Kepercayaan adalah aspek yang penting untuk dijaga antara pasangan LDM. Menjaga keharmonisan rumah tangga memang bukan hal yang mudah. Apalagi jika pasangan suami istri harus menjalani hubungan pernikahan jarak jauh (long distance marriage/LDM). Ada banyak alasan yang mendorong pasangan suami istri memilih untuk menjalani LDM, namun yang paling umum adalah pendidikan dan ekonomi.

Meski perkembangan teknologi sekarang ini, seperti instant messenger, SMS, telepon, dan video call sangat membantu pasangan untuk berkomunikasi, namun semua itu tidak bisa menggantikan keberadaan fisik dari pasangan. Kondisi itu sering kali menimbulkan perasaan kesepian dan menurunkan kepercayaan di antara pasangan LDM. Kesepian akibat minimnya frekuensi bertemu pasangan dalam jangka waktu yang lama memiliki risiko terjadinya perselingkuhan.

Risiko semacam inilah yang sering membuat pasangan merasa khawatir, curiga, cemas, dan kurang percaya. Padahal saling percaya merupakan salah satu faktor yang dapat menguatkan masing-masing pasangan untuk menjaga hubungan pernikahan tetap harmonis meski terpisah jarak geografis.

Dalam penelitian yang dilakukan Ramadhini dan Hendriani (2015), istri yang ditinggal suaminya merantau mengaku bahwa selain masalah komunikasi, kepercayaan juga menjadi tantangan yang dihadapi di antara pasangan yang menjalani LDM. Rempel dkk (1985) mendefinisikan kepercayaan sebagai sebuah keyakinan, kepedulian terhadap pasangan, dan kekuatan suatu hubungan.

Rempel dkk (1985) mengungkapkan bahwa ada tiga komponen yang membangun kepercayaan. Komponen yang pertama adalah predictability, yakni sejauh mana perilaku pasangan dapat diprediksi secara konsisten kala berinteraksi dalam hubungan pernikahan. Komponen yang kedua adalah dependability. Komponen ini mengacu pada sejauh mana pasangan dapat diandalkan. Komponen terakhir adalah faith, yang mengacu pada keyakinan bahwa pasangan akan selalu menjaga komitmen dan kesetiaan.

Ketiga komponen kepercayaan tersebut juga dipengaruhi oleh sejumlah aspek. Aspek tersebut antara lain ialah pengalaman di masa lalu, intensitas pertemuan, dukungan keluarga, sifat dan karakter pasangan, serta aspek spiritual.

Pengalaman di masa lalu

Menurut Rempel dkk (1985), pengalaman di masa lalu memiliki peran yang cukup besar dalam membangun kepercayaan di antara pasangan LDM. Misalnya saja, pasangan yang berhasil menjalin hubungan jarak jauh pada saat pacaran tentunya akan lebih mudah dalam membangun kepercayaan daripada pasangan yang belum pernah mengalami hubungan jarak jauh sebelumnya.

Intensitas pertemuan dapat mempengaruhi kepercayaan antara pasangan LDM

Terkait intensitas pertemuan, Arida (2011) mengungkapkan bahwa durasi perpisahan berpengaruh terhadap kepercayaan yang dimiliki pasangan. Panjangnya durasi perpisahan dan minimnya frekuensi bertemu cenderung akan membuat kedua pasangan mulai meragukan masa depan hubungan di antara mereka. 

Dalam penelitian yang dilakukan Ramadhini dan Hendriani (2015), untuk menjaga kepercayaan, sebagian besar pasangan pelaku LDM menjadwalkan pertemuan setiap satu bulan sekali. Sementara itu, sebagian pasangan LDM yang lain menjadwalkan pertemuan setiap tiga bulan sekali.

Dukungan keluarga

House, dkk (1988) mengemukakan bahwa dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi tekanan dan stress pada pelaku LDM. Hal itu juga dirasakan oleh sebagian besar istri yang ditinggal suaminya merantau. Seperti yang diungkapkan Ramadhini dan Hendriani (2015), dukungan keluarga berperan membentuk kepercayaan di antara pasangan LDM.

Selain itu, meski tidak bisa menggantikan sosok suami, dukungan dari keluarga dapat meringankan beban istri yang menjalani LDM. Pada keluarga, istri dapat berkeluh kesah dan mencurahkan isi hatinya tentang masalah yang ia hadapi dalam menjalani LDM.

Sifat dan karakter antara pasangan LDM mempengaruhi tingkat kepercayaan

Menurut Rempel, dkk (1985) sifat dan respon pasangan dapat membangun kepercayaan di antara pasangan LDM. Sebagai contoh, pasangan yang lebih sering memberi kabar tentunya lebih dapat dipercaya daripada pasangan yang jarang memberi kabar, atau bahkan sangat sulit dihubungi.

Hal itu juga diungkapkan oleh salah satu responden pelaku LDM dalam wawancara yang dilakukan Ramadhini dan Hendriani (2015).

Kayak telpon nggak diangkat angkat. Jelas curiga mbak, curiga kalo dia nanti selingkuh. Percaya nggak percaya sih mbak, kalo bohong dia yang dosa. Aku takut aja kalo dia ikut temen-temennya yang nggak bener.” (ADK istri pelaku LDM)

Aspek religiusitas

Keyakinan terhadap Tuhan membentuk pemikiran dan keyakinan, perilaku, serta hubungan yang positif dalam relasi interpersonal (Tan & Vogel, 2005). Hubungan yang positif di antara pasangan LDM, seperti saling mengabari satu sama lain, saling setia, pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan pada pasangan.

Bagi pasangan yang menjalani LDM, kepercayaan menjadi kunci dalam menjaga keutuhan sebuah hubungan pernikahan. Tanpa adanya kepercayaan, sikap saling curiga dapat mendorong seseorang untuk melakukan hal yang membuat pasangan tidak nyaman, seperti pengawasan yang terlalu ketat. Oleh karena itu, penting bagi pasangan LDM untuk menjaga kepercayaan antara satu sama lain, agar hubungan tetap harmonis meski terpisah jarak.

Referensi:

Ramadhini, Safitri & Hendriani, Wiwin. Gambaran Trust pada Wanita Dewasa Awal yang Sedang Menjalani Long Distance Marriage Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Vol. 4 No. 1 April 2015