Ketika anak menjalin hubungan, terdapat banyak dinamika yang berbeda antara berteman dan hubungan romantis. Di era seperti sekarang ini, fenomena ‘pacaran‘ sudah tidak lagi asing terjadi di berbagai lapisan usia. Bahkan seorang anak di bangku SD kelas 2 saja sudah mengaku menjalin hubungan romantis dengan teman lawan jenisnya. Budaya pacaran sudah menjadi hal yang lumrah. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah anak di usia sedini itu sudah benar-benar mengerti apa makna dari hubungan romantis yang sebenarnya? Apakah itu cinta, atau sekedar berteman saja?

Pada masa kanak-kanak awal hingga menengah (5 – 11 tahun), anak terbukti sudah mampu membedakan antara hubungan pertemanan dengan hubungan romantis. Meskipun budaya berpacaran lebih erat dengan konteks negatif, baiknya orangtua mengenal lebih dekat bagaimana si buah hati mengidentifikasi sebuah hubungan romantis dengan teman sebayanya.

Menurut pendapat banyak peneliti, anak di tahapan perkembangan kanak-kanak awal dianggap tidak memiliki kapabilitas untuk merasakan cinta yang sesungguhnya. Hal ini dikarenakan perkembangan seksualitas mereka yang belum matang. Dengan kata lain, anak tidak mungkin menjalin hubungan apabila emosi yang mendasarinya saja belum ada. Namun anggapan ini dibantah oleh penelitian yang dilakukan oleh Eleonora Cannoni dan Anna Bombi, dua orang peneliti psikologi sosial dan perkembangan.

Meskipun mungkin anak tidak bisa mendeskripsikan dengan tepat seperti apa cinta maupun hubungan romantis yang seharusnya, bukan berarti hubungan romantis menjadi hal yang mustahil terjadi. Di usia tersebut, anak sudah mulai bergaul—tidak hanya dengan sesama jenisnya, tapi juga dengan lawan jenis. Artinya, hubungan antar gender sudah dijalani oleh anak, meskipun dengan batasan-batasan tertentu.

Mengenal Jenis dan Dinamika Hubungan Cinta Anak

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang digawangi Hatfield dkk, terbukti bahwa setiap anak mampu memiliki setidaknya 2 jenis hubungan cinta. Dua hubungan cinta itu yakni companionate love (cinta persahabatan) serta passionate love (cinta dengan hasrat atau perasaan yang kuat). Companionate love dijelaskan sebagai hubungan cinta yang berawal dari pertemanan dan didasari oleh rasa suka. Sedangkan passionate love dijelaskan sebagai hubungan cinta yang penuh akan hasrat yang kuat untuk bersama dengan pasangan.

Pada penelitian yang melibatkan lebih dari 300 anak berumur 4 hingga 18 tahun di Amerika, semua partisipan mengaku sudah memahami konsep dari kata ‘pacar’. Di sisi lain, kebanyakan penelitian yang sudah ada lebih banyak berfokus terhadap perkembangan rasa cinta di usia remaja. Banyak orang yang beranggapan bahwa remaja lebih paham akan perbedaan hubungan pertemanan dengan hubungan romantis dibandingkan dengan anak-anak.

Pada usia bermain, hubungan pertemanan maupun hubungan romantis dapat berkembang dari kegiatan yang dilakukan bersama, seperti saat jam bermain sekolah. Permainan yang melibatkan anak lelaki dan perempuan seperti main ‘rumah-rumahan’ dapat menjadi salah satu contoh kegiatan yang mampu memicu kedekatan yang intim antar anak. Selain itu, kegiatan memberi cokelat atau bunga pada peringatan hari Valentine juga menjadi salah satu momen yang dapat memperjelas ketertarikan antar lawan jenis—bahkan pada anak kecil sekalipun. Namun bagaimana sang anak membedakan antara hubungan pertemanan biasa dengan hubungan yang romantis?

Mengenal Perbedaan Hubungan Pertemanan dan Hubungan Romantis

Dalam studi yang dilakukan oleh Connolly dkk yang melibatkan sebanyak 1.700 anak dengan rentang usia 9 hingga 14 tahun, 99% dari partisipan menyatakan bahwa berteman dan berpacaran adalah 2 hal yang berbeda. Dalam penelitian tersebut, unsur-unsur dalam hubungan dibagi menjadi 4 kategori, yakni:

  • Passion, yang mencakup rasa suka yang spesial, kepedulian yang intens, cinta, ketertarikan dan kontak fisik.
  • Afiliasi, yang mencakup rasa suka, pertemanan, berpasangan, dan kencan.
  • Intimasi, yang mencakup rasa percaya, membuka diri, privasi, serta dukungan moril.
  • Komitmen, yang mencakup kedekatan jangka panjang, serta eksklusivitas.

Komitmen dan passion cenderung hadir dalam hubungan romantis saja, sedangkan intimasi hadir di hubungan romantis maupun pertemanan. Afiliasi juga muncul di hubungan romantis maupun hubungan pertemanan anak, namun memiliki penjelasan yang berbeda. Pada hubungan romantis, afiliasi mencakup kebersamaan dan kencan, namun pada hubungan pertemanan, afiliasi hanya mencakup kebersamaan saja.

Dalam dinamika hubungan pertemanan anak, rasa suka dan rasa peduli tetap bisa hadir. Namun unsur hubungan dan kontak fisik hanya muncul dalam hubungan romantis saja. Kendati demikian, kebanyakan kasus menunjukkan bahwa pemahaman anak mengenai hubungan romantis tidak didapatkan dari pengalaman langsung. Melainkan dari observasi terhadap orang dewasa atau media lainnya, seperti televisi dan internet.

Hubungan pertemanan dapat dijelaskan sebagai hubungan yang tidak memerlukan satu sama lain untuk menyesuaikan diri selama terdapat ketertarikan pada hal yang sama. Sedangkan hubungan romantis memerlukan satu sama lain untuk saling mengisi dan melengkapi, khususnya di ranah ‘ketergantungan emosi’ serta ‘kepedulian terhadap kebahagiaan pasangan’.

Ketika diminta menggambarkan mengenai hubungan romantis antar 2 orang, anak usia dini cenderung menggambarkan 2 orang dari imajinasi atau penggambaran mereka sendiri. Berbeda dengan penjelasan mereka perihal hubungan pertemanan—yang menggambarkan pengalaman diri mereka sendiri.

Dinamika dan perbandingan hubungan anak

Pada dasarnya, hubungan lawan jenis yang terjadi pada anak usia dini berfungsi sebagai penegasan terhadap peran gender. Hubungan yang terjadi antar lawan jenis di masa kanak-kanak ini mudah diartikan oleh anak sebagai hubungan romantis. Sedangkan hubungan pertemanan biasanya terjadi pada hubungan sesama gender (lelaki berteman dengan lelaki dan perempuan berteman dengan perempuan).

Mudahnya, hubungan pertemanan memiliki unsur keterikatan yang lebih luwes ketimbang hubungan romantis. Berbeda dengan hubungan romantis pada usia dewasa, pada anak usia 4 hingga 11 tahun, hubungan romantis lebih memiliki fungsi sebagai sekadar teman. Pada tahapan usia ini, anak belum melihat adanya kebutuhan untuk saling melengkapi kebutuhan emosional maupun fisik satu sama lain.

Lalu, apa yang perlu orangtua lakukan saat sang buah hati mengaku menyukai teman lawan jenisnya atau bahkan mengaku berpacaran? Tetaplah menjadi orangtua yang suportif dan penuh cinta namun tanpa menghilangkan unsur mengayomi dan mendidik. Hadirnya hubungan romantis di usia muda bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Dengan mengenal cinta lebih awal dengan cara yang tepat, anak akan lebih dewasa dalam menyikapi cinta ketika menginjak usia yang lebih tua nanti.

Referensi :

Cannoni, E., & Bombi, A. S. (2016). Friendship and Romantic Relationships During Early and Middle Childhood. SAGE Open, 1-12.