Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional tahun 2012 menyebutkan bahwa ada sekitar 75 juta anak Indonesia di usia pra-sekolah kesulitan untuk mengontrol Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK). Dari survei tersebut, hal ini dikarenakan 60% orang tua tidak mengajari toilet training pada anaknya.

Di sisi lain, penelitian dari American Psychiatric Association dalam Child Development Institute Toilet Training Medicastore (2008) melaporkan bahwa kasus mengompol pada anak memang tergolong masih tinggi. Di Singapura, ada sebanyak 15% anak tetap mengompol setelah berusia 5 tahun. Di Inggris, ada fakta bahwa sekitar 1,3% anak lelaki dan 0,3% anak perempuan masih kebiasaan BAB sembarangan pada usia 7 tahun.

Menurut Gilbert (2003) memaparkan bahwa permasalahan dalam kegagalan toilet training ini menyebabkan enkopresis dan enuresis. Enkopresis sendiri adalah gangguan pengeluaran feses yang tidak sesuai dan enuresis adalah gangguan mengompol pada anak tanpa kelainan fisik.

Oleh karena itu, orang tua harus bekerjasama untuk mengajari anaknya toilet training. Adanya kerjasama yang baik antara ayah dan ibu akan memberikan kemudahan untuk mengajari toilet training untuk si buah hati. Berikut ini imaos.id rumuskan cara ampuh mengajari toilet training.

Mulailah Mengamati Ekspresi Anak

Hal pertama yang harus orang tua lakukan untuk bisa mengajari anak toilet training adalah memahaminya. Dalam hal ini, memahami anak saat mereka akan BAB atau BAK.

Biasanya, anak mengeluarkan ekspresi-ekspresi yang aneh saat mereka ingin buang air. Layaknya orang dewasa mengejan saat BAB, anak-anak pun punya ekspresi sendiri jika mereka sedang buang air.

Beberapa kasus, seorang anak yang tengah asik bermain kemudian ia mendadak diam. Coba kalian lihat ekspresi saat anakmu mendadak diam. Hal ini karena BAB dan BAK tidak bisa dilakukan sembari bergerak bebas.

Saat anak diam, kemungkinan dia sedang fokus untuk mengeluarkan kotoran yang ada di tubuhnya. Tubuh manusia sulit sekali untuk bisa kencing sambil berlari atau pun BAB sembari bergera. Pasti mereka fokus.

Jika kalian sudah mencurigai itu, pastikan kalian melihat isi popoknya apakah dia BAB atau BAK. Jika mereka ternyata benar-benar BAB atau BAK, pastikan kalian mengingat ekspresi mereka.

Mengajari Toilet Training dengan Membiasakan Popok Kering

Setelah kalian mampu memahami ekspresi anak BAB atau BAK, kalian juga harus membiasakan mereka menggunakan pakaian kering. Jangan biarkan kalian membiarkan popok anak basah.

Usahakan kalian mengganti popok maksimal 2 jam sekali. Memang terkesan pemborosan popok, tapi hal ini cukup ampuh untuk membiasakan mereka pakaian kering.

Jika anak-anak sudah terbiasa dengan pakaian kering, maka setiap kali dia BAK atau BAB akan merasa tidak nyaman karena popok menjadi basah. Jika popok sudah basah, pertama kali yang akan anak lakukan adalah rewel karena ingin pakaiannya kering.

Dari hal itu, lambat laun anak akan merasa butuh untuk pergi ke toilet agar popoknya tidak basah. Saat itu juga, orang tua harus perlahan memberitahu anaknya agar bisa memberikan tanda jika mereka ingin buang air.

Mengajari Anak Tidak BAB dan BAK Sembarangan

Tim imaos.id juga mengumpulkan berbagai pengalaman dari praktisi untuk mengajari toilet training. Selain mengamati ekspresi dan membiasakan pakaian kering, ada cara lain yang bisa diterapkan.

Orang tua bisa mulai mengajak anaknya berkomunikasi tentang pentingnya buang air pada tempatnya. Komunikasi ini harus dibangun secara terus-menerus dan dilakukan secara berkala.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah mengajaknya buang air bersama. Ajaklah anak kalian untuk buang air setelah bangun pagi dan sebelum tidur. Biasakan mereka untuk melakukan hal itu di toilet bersama kalian.

Saat kalian dan anak sudah di toilet, cobalah alat kelamin anak kalian ditetesi dengan air dingin. Biasanya itu dapat menjadi stimulus untuk anak buang air kecil. Hal ini mungkin tidak terkesan ilmiah. Tapi, ada baiknya kalian coba karena banyak yang sudah membuktikannya.

Jadi, kebiasaan buang air setelah bangun tidur dan sebelum tidur akan membantu anak-anak terbiasa pergi ke toilet. Namun, kalian tetap harus sabar saat menerapkan ini semua.