Pernah tidak kalian merasa anak saudara, teman, tetangga, atau orang lain terlihat lebih unggul daripada anak sendiri? Jika pernah, semoga kalian tidak membandingkannya dengan anak sendiri. Keunggulan atau kesuksesan anak tidak pernah lepas dari pendidikan orang tua. Oleh karena itu, kita harus paham mendidik anak sukses dengan metode yang pas.

Tim imaos.id melakukan riset terkait pengaruh pendidikan orang tua dengan kesuksesan anak. Hasil penelusuran yang kami lakukan menemukan bahwa kesuksesan anak memiliki faktor internal dan eksternal. Dan, faktor-faktor itu sangat kompleks untuk bisa dijelaskan dalam sebuah tulisan.

Hal paling menarik yang perlu kalian tahu tentang kunci mendidik anak sukses adalah pemahaman tentang konsep IQ dan EQ. Intelligence Quotients (IQ) adalah kemampuan seseorang untuk menalar, memecahkan masalah, belajar, memahami gagasan, dan merencanakan sesuatu. Emotional Quotients (EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, mengendalikan, dan menata emosi serta perasaan, baik itu perasaan sendiri maupun perasaan orang lain.

Kenali Perbedaan IQ dan EQ untuk Mendidik Anak yang Sukses

Pembahasan tentang IQ dan EQ sebenarnya sudah cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hanya saja, sebagian besar orang tua masih beranggapan bahwa IQ lebih penting dari EQ. Hal ini terlihat dari banyak orang tua masih terlalu berambisi untuk melihat anaknya mendapat nilai bagus di sekolah.

Padahal, Intelligence Quotients atau IQ adalah sesuatu yang kecenderungan bersifat warisan dari genetik. Bisa dikatakan bahwa IQ tinggi tidak serta merta bisa dipelajari tetapi ada faktor internal (genetik) yang diwariskan dari orang tuanya meskipun IQ itu bisa dikembangkan. Dengan kata lain, anak yang pintar cenderung lahir dari keluarga yang pintar.

Di sisi lain, Emotional Quotients atau EQ adalah suatu kecerdasan yang berkembang seiring dengan perkembangan psikis. Para psikolog menganalogikan bahwa IQ itu adalah logika, sedangkan EQ adalah empati. IQ untuk menyelesaikan soal matematika dan EQ untuk menyelesaikan soal kondisi emosi.

Kedua hal tersebut sangat penting untuk dipahami jika ingin mendidik anak yang sukses. Jangan sampai orang tua hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual dan meniadakan kecerdasan emosional atau sebaliknya. Semua harus memiliki porsinya masing-masing.

Selain itu, IQ bersifat genetik sehingga tidak bisa dipaksakan, sedangkan EQ bersifat perkembangan sehingga bisa diarahkan.

Melatih Kecerdasan Emosional dalam Mendidik Anak

Konsep kecerdasan emosional atau EQ ini dikenalkan pertama kali oleh Peter Salovey dan John D. Mayer. Mereka berdua mengajak orang-orang paham bahwa ada kecerdasan lain yang mempengaruhi kesuksesan manusia, yakni kecerdasan emosional.

Salovey dan Mayer ini membagi kecerdasan emosi dalam empat tahapan. Keempat tahapan tersebut memiliki dampak luar biasa bagi orang yang mampu menguasainya. Dampak untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Tahap pertama, EQ ini merupakan kemampuan untuk mengenal emosi secara fisik, rasa, dan pikir. Hal ini terdengar mudah tetapi sebenarnya sulit dilakukan. Oleh karena itu, banyak orang depresi akibat mereka tidak mengenal emosi fisik, rasa, dan pikirnya.

Tahap kedua, perlu ada kemampuan untuk mengenal emosi pada orang lain, desain, karya seni, maupun hal-hal lain di luar diri. Tahapan ini untuk memunculkan empati, simpati, apresiasi, bahkan toleransi untuk orang lain.

Tahap ketiga yaitu kemampuan untuk mengungkapkan emosi secara tepat dan mengungkapkan kebutuhan sehubungan dengan rasa-rasa yang ada. Tahapan ini bertujuan untuk bisa mengolah rasa supaya bisa lebih berfikir jernih dalam keadaan tertentu.

Tahap keempat adalah kemampuan untuk membedakan ungkapan rasa antara tepat dan tidak tetap atau jujur dan bohong. Tahapan ini sangat berguna sebelum mengambil keputusan sehingga bisa bijaksana untuk diri sendiri dan orang lain.

Melatih kecerdasan emosi dapat membantu mendidik anak sukses. Dengan memahami tahapan kecerdasan emosi, orang tua hebat mampu memposisikan dirinya saat menasihati atau mengajari anaknya. Oleh karena itu, banyak pakar psikologi mengatakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan paling utama dalam melatih kecerdasan emosi.