Sebelum anak beranjak ke usia remaja, nilai keagamaan yang dianut orang tua dianggap memiliki efek yang lebih kuat terhadap kemaslahatan anak daripada nilai keagamaan si anak sendiri. Dalam presentasinya di Princeton University mengenai agama dan keluarga, Bradford Wilcox (2001) mengemukakan mengenai pengaruh partisipasi orang tua dalam aktivitas keagamaan terhadap pola asuh anak.

Dalam penjabarannya, Wilcox menyebutkan 3 bentuk pengaruh agama terhadap pola asuh anak, yakni:

1. Agama memiliki pengaruh mengatasi tekanan dalam membesarkan anak

Membesarkan anak bukanlah hal yang mudah. Bahkan orang yang sudah mempelajari pola pengasuhan anak bertahun-tahun pun masih bisa merasa sulit ketika ia merasakan menjadi orang tua secara langsung.

Jam tidur yang berkurang, mimpi yang harus dikorbankan, serta ego yang harus dikesampingkan, menjadikan tanggung jawab sebagai orang tua menjadi sangat berat bagi sebagian orang. Tidak jarang orang tua pun menjadi stres.

Belum lagi menumpuknya tuntutan orang tua di era sekarang. Orang tua diminta untuk memastikan kebutuhan akademik, emosional, psikologis, mental, spiritual, fisik, nutrisi, serta kebutuhan sosial anak, semua terpenuhi. Di samping itu, orang tua juga diminta untuk memberi stimulus pada anak dengan porsi yang tepat; membesarkan anak dengan pola yang otoritatif; mendidik tanpa mengabaikan kebebasan anak; lembut namun tegas; menyediakan tempat tinggal yang bersih, sehat, aman, dan nyaman; serta memanfaatkan segala bentuk produk-produk yang dipercaya baik bagi tumbuh kembang anak.

Segelintir tuntutan ini tentunya bisa membuat orang tua pusing tiada henti. Sejatinya, tidak ada yang benar-benar mendidik atau menyiapkan kita untuk menjadi orang tua. Di sini lah agama hadir. Agama memberikan pengaruh terhadap peran seorang orang tua bagi anak. Banyak orang tua yang menjadikan agama sebagai wadah dan payung tempat berlindung di kala tugas sebagai orang tua menjadi terlalu berat.

Seringkali agama dijadikan instrumen dalam mengatasi stres. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rogers-Dulan & Blacher (1995), orang tua dari anak berkebutuhan khusus (ABK) atau anak dengan kelainan fisik yang permanen, mengaku dibantu oleh agama dalam menerima kenyataan yang ada.

Agama mempengaruhi orang tua dalam menyusun pemahaman atau alasan dari suatu kejadian. Contohnya, ketika orang tua menganggap bahwa anak mereka adalah anugerah dari Tuhan, atau ketika seseorang percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang tidak bisa dilalui oleh hamba-Nya.

Selain itu, penerapan ritual ibadah maupun kegiatan keagamaan lainnya kerap menjadi penolong di kala orang tua mencari harapan atas petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

2. Meningkatkan kedekatan orang tua-anak

Agama serta berbagai aktivitas keagamaan menyediakan kesempatan bagi orang tua dan anak untuk berpartisipasi dan berkegiatan bersama-sama. Contohnya seperti membimbing anak membaca kitab suci, pergi ke tempat ibadah untuk pertama kali, berpuasa bersama, merayakan hari besar agama bersama keluarga, dll.

Dalam berbagai agama, menjalani ibadah bersama keluarga merupakan pengalaman spiritual yang penting. Bagi pasangan yang belum memiliki anak, kegiatan beribadah bersama bisa mempererat ikatan batin antara suami dan istri. Selain itu, beribadah bersama juga bisa menjadi wadah yang spiritual dan penuh kesejukan dalam mendidik anak.

Momen hari raya di tiap agama, seperti perayaan Idul Fitri dalam Islam, perayaan Natal dalam Katolik dan Kristen, Waisak dalam Buddha, Nyepi dan Galungan dalam Hindu, perayaan Imlek dalam Kong Hu Chu, dan masih banyak hari besar agama lainnya, kerap menjadi momen yang berharga bagi keluarga. Pada momen ini kebanyakan orang pasti ingin menghabiskannya dengan keluarga tercinta. Selain itu, perayaan hari besar agama juga bisa menjadi pengaruh dan momen yang tepat untuk mengajarkan anak mengenai budaya dan ritual keagamaan dengan cara yang menyenangkan dan sakral.

Orang tua dapat memberikan contoh dalam menjalani ibadah dan sang anak akan mencontoh orang tuanya. Kegiatan mendidik anak dalam agama ini bisa meningkatkan kedekatan batin antara anggota keluarga karena materi agama tidak hanya mempersoalkan teori belaka, namun juga rasa.

3. Agama memiliki pengaruh menjalin hubungan yang kian dekat dengan keluarga dan anak lain

Kegiatan beragama tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Sebagian besar ajaran agama selalu mengajak pengikutnya untuk berbuat baik pada orang lain dan menyebarkan kebaikan. Itulah mengapa seringkali kita temukan komunitas dalam masyarakat yang berbasis agama.

Selain adanya kesamaan dalam keyakinan, beragama dan berkehidupan sosial juga memiliki imbas dalam menjalani keseharian. Dalam agama, kita mengenal istilah jamaah. Dari segi bahasa, jamaah sendiri memiliki arti berkumpul. Secara istilah, jamaah dapat diartikan sebagai pelaksanaan ibadah secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang imam. Meskipun memiliki makna majemuk, praktek budaya ber-jamaah lebih luas dari sekedar cakupan keluarga. Bersosialisasi dan beraktivitas dengan sesama penganut agama lainnya juga termasuk dalam lingkup jamaah.

Dalam budaya kehidupan perkampungan, kehidupan sosial berbasis agama merupakan hal yang vital. Di tanah Jawa, dikenal budaya srawung dan gotong-royong. Srawung dapat diartikan sebagai pertemuan atau bertemu. Gotong-royong juga memiliki arti saling membantu atau bekerja sama atau bahu-membahu dalam melakukan sesuatu.

Ketika orang meninggal, menikah, atau pada perhelatan lainnya, biasanya kita membutuhkan bantuan orang lain atau orang sekitar. Dengan adanya ikatan komunitas berbasis agama yang dibumbui budaya srawung dan gotong-royong, hidup bermasyarakat jadi lebih mudah.

Berkaitan dengan pola asuh anak, orang tua dapat mengajarkan mengenai keindahan dan pengaruh agama dengan cakupan yang lebih luas dari sekedar lingkup keluarga. Anak menjadi paham bahwa beragama itu tidak selalu soal urusan pribadi dengan Tuhan, tapi juga menjadi urusan diri dengan orang sekitar.

Secara langsung, agama mempengaruhi gaya pengasuhan anak, cara orang tua mengatasi masalah, serta pandangan keluarga terhadap keluarga lain. Kehidupan beragama yang seharusnya adalah kehidupan yang damai, ramah, dan peduli dengan sekitar. Bukan hanya anak yang perlu belajar dari agama—orang tua juga memerlukan agama untuk belajar.

Referensi

Bridges, L. J., & Moore, K. A. (2002, January). Religion and Spirituality in Childhood and Adolescence. Child Trends, 1-62.

Mayo Clinic. (2019, March 15). Spirituality and stress relief: Make the connection. Diambil kembali dari Mayo Clinic

Wallace, P. (2010, July 17). RELIGIOUS ACTIVITIES AND THE FAMILY. Diambil kembali dari Focus on The Family