Mengantisipasi intoleransi pada anak sejak dini itu penting. Menjadi seorang penganut agama yang taat tidak serta-merta harus mendiskreditkan penganut agama lainnya. Hidup dalam kedamaian dan keharmonisan merupakan sesuatu yang layak didambakan. Tidak semestinya perbedaan menjadi alasan terjadinya sebuah perpecahan.

Sebagian besar tujuan dari sebuah perjuangan hidup adalah kebahagiaan dan kedamaian diri dan sekitar. Jika Anda meyakini adanya Tuhan, maka bisa diasumsikan Anda juga meyakini ciptaan-Nya. Tuhan menciptakan segala ciptaan-Nya dengan segala macam wujud, bentuk, dan sifat yang berbeda-beda, dengan derajat yang sama di mata-Nya.

Toleransi beragama dapat didefinisikan sebagai suatu sikap saling menghargai dan saling menghormati antarpemeluk agama. Toleransi beragama berlawanan dengan sifat intoleransi yang kerap diskriminatif, represif, bahkan hingga muncul dalam bentuk kekerasan dalam taraf pemikiran radikal.

Pada kasus anak, sikap intoleransi kerap dilatarbelakangi pengetahuan yang kurang mendalam serta maraknya prasangka buruk terhadap orang lain. Menurut Dr. Sheri Levy, seorang peneliti psikologi perilaku anak, prasangka buruk bisa muncul sejak usia dini. Pada usia 5 tahun, anak sudah mampu mengenali identitas  orang lain (etnis, ras, cara berpakaian kaum tertentu). Di usia 10 tahun, anak mulai memahami persamaan maupun perbedaan dari berbagai kelompok masyarakat.

Meskipun sebagian besar tindakan anak tidak memiliki maksud jahat, namun bukan berarti tindakan tersebut tidak menyakiti orang lain. Lalu apa pentingnya mengantisipasi hadirnya intoleransi pada anak?

Penyebab hadirnya intoleransi

Paham intoleransi pada anak dapat ditularkan oleh cara didik orang tua, guru di sekolah, lingkaran pertemanan, serta lingkungan tempat tinggal. Berikut ini adalah 4 penyebab munculnya bibit intoleransi yang dikemukakan Zuly Qodir dalam penelitiannya.

Pertama adalah mengenai kesiapan mental anak yang kurang matang. Hal ini menyebabkan anak mudah terpengaruh ajaran orang yang lebih tua atau lebih berpengalaman perihal keagamaan. Anak yang masih mencari pedoman hidup akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan dibentuk pola pikirnya.

Penyebab kedua ialah kekecewaan anak terhadap ketimpangan politik dan sosial di Indonesia. Dengan maraknya pemberitaan mengenai politik di berbagai kanal media, wajar tentunya bagi seorang anak usia remaja untuk mulai membentuk pemahaman terhadap kondisi politik negara ini. Politik agama yang terjadi di Indonesia dapat menyebabkan kekecewaan yang ditaburi siraman kebencian terhadap kubu agama tertentu.

Ketiga ialah ketimpangan ekonomi yang sangat berpotensi menjadi penyebab utama munculnya intoleransi dan kekerasan. Karena kesulitan ekonomi, hidup jadi susah dan muncul banyak pengangguran. Alhasil, kegiatan yang disponsori iming-iming pahala dan masuk surga akan terlihat sangat menggoda dan mudah diikuti tanpa pikir panjang.

Terakhir, ialah masalah pemahaman terhadap teks keagamaan. Paham jihad berpotensi diserap secara ekstrim. Karakteristik heroisme serta doktrin yang tidak sehat mampu membuat anak muda menjadi gemar melakukan apapun, bahkan tindak kekerasan, dengan mengatasnamakan jihad untuk agama.

Tentunya berbagai penyebab di atas tidak sejalan dengan sikap toleransi. Sikap toleransi itu sendiri merupakan kesediaan untuk menerima adanya perbedaan teologi, perbedaan keyakinan, menghargai, menghormati yang berbeda sebagai sesuatu yang nyata adanya, dan diyakini oleh mereka yang memang berbeda dengan kita.

Merespon pluralisme

Isu toleransi tentu tidak lepas dari isu pluralisme. Pluralisme mendidik anak untuk memahami bahwa banyak cara untuk menjalani hidup ini. Sejalan dengan sikap toleransi, pluralisme penting untuk diajarkan pada anak, namun orang tua harus memahami caranya. Tidak semua orang tua tentunya sepakat dengan paham pluralisme.

Biasanya, berbagai orang tua merespon pluralisme maupun keberagaman dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melakukan isolasi, menyerang, mengabaikan, serta menerimanya.

  • Bagi mereka yang memilih mengisolasi, biasanya mengirim anaknya ke sekolah yang memiliki ajaran agama yang ketat, bahkan jika perlu, menerapkan home schooling agar anaknya tidak terpapar ajaran yang menurut orang tuanya sesat.
  • Bagi mereka yang memilih menyerang, biasanya mereka merespon isu pluralisme sebagai genderang perang. Gerakan memboikot sekolah maupun fasilitas publik lainnya yang dianggap sesat bukanlah hal yang baru di Indonesia.
  • Bagi mereka yang memilih mengabaikan, biasanya memilih untuk tidak ikut campur dan menjalani hidupnya tanpa perlu bergesekan dengan mereka yang berbeda paham, dengan harapan anaknya tidak akan terpengaruh ajaran luar.
  • Bagi mereka yang memilih menerima, biasanya memandang pluralisme sebagai hal yang baik dan menerima segalanya tanpa adanya penyaringan informasi.

Dari keempat sikap ini, Cody Kimmel, seorang pengamat dan peneliti agama dalam keluarga, menyatakan bahwa tidak ada sikap yang benar-benar tepat. Kimmel mengusulkan sikap ke-5, yakni sikap yang mengimbau para orang tua untuk tidak sekedar berkata atau menasihati, melainkan menunjukkan pada anak perilaku dan tindakan yang semestinya. Biarkan anak menyerap dan menimbang-nimbang pilihannya berdasarkan contoh yang Anda berikan.

Jika Anda ingin anak Anda menjadi anak yang toleran dalam beragama, maka Anda juga harus menunjukkannya dengan tindakan dan perilaku Anda sehari-hari.

Mengantisipasi masuknya paham intoleransi

Mengantisipasi intoleransi maupun radikalisme pada anak penting dilakukan guna mewujudkan perkembangan anak yang sehat dan bahagia, serta agar anak bisa mencintai sesamanya. Berbuat baik adalah tujuan utama. Berikut ini adalah beberapa upaya yang bisa Anda tempuh:

  1. Memberikan anak penjelasan mengenai agama secara memadai dan mendetil. Jelaskan pada anak bahwa agama itu mulia dan luhur, dan seringkali terjadi distorsi ajaran agama yang menghasilkan pemahaman yang keliru dan menimbulkan intoleransi dan radikalisme. Jelaskan pada anak makna sebenarnya dari jihad, makna toleransi, serta hubungan antara ajaran agama dengan kearifan lokal.
  2. Utamakan dialog dalam pembelajaran agama. Hindari munculnya eksklusivitas dalam beragama serta beri anak pencerahan akan kedamaian dan kesejukan dalam beragama.
  3. Pantau kegiatan dan materi mentoring keagamaan yang dijalani anak. Pastikan anak mendapat pendidikan agama di luar rumah yang sejalan dengan paham toleransi dan mengedepankan kebaikan.
  4. Perkenalkan dan terapkan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural merupakan konsep dan praktek pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai persamaan tanpa melihat perbedaan latar belakang budaya, sosial-ekonomi, etnis, agama, gender, dll. Ajari anak untuk menghargai keberadaan dan hak orang lain tanpa kehilangan identitas dirinya.

Kesimpulannya, diperlukan kerjasama yang efektif dan tertata antara orang tua, pihak sekolah, pemerintah, serta masyarakat sekitar agar sikap intoleransi tidak tumbuh pada benak anak kita tercinta.

Referensi

Abdi, A. P. (2019, May 2). Kemendikbud Akui Intoleransi dan Radikalisme Masih Ada di Sekolah. Diambil kembali dari Tirto

Kimmel, C. (2011, April 8). The Postmodern Parent | Teaching Your Kids Values in the Midst of Pluralism. Diambil kembali dari Family Matters

Munip, A. (2012). Menangkal Radikalisme Agama di Sekolah. Jurnal Pendidikan Islam, 159-181.

Qodir, Z. (2016). Kaum Muda, Intoleransi, dan Radikalisme Agama. Jurnal Studi Pemuda, 429-445.

Steinberg, J. (2013, July 13). Teaching Kids to Respect Other Religions. Diambil kembali dari Parents