Seperti halnya seperti fashion, pernikahan pun memiliki perubahan trennya sendiri, seperti pacaran dulu atau taaruf. Pada zaman dulu pernikahan lebih sering dimulai karena perjodohan dari dua keluarga, dimana baik calon pengantin pria maupun pengantin pria belum pernah bertemu sebelumnya. Bahkan fenomena itu diabadikan oleh Marah Roesli dalam roman berjudul Kasih Tak Sampai, dengan tokohnya yang sangat terkenal, Siti Nurbaya. Sekarang, para pemuda dan pemudi umumnya menjalin hubungan yang disebut pacaran sebelum akhirnya memasuki jenjang pernikahan.

Kemudian satu tren pernikahan baru kembali muncul, terutama di kalangan muda-mudi muslim. Setelah sebelumnya muncul suatu tren menikah dini untuk mencegah perzinahan, akhir‐akhir ini muncul tren pernikahan tanpa melalui proses pacaran atau yang dikenal dengan sebutan taaruf.

Kelebihan dan kekurangan taaruf

Pernikahan dengan pacaran atau taaruf pasti mempunyai sisi positif dan sisi negatifnya masing-masing. Bagi yang pro taaruf,  mereka memandangnya bisa menghindari pergaulan yang melanggar syariat. Bahkan ketika umur sudah masuk dalam usia pernikahan, taaruf menjadi jalan satu-satunya untuk mendapatkan jodoh.

Bagi kalangan yang kontra, mereka memandang bahwa taaruf adalah tren saja. Ini terjadi karena banyaknya pemberitaan terkait taaruf di kalangan public figure terekspos ke tengah masyarakat. Hal itu kemudian mendorong sejumlah remaja untuk berbondong-bondong melakukan proses taaruf daripada pacaran. Ada juga yang proses perkenalan yang cenderung singkat pada taaruf membuat pasangan suami istri sulit mendapatkan tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi.

Kepuasan pernikahan pada pasangan yang sempat pacaran dan taaruf

Kepuasan pernikahan adalah persepsi terhadap kehidupan pernikahan seseorang yang diukur dari besar kecilnya kesenangan yang dirasakan dalam jangka waktu tertentu di antara pasangan (Roach dalam Pujiastuti dan Retnowati, 2004). Baik suami maupun istri dapat mengalami ketidakpuasan dalam pernikahan meskipun tidak ada konflik dalam rumah tangganya. Namun mereka juga dapat memiliki tingkat kepuasan yang tinggi meski dalam kehidupan rumah tangga terdapat masalah yang silih berganti (Ardhianita & Andayani, 2005).

Kepuasan pernikahan juga menjadi faktor yang penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Kegagalan pernikahan datang ketika satu atau lebih anggota keluarga merasa tidak puas. Hambatan pemenuhan kebutuhan satu atau lebih anggota keluarga akan menimbulkan ketidakpuasan (Ardhianita & Andayani, 2005).

Baik pacaran atau taaruf butuh masa perkenalan

Burgess dan Cotrell (dalam Landis dan Landis, 1963) menyatakan bahwa kebahagiaan dalam pernikahan lebih banyak terjadi pada pasangan yang mempunyai masa perkenalan 5 tahun atau lebih, sebaliknya hanya sedikit pasangan yang mencapai kebahagiaan dengan masa perkenalan yang singkat (kurang dari 6 bulan).

Dengan masa perkenalan yang semakin lama maka penyesuaian antar pasangan akan lebih baik. Seseorang akan lebih mengerti kebiasaan‐kebiasaan, perilaku ataupun kepribadian pasangannya. Dengan demikian, ketika mereka akan melanjutkan ke jenjang pernikahan tidak akan ada keterkejutan‐keterkejutan karena terbiasa dengan kebiasaan masing-masing.

Perbedaan tingkat kepuasan antara pasangan yang pacaran dan taaruf

Lalu benarkan bahwa pasangan yang melalui proses pacaran cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih baik daripada pasangan yang bertemu dengan proses taaruf? Untuk mengetahui hal itu Ardhianita & Andayani (2005) telah meneliti laki-laki dari dua kelompok, yakni kelompok yang pacaran sebelum menikah dan kelompok yang menikah tanpa pacaran.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa ada banyak pandangan yang mengatakan bahwa pasangan suami istri yang pacaran sebelum menikah cenderung memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibadingkan yang menikah tanpa pacaran. Dalam penelitian yang dilakukan Ardhianita & Andayani pun juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepuasan di antara kelompok pasangan yang berpacaran dan pasangan yang menikah tanpa berpacaran.

Namun yang menarik, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pernikahan kelompok pasangan yang menikah tanpa berpacaran ternyata lebih tinggi dibandingkan pasangan yang berpacaran sebelum menikah. Hal ini mematahkan asumsi bahwa kelompok yang lebih tinggi kepuasan pernikahannya adalah kelompok yang berpacaran sebelum menikah.

Faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pasangan taaruf lebih tinggi

Hal ini dapat saja disebabkan kelompok responden yang tidak berpacaran sebelum menikah mempunyai tingkat religiusitas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok subjek yang berpacaran. Hal ini didukung oleh pernyataan Hurlock (1953), bahwa secara umum kepuasan pernikahan akan lebih tinggi di antara orang‐orang religius daripada orang‐orang dengan religiusitas rendah.

Alasan ajaran agama juga menjadi salah satu alasan mengapa kelompok yang menikah tanpa pacaran, memilih jalan tersebut. Sebagian besar responden dari kelompok yang tidak berpacaran sebelum menikah mengatakan bahwa pacaran merupakan suatu hubungan yang tidak ada dalam syariat Islam yang akan mendatangkan kerugian dan dosa bagi yang melakukannya. Nilai agama yang telah diyakini ini yang membuat mereka menghindari pacaran sebelum pernikahan. Solusi yang mereka tawarkan adalah melakukan pacaran setelah menikah yang menurut mereka akan lebih bermanfaat dan sah dilakukan dengan pasangan.

Bahkan hampir semua responden dari pasangan yang pacaran atau taaruf berpendapat bahwa pacaran tidak akan banyak membantu dalam mencapai kebahagiaan pernikahan. Hanya beberapa subjek yang melihat kemungkinan berpacaran akan mendukung pasangan suami istri mencapai kepuasan pernikahan.

Dengan kata lain, pernikahan yang diawali dengan pacaran maupun tidak, mempunyai peluangnya yang sama untuk membangun keluarga yang bahagia dengan tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi.

Referensi:

Ardhianita, Iis & Andayani, Budi. 2005. Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Berpacaran dan Tidak Berpacaran. Jurnal Psikologi Volume 32, No. 2, 101-111

Sariyani. 20 Januari 2019. Ta’aruf, Tren atau Kebutuhan?