Perawatan paliatif untuk anak sekarat itu penting, namun belum banyak yang mengetahuinya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online mendeskripsikan kata sekarat sebagai keadaan saat-saat menjelang kematian atau menjelang ajal tiba. Definisi ini biasanya mengacu pada kondisi anak yang mengidap penyakit kronis atau penyakit mematikan.

Karena itu, sistem perawatan paliatif atau palliative care diciptakan. Pediatric palliative care atau perawatan paliatif untuk anak merupakan sebuah upaya merawat anak yang sedang dalam kondisi mengidap penyakit kronis atau sedang sekarat. Perawatan paliatif menggunakan dan mengusahakan segala upaya dengan tujuan meringankan penderitaan anak.

Banyak orang yang salah dalam memahami perawatan paliatif. Perawatan paliatif bukan sebuah usaha akhir yang bersifat merelakan maupun mengantar kepergian anak. Justru perawatan paliatif biasanya dilakukan sebagai upaya tambahan seiring dilakukannya upaya penyembuhan penyakit dengan terapi dan obat-obatan.

Ketika anak menghadapi perawatan terhadap penyakit kronis, penderitaan tak hanya hadir dari gejala penyakit tersebut, namun juga bisa dari efek samping pengobatan, kecemasan terhadap diagnosis, hingga keraguan akan masa depan dirinya. Di sinilah perawatan paliatif digunakan.

Karena perawatan paliatif menyasar kemaslahatan sang anak, maka keluarga dan masyarakat juga harus dilibatkan. Dengan adanya keterlibatan anggota keluarga dan masyarakat dalam perawatan si anak, maka sasaran dari perawatan paliatif ini juga melebar. Kemaslahatan anggota keluarga dan masyarakat juga diperhitungkan.

Mengapa perawatan paliatif penting untuk anak

Setiap anak akan merasakan dampak dari sebuah penyakit dengan cara yang berbeda-beda tergantung dari usia dan tahap perkembangannya. Masalahnya, berbicara mengenai penyakit kronis dan kematian kepada seorang anak bukanlah hal yang mudah. Topik satu ini membutuhkan perhatian yang seksama, terutama pada tahap perkembangan si anak.

Bagi anak usia balita, penyakit yang mengancam nyawa kerap dihubungkan dengan gejala yang menghasilkan rasa sakit, rutinitas yang terganggu, serta sering terpisah dengan sosok yang biasa lekat, seperti orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Bagi anak usia remaja, penyakit yang mengancam nyawa kerap dihubungkan dengan perubahan bentuk tubuh, hubungan dengan teman yang semakin renggang, serta kemandirian yang terbatasi.

Ketika anak mengidap penyakit kronis, kondisi ini bisa mendorong kedewasaan pola pikir anak yang melampaui perkembangan usianya. Maka dari itu, bermain merupakan kegiatan yang tak boleh hilang dari keseharian anak yang sakit. Aspek bermain ini juga merupakan satu dari sekian penerapan perawatan paliatif untuk anak. Bagi anak, bermain merupakan metode paling asyik untuk memahami dunia ini dan cara kerjanya.

Sama halnya seperti bermain, lingkungan sekolah juga menjadi wadah belajar dan bergaul yang penting bagi anak. Tanpa disadari, rutinitas sekolah mampu memberikan ritme kehidupan serta atmosfer yang normal bagi anak di tengah segala kekalutan yang dihasilkan oleh penyakit kronis.

Selain bermain, perihal pengambilan keputusan juga penting untuk dibahas dalam perawatan paliatif. Dalam kondisi mengidap penyakit kronis, anak kerap kehilangan kemampuan untuk bertindak secara mandiri, sehingga anak harus bergantung pada orang tua atau sosok dewasa lainnya untuk mengambil keputusan terkait kesehatannya.

Sayangnya, seringkali orang tua memaksakan kehendak dan menuntut metode perawatan yang mungkin bukanlah pilihan terbaik untuk anak. Pengambilan keputusan hendaknya melibatkan anak jika memungkinkan. Jadi, sebuah pengambilan keputusan merupakan hasil diskusi terbaik yang melibatkan orang tua, pihak dokter, serta keinginan anak itu sendiri.

Pasalnya, anak berusia 7 tahun yang sudah menjalani penyakit kanker sepanjang hidupnya pastinya lebih memahami mengenai kondisi penyakit kanker daripada anak usia 17 tahun yang hanya pernah masuk rumah sakit karena flu ringan.

Dimana perawatan paliatif sebaiknya dilakukan?

Bagi kebanyakan orang tua, perawatan paliatif merupakan pelengkap dari perawatan yang biasa mereka berikan pada anak. Semakin kecil tubuh fisik anak, maka semakin realistis juga pilihan untuk merawat anak di rumah.

Selain itu, merawat anak di rumah juga mampu memberikan perasaan aman pada keluarga dan pasien, karena lingkungan yang familiar dan bebas dari hiruk-pikuk rumah sakit. Ditambah lagi, privasi di rumah juga lebih terjaga. Orang tua juga bisa tetap mengasuh anak lainnya dan mampu mengontrol situasi.

Keuntungan lainnya dari merawat anak di rumah adalah anak merasa lebih nyaman. Biasanya, anak lebih senang dirawat di rumah karena ia akan mudah mengakses mainan kesukaannya, binatang peliharaan kesayangannya, serta dekat dengan teman-teman dan keluarganya.

Kendati demikian, merawat anak di rumah bukanlah pilihan yang mudah bagi orang tua. Untuk bisa memenuhi keinginan anak untuk dirawat di rumah, orang tua harus mampu menyediakan waktunya untuk merawat anak kapanpun dibutuhkan, seperti memberi anak obat, memberikan suntikan, memasang saluran IV, menjaga pola makan anak, hingga memastikan rumah memiliki ventilasi yang cukup.

Selain itu, beban mental yang diemban orang tua akibat merawat anak di rumah juga cukup berat. Dalam beberapa kasus, banyak orang tua yang kesulitan membagi peran antara menjadi orang tua dan menjadi perawat. Rasa lelah, kesulitan finansial, hingga kecemasan biasanya menjadi imbas yang membebani para orang tua.

Namun selain rumah, ada juga beberapa keluarga yang merasa rumah sakit menjadi tempat yang cukup baik untuk merawat anak yang sekarat. Khususnya bagi keluarga yang sudah sering mengunjungi rumah sakit bersama anaknya. Rumah sakit menjadi lokasi yang familiar, dikarenakan rumah sakit penuh dengan para staf dan orang-orang yang sudah memahami kondisi mereka.

Orang tua harus paham bahwa pilihan perawatan paliatif itu ada, penting, dan jelas berguna. Dengan mengetahui adanya opsi perawatan paliatif, harapannya orang tua jadi bisa memberikan perawatan terbaik,  agar anak bisa memiliki kualitas hidup yang optimal dan bahagia.

Referensi

Collins, S. (2011). Pediatric Palliative Care: Easing Your Child’s Suffering. Diambil kembali dari Web MD.

Hynson, J. L., Gillis, J., Collins, J. J., Irving, H., & Trethewie, S. J. (2003). The dying child: how is care different? Journal of Palliative Care, 179, 20-22.