Menghayati hubungan dalam LDR itu ternyata penting bagi kelangsungan hubungan. Ketiadaan kontak fisik membuat para pelaku long-distance relationship (LDR), atau hubungan jarak jauh, menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan hubungan mereka. Salah satu caranya adalah dengan memicu rasa kedekatan dalam pikiran dengan pasangan mereka.

LDR adalah hubungan antar sepasang kekasih yang terpisah oleh jarak geografis. Sekilas, menjalani LDR tampak tidak lebih memuaskan ketimbang hubungan pasangan yang tidak terpisah jarak. Hal ini dikarenakan minimnya tatap muka, kesulitan komunikasi, serta potensi bertambahnya beban finansial. Kesulitan-kesulitan ini mampu memiliki dampak psikologis terkait LDR, seperti kekhawatiran akan kesetiaan, kemampuan menepati janji, serta komitmen terhadap pasangan.

Stabilitas dan keamanan hubungan LDR dapat diperjelas dengan teori kelekatan yang dicetuskan Bowlby (1969). Menurut Bowlby, cara seseorang berhubungan dengan siapapun biasanya meniru interaksi dan perlakuan masa kecil oleh orang tua/pengasuh mereka. Teori ini berkaitan dengan menghayati hubungan LDR.

Selain itu, jika semasa kecilnya anak terpisah secara fisik dengan sosok yang dekat, besar kemungkinan ketika dewasa ia akan sulit untuk lekat dengan siapapun. Tak hanya pada anak, terpisah secara fisik di masa dewasa juga dapat memicu stres, terutama bagi yang menjalani hubungan romantis.

Ketidakhadiran pasangan berpotensi membuyarkan rasa aman salah satu pasangan karena hilangnya tempat berlindung yang membuat mereka merasa aman. Ketidakhadiran pasangan secara fisik juga mampu menggoyahkan hubungan tersebut serta memicu stres psikologis.

Agar LDR dapat berjalan stabil, individu harus menjaga rasa aman satu sama lain meskipun terpaut jarak dengan kekasihnya. Seseorang yang merasa puas dalam hubungannya tentu akan lebih mampu menyimpulkan bahwa jarak tidak berpengaruh terhadap kestabilan hubungan itu sendiri. Dengan kata lain, seseorang akan mampu menghadapi berbagai tantangan LDR dengan lebih mudah karena rasa puas terhadap hubungannya tidak terpengaruhi. 

Di sisi lain, pelaku LDR yang kurang puas dengan hubungan mereka biasanya akan sulit merasa bahagia dalam hubungan serta memiliki hubungan yang kurang stabil.

Menghayati sebuah hubungan

Sebuah upaya menghayati atau savoring merupakan proses menghadirkan, memperkuat, dan memperpanjang emosi positif terhadap sesuatu yang dialami. Siapapun dapat menghayati memori masa lalu yang pernah terjadi (retrospective savoring), pengalaman yang sedang terjadi (concurrent savoring), serta pengalaman yang diantisipasi akan datang (prospective savoring).

Sebagai instrumen pengatur emosi, sebuah penghayatan dapat membantu seseorang menemukan perspektif atau sudut pandang baru, serta membantu mereka mencari insight terhadap masalah mereka. Jika seseorang menghayati sesuatu dengan optimal, biasanya kebahagiaan akan meningkat dan emosi negatif serta depresi akan berkurang.

Penghayatan ini terbagi menjadi 2, yakni penghayatan terhadap ingatan pribadi (penghayatan pribadi), serta penghayatan terhadap memori yang melibatkan ikatan emosional yang erat dengan orang lain (penghayatan relasional).

Penghayatan relasional merupakan proses menghayati sebuah pengalaman atau memori yang terjadi secara fisik dan sementara dan melibatkan orang lain. Berbeda dengan penghayatan relasional, penghayatan pribadi melibatkan refleksi terhadap memori individu atau pribadi yang bersifat positif.

Secara teori, tujuan dari penghayatan relasional adalah untuk menafsirkan sebuah hubungan sebagai penyedia rasa aman, nyaman, serta cinta yang mendalam. Intinya, penghayatan relasional mampu memberi rasa aman terhadap pasangan.

Menurut penelitian Borelli, Rasmussen, Burkhart, & Sbarra (2015), penghayatan relasional dapat membantu para pelaku LDR untuk mempertahankan hubungan mereka. Karena pelaku LDR memiliki kontak fisik yang lebih sedikit daripada pasangan yang tinggal bersama, para pelaku LDR harus bergantung pada komunikasi non-fisik agar tetap merasa dekat secara emosional dengan pasangan mereka.

Besar kemungkinan para pelaku LDR mungkin sudah menghayati hubungan LDR mereka secara independen atau berdua dengan pasangan mereka tanpa mengetahui manfaat sebenarnya dari penghayatan relasional ini.

Manfaat menghayati hubungan dalam LDR

Borelli, Rasmussen, Burkhart, & Sbarra (2015) mencoba untuk menggali manfaat dari penghayatan relasional ini dari sekitar 500 orang partisipan yang tengah menjalani LDR. Dalam penelitiannya, para peneliti ini memberikan sejumlah pertanyaan pada para partisipan. Partisipan diminta untuk membayangkan sebuah situasi yang pernah ia alami bersama pasangannya yang kala itu membuatnya merasa bahagia, aman, nyaman, dan dicintai.

Tak hanya itu, para partisipan juga diminta untuk menjelaskan hal-hal lain guna membantu mereka menguatkan memori itu. Hal-hal lain ini mencakup penjelasan mengenai cuaca kala itu, baju yang dikenakan saat itu, perasaan kala itu, dimana terjadinya, dan detil-detil lainnya sebanyak mungkin. Terakhir, partisipan ditanyakan mengenai perasaannya saat ini terhadap pasangannya.

Hasilnya, seusai wawancara, hampir semua partisipan melaporkan perasaan positif terhadap pasangannya yang sedang jauh. Bahkan pasangan yang saat itu sedang bertengkar dengan pasangannya, mengaku kembali merasa sayang dan rindu pada pasangannya seusai mengingat kembali memori positif dalam hubungannya.

Nyatanya, menghayati hubungan LDR terbukti mampu menghasilkan emosi positif yang meningkat, serta emosi negatif yang menurun. Penghayatan relasional juga mampu mempengaruhi perilaku dan tindakan para pelaku LDR. Contohnya seperti ingin segera bertemu dengan pasangan, atau ingin segera menelepon dan menghabiskan waktu berkomunikasi bersama kekasihnya.

Meskipun sederhana, menghayati sebuah hubungan dapat memberi dorongan atau energi tambahan bagi pelaku LDR yang dilanda keraguan atau merasakan berkurangnya rasa dicintai. Meski hanya sementara, efek dari penghayatan relasional ini berpotensi menyelamatkan sebuah hubungan yang dirundung jarak.

Referensi

Borelli, J. L., Rasmussen, H. F., Burkhart, M. L., & Sbarra, D. A. (2015). Relational Savoring in Long-Distance Romantic Relationships. Journal of Social and Personal Relationships, 32(8), 1083-1108.