Terapi bermain merupakan metode yang sering digunakan untuk mengatasi trauma anak akibat bencana. Bencana alam adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa luar biasa yang disebabkan oleh fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, atau tanah longsor.

Terjadinya bencana alam sering menimbulkan korban jiwa dan harta, serta rusaknya infrastruktur, seperti jalan, gedung perkantoran, fasilitas umum, serta terputusnya jaringan listrik dan telepon.

Kerusakan dan kehilangan sanak saudara akibat bencana sering menimbulkan syok, tekanan, kecemasan, rasa bersalah bahkan trauma pada penyintas. Jika kondisi tersebut berkelanjutan dan tidak ditangani, dapat berujung pada gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Anak-anak menjadi pihak yang paling rentan mengalami trauma akibat bencana alam. Anak-anak yang mengalami trauma biasanya mudah mengalami gangguan kesehatan seperti demam dan sakit tenggorokan, sering mengalami mimpi buruk dan tidak fokus, sering merasa sedih dan sulit berkonsentrasi, serta menjadi malas dan sulit bergaul.

Anak yang mengalami trauma harus mendapatkan perhatian khusus agar trauma yang ia rasakan tidak berkelanjutan. Pasalnya, trauma pada anak dapat mengganggu perkembangannya, yang kemudian bisa terbawa sampai ia dewasa.

Penggunaan terapi bermain untuk mengatasi trauma anak akibat bencana

Model penanganan bagi penyintas yang mengalami trauma pada anak-anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Pada anak-anak, model pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan terapi bermain, atau yang dikenal dengan istilah play therapy (Nawangsih, 2014). Axline (1947), menjelaskan bahwa penggunaan terapi bermain dapat menjadi salah satu cara bagi anak untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan akibat trauma yang dialaminya, tanpa harus mengungkapkannya secara verbal.

Anak-anak dapat menggunakan mainan untuk menceritakan kembali pengalaman traumatis yang dialaminya, sehingga mereka dapat menguasai bayang-bayang yang membuatnya takut (Baggerly, 2005). Sebagai contoh, seorang bocah lelaki berusia 5 tahun penyintas bencana Badai Katrina mengungkapkan peristiwa yang dialaminya dengan memainkan mainan dinosaurus miliknya. Mainan tersebut ia putar-putar berulang kali hingga merobohkan rumah-rumahan dan keluarga boneka yang menghuninya. Kemudian, dia menggerakkan mainan tentara seolah sedang membunuh mainan dinosaurusnya. Melalui permainan tersebut, bocah itu berupaya merekonstruksi pengalamannya pada bencana alam Badai Katrina.

Terapi bermain tentunya tidak hanya dapat membantu anak menceritakan pengalaman traumatis yang ia alami. Menurut hasil penelitian Shen (2002) terhadap anak-anak korban gempa di Tiongkok, terapi bermain terbukti dapat menurunkan tingkat kecemasan dan keinginan bunuh diri.

Menurut Nawangsih (2014), ada tiga langkah yang harus dilalui untuk dapat menerapkan terapi bermain ini pada anak. Langkah-langkah tersebut mencakup 3 langkah, yakni langkah awal, langkah pertengahan, dan langkah akhir.

A. Langkah awal terapi bermain

Dalam tahap awal ini, tindakan utamanya adalah membangun kedekatan dengan anak. Terapis harus mampu membangun hubungan yang hangat dan saling percaya. Langkah ini bisa dilakukan dengan menyediakan berbagai mainan/permainan yang digemari anak. 

Melalui mainan/permainan, terapis bisa membiarkan anak-anak bermain sembari menumbuhkan rasa aman. Ketika anak sudah merasa aman, konselor bisa menggali gejala trauma dari aktivitas bermain anak.

B. Langkah pertengahan

Langkah pertengahan dimulai ketika anak sudah mulai asyik dengan aktivitas mereka. Pada tahap ini terapis dapat menyediakan berbagai sarana bermain agar anak dapat mengekspresikan peristiwa yang pernah dialaminya di masa lampau atau harapannya pada masa yang akan datang. 

Terapis bisa melibatkan diri pada aktivitas bermain anak. Misalnya, ketika anak sedang bermain boneka, terapis bisa menggunakan boneka lain guna membangun cerita dalam aktivitas bermain anak.

Dengan cara tersebut, terapis dapat membantu anak untuk mengembangkan kreativitasnya secara luas, termasuk kemampuan bahasa, seni, dan kemampuan bergerak. Selain itu, anak juga dapat mengembangkan kecerdasan dalam menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

C. Langkah akhir terapi bermain

Pada tahap ini terapis dapat melihat hasil dari terapi dan memutuskan apakah terapi bisa dihentikan atau dilanjutkan. Terapi dapat dihentikan jika anak menunjukkan kemajuan dalam berbagai bentuk perilaku positif. Misalnya anak telah mampu menunjukkan kreativitasnya dalam kesenian, mampu bermain peran, melakukan permainan yang melibatkan kerjasama dengan teman sebayanya, atau menampilkan perubahan perilaku positif lainnya.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain, anak mampu belajar tentang banyak hal. Dengan bermain anak juga mampu menyembuhkan luka dalam jiwanya.

Referensi:

Nawangsih, Endah. 2014. Play Therapy untuk Anak-Anak Korban Bencana Alam yang Mengalami Trauma (Post Traumatic Stress Disorder/PTSD). Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi Juni 2014, Vol. 1, No.2, Hal : 164 – 178

Baggerly, Jennifer & Exum Herbert A. 2008. Counseling Children After Natural Disasters: Guidance for Family Therapists. The American Journal of Family Therapy, 36:79–93, 2008