Percayakah Anda kalau LDR mampu membuat hidup jadi lebih sehat? Menjalani hidup yang penuh cinta selalu dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik. Menurut Brown, Bulanda, dan Lee (2005), orang yang sudah menikah memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik daripada orang yang single atau belum menikah.

Kendati demikian, tidak semua hubungan romantis memiliki pengaruh yang setara terhadap kesehatan seseorang. Pengaruh hubungan romantis terhadap kesehatan ditentukan oleh beberapa faktor spesifik. Faktor-faktor ini mencakup kepuasan pernikahan, strategi merawat hubungan, stres dalam hubungan, serta hubungan seksual.

Faktor-faktor penunjang hubungan LDR yang membuat hidup lebih sehat

Strategi merawat hubungan merupakan tindakan yang diambil oleh pasangan guna menjaga hubungan mereka. Biasanya strategi ini mengerucut pada frekuensi, gaya, dan kapasitas komunikasi yang terjalin antar pasangan. Komunikasi ini penting karena dapat membantu mempertahankan sebuah hubungan seiring waktu. Kiat menjaga hubungan antar pasangan dipercaya mengurangi stres bagi masing-masing individu apabila dilakukan dengan frekuensi dan kualitas yang tinggi.

Stres dalam hubungan—baik internal maupun eksternal—dapat meningkatkan risiko kesehatan serta memperburuk kondisi kesehatan individu dalam sebuah hubungan. Sementara itu, hubungan seksual dipercaya dapat memberikan dampak langsung yang positif terhadap kepuasan dalam hubungan, serta kesehatan fisik dan mental.

Maka dari itu, kepuasan pernikahan, strategi merawat hubungan, stres dalam hubungan, serta hubungan seksual menjadi faktor-faktor yang relevan guna menunjang long-distance relationship (LDR) juga hubungan non-LDR dalam menentukan gaya hidup sehat seseorang.

Karakteristik LDR yang unik berpotensi mempengaruhi hubungan antara pernikahan dan kesehatan. Salah satu contoh keunikannya adalah kepuasan menghabiskan waktu bersama pasangan dalam LDR. Dalam LDR, menghabiskan waktu bersama menjadi hal yang sangat berharga karena minimnya waktu yang bisa digunakan untuk kegiatan bersama. Sehingga, kebersamaan dalam LDR terasa membuat hidup lebih sehat, menyenangkan, dan menyegarkan ketimbang kebersamaan dalam pasangan menikah yang biasa tinggal bersama.

Fakta-fakta tersebut akhirnya menimbulkan pertanyaan. Apakah pelaku LDR mengalami dampak kesehatan sama seperti yang dirasakan oleh pasangan yang tinggal bersama? Lalu apakah jenis hubungan (LDR vs. Pasangan yang tinggal bersama) dapat memprediksi faktor-faktor dalam hubungan seperti yang disebutkan di atas?

Pengaruh LDR terhadap gaya hidup sehat

Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut, Du Bois dkk. (2016) membandingkan hasil survey terhadap pasangan LDR dengan pasangan yang tinggal bersama terkait faktor penunjang hubungan dan faktor kesehatan.

Kesehatan fisik

Hasilnya, para pelaku LDR terlihat memiliki gaya hidup yang lebih sehat dibandingkan dengan pasangan yang tinggal bersama. Para pelaku LDR mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat serta berolahraga dengan atau tanpa kehadiran pasangannya, bahkan lebih sering daripada pasangan yang tinggal bersama. Para pelaku LDR juga mengaku memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik, kepuasan yang lebih tinggi terkait peran sosial mereka, serta minimnya tingkat kecemasan, depresi, ataupun kelelahan.

Terkait konsumsi makanan sehat, salah satu studi mengemukakan bahwa kebiasaan makan dan minum seseorang cenderung ditentukan oleh kebiasaan pasangannya. Dengan kata lain, kebiasaan makan seseorang dapat dipengaruhi secara negatif ataupun positif oleh pasangannya. Konsep pengaruh dari pasangan ini menyatakan bahwa gaya hidup seseorang dalam sebuah hubungan pernikahan dapat dipengaruhi oleh pasangannya, termasuk gaya hidup sehat. Berkaitan dengan pernyataan ini, sebuah pernikahan memiliki peran sebagai bentuk kontrol sosial yang bisa meningkatkan perilaku atau gaya hidup yang sehat.

Karena pernikahan dapat berperan sebagai kontrol sosial, hubungan pernikahan juga dapat membuat pasangan LDR lebih sering berolahraga daripada pasangan yang tinggal bersama. Ketika berada dalam sebuah hubungan berkomitmen, seseorang cenderung lebih mudah patuh terhadap keinginan atau kehendak satu sama lain, termasuk perihal menjaga kesehatan. Dalam kasus LDR, ketika pasangan terpisah jarak, pelaku LDR tetap berolahraga dan menjalani gaya hidup sehat secara teratur.

Dalam LDR, masing-masing pasangan memiliki lebih banyak waktu luang untuk didedikasikan untuk diri sendiri. Tanpa adanya kewajiban untuk mendedikasikan kehadiran fisik untuk pasangan, seorang pelaku LDR memiliki waktu luang yang lebih banyak. Ditambah lagi, tingkat hormon juga bisa menjadi alasan pelaku LDR lebih giat berolahraga.

Van Anders & Watson (2007) menyatakan bahwa suami yang menjalani LDR memiliki level testosteron yang lebih tinggi daripada suami yang tinggal bersama istrinya. Testosteron merupakan hormon yang sering diasosiasikan dengan perilaku kompetitif, yang mencakup olahraga dan menjaga daya tarik fisik. Perilaku kompetitif (berolahraga) yang ditunjukkan para pelaku LDR mungkin merupakan efek dari LDR itu sendiri, sehingga mereka merasa single dari segi fisik (Du Bois, et al., 2016).

Kesehatan mental

Pasangan LDR mampu merasakan keuntungan dari kontrol sosial pernikahan serta kebebasan dan waktu luang. Dengan kata lain, mereka mampu meraup keseimbangan yang optimal antara gaya hidup yang sehat bersama pasangan mereka, dengan keuntungan mengurus diri sendiri tanpa diatur ketika sedang terpisah.

Hasil dari keseimbangan ini adalah skor depresi dan kecemasan yang rendah pada partisipan penelitian Du Bois dkk. yang menjalani LDR (2016). Banyak orang yang mengira kehadiran fisik pasangan penting guna menyokong kesehatan mental pasangannya. Nyatanya, keterpisahan justru menghilangkan salah satu potensi pemicu stres, yakni tuntutan aktivitas hubungan suami-istri. Itulah mengapa pasangan yang menjalani LDR biasanya tergolong hidup sehat secara mental, serta cenderung lebih mudah dan lebih nyaman dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan pernikahan.

Selain itu, pasangan yang menjalani LDR juga tidak mudah merasa bosan atau penat dan hidup lebih sehat. Hal ini dikarenakan pasangan yang tengah menjalani LDR mampu mengalihkan fokus dan waktu mereka ke aktivitas lain yang mungkin bisa memberikan mereka pengalaman yang baru. Tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang mempertahankan sebuah hubungan bisa menyita waktu dan energi. Karena LDR memiliki interaksi langsung yang minim, kebosanan dan kepenatan dapat dengan mudah dihindari.

Kesimpulannya, LDR tidak sepenuhnya buruk. Tergantung masing-masing orang, LDR bisa dimanfaatkan dengan optimal dengan cara mengalihkan fokus ke hal-hal positif ketika berpisah, dan memfokuskan perhatian ke pasangan ketika bertemu. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang pesat, kini kualitas komunikasi dalam LDR semakin dipermudah.

Referensi

Du Bois, S. N., Sher, T. G., Grotkowski, K., Aizenman, T., Slesinger, N., & Cohen, M. (2016). Going the Distance: Health in Long-Distance Versus Proximal Relationships. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families, 24(1), 5-14.

Van Anders, S. M., & Watson, N. V. (2007). Testosterone levels in women and men who are single, in long-distance relationships, or same-city relationships. Hormones and Behavior, 286-291.