain untuk menghindari kemoterapi dan efek sampingnya (Hayati & Wanda, 2016).

Selain efek samping yang disebutkan di atas, anak pengidap kanker masih harus menjalani rawat inap setelah melakukan sesi kemoterapi. Masa-masa rawat inap dan pengaruh kemoterapi pada anak membuat anak kehilangan waktu untuk melakukan rutinitasnya seperti sekolah dan bermain. Padahal usia sekolah merupakan waktunya anak menjalin persahabatan dengan teman sebaya dan berinteraksi dengan guru, orang tua, dan orang dewasa lain. Namun dengan adanya proses pengobatan kanker yang panjang, anak jadi jauh dari lingkungan sekolah dan tidak berada di tengah keluarga dalam waktu yang relatif lama.

Panjangnya proses pengobatan dan frekuensi anak keluar-masuk rumah sakit juga berpengaruh pada kemampuan belajarnya di sekolah (Harila-Saari, et al., 2007). Lantas sejauh apa kemoterapi mempengaruhi kemampuan belajar anak pengidap kanker di sekolah?

Untuk mengetahui hal itu, Hayati & Wanda (2016) mengamati efek kemoterapi pada  anak usia 9-12 tahun. Semua partisipan sudah menjalani kemoterapi lebih dari dua kali.

Pengaruh kemoterapi membuat anak ketinggalan pelajaran

Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa proses kemoterapi membuat mayoritas anak pengidap kanker mengalami hambatan dalam mengikuti proses belajar di sekolah. Hambatan dan pengaruh kemoterapi yang dialami pada anak pengidap kanker terdiri atas tertinggal pelajaran sampai harus tinggal kelas.

Proses kemoterapi yang membuat anak sampai harus mengejar ketertinggalan mata pelajaran diwakili oleh pernyataan salah satu partisipan yang mengatakan.

Sementara itu, beberapa partisipan lain mengaku sampai harus tinggal kelas dan masing-masing harus mengulang di kelas 5 dan kelas 6.

Ya, ngulang sekolah dulu. Nanti ngulang kelas lima aja.” (Partisipan 2)

Ketinggalan. Harus ngulang lagi, ngulangnya ya itu dari itu–ulangan lagi di kelas 6.” (Partisipan 3)

Faktor kemoterapi pada proses belajar di sekolah

Ada dua faktor yang membuat anak pengidap kanker mengalami hambatan dalam menjalani proses belajar di sekolah. Yang pertama akibat ketidakhadiran. Setelah menjalani pengaruh kemoterapi pada anak, biasanya anak masih harus menjalani rawat inap sehingga mereka tidak bisa hadir dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Akibat ketidakhadiran tersebut, anak pengidap kanker jadi tidak mendapatkan materi pembelajaran secara lengkap. Bila anak masih dapat menghadiri kelas, masih ada kemungkinan mereka tetap mampu mengikuti pelajaran dengan baik. 

Yang kedua adalah efek samping dari kemoterapi. Anderson dan Kunin-Batson (2009) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh kemoterapi pada fungsi kognitif anak. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak yang baru saja menjalani proses kemoterapi mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal pelajaran. Pasalnya, ingatan dan konsentrasi jangka pendek anak yang baru saja menjalani kemoterapi biasanya melemah.

Kondisi ini membuat anak serba salah. Jika dia tidak menjalani proses pengobatan sesuai prosedur, maka kesehatannya terganggu. Di sisi lain, proses kemoterapi juga berpengaruh buruk pada kemampuan belajar anak. Selain karena pengaruh kemoterapi pada anak, rawat inap yang dijalani anak pengidap kanker membuat mereka tidak bisa hadir ke sekolah.

Oleh karena itu, penting juga untuk tetap mempertahankan aktivitas belajar selama anak menjalani pengobatan di rumah sakit. Kegiatan belajar ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi anak. Penyelenggara pendidikan hendaknya dapat memodifikasi sistem pembelajaran yang bisa diikuti oleh anak pengidap kanker.

Referensi:

Hayati, Happy & Wanda, Dessie. 2016. Ketinggalan Pelajaran: Pengalaman Anak Usia Sekolah Menjalani Kemoterapi. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 19 No.1, Maret 2016, hal 8-15