Kepedulian yang meningkat pada dampak trauma terhadap anak menyebabkan munculnya sebuah konsep yang disebut trauma-informed care, atau disingkat TIC. Menurut segelintir ahli, untuk bisa menangani dampak trauma pada anak secara efektif, diperlukan kemampuan terapi yang mendalam serta studi bertahun-tahun.

Namun banyak upaya penyembuhan trauma yang terjadi di luar lingkungan medis. Menurut Greenwald (2005), mulai dari orang tua, konselor, guru, pekerja sosial, hingga pekerja medis, semua memiliki kapasitas untuk membantu anak sembuh dari trauma. Tak hanya manusia, lingkungan dan tempat tinggal pun bisa berperan dalam penyembuhan trauma.

Trauma sendiri biasanya terbagi menjadi 2, yakni trauma akut dan trauma kompleks. Trauma akut biasanya terjadi karena dampak dari satu kejadian tertentu. Sedangkan trauma kompleks merupakan dampak berkepanjangan dari rentetan situasi traumatis. Trauma kompleks juga bisa dideskripsikan sebagai pengalaman atas beberapa situasi traumatis yang berkepanjangan, sulit hilang, terjadi antar manusia, serta dirasakan di usia dini.

Biasanya, akibat dari situasi traumatis ini adalah munculnya gejala post-traumatic stress disorder atau PTSD. Gejala PTSD ini meliputi mimpi buruk atau reka ulang kejadian traumatis tersebut yang terjadi berulang kali dan terpicu hal tertentu; perilaku menghindari hal-hal yang mungkin mengingatkan diri pada kejadian traumatis; menjadi sangat awas dan sangat mudah terpicu; sulit konsentrasi dan sulit fokus; terbiasa merespon dengan kaget dan berlebihan.

Ketika kita bicara mengenai penyembuhannya, biasanya prosesnya sangatlah panjang dan kompleks. Terlepas dari betapa panjang dan kompleksnya proses penyembuhan tersebut, beberapa peneliti telah merumuskan beberapa faktor utama yang bisa membantu penyembuhan trauma pada anak. Meskipun ada banyak faktor dalam TIC, hanya ada 3 yang paling menonjol dan signifikan, yakni menciptakan rasa aman, membangun koneksi, dan manajemen emosi diri.

1. Rasa aman

Banyak tokoh tersohor seperti Abraham Maslow, Erik Erikson, dan John Bowlby, yang memandang rasa aman sebagai kebutuhan utama bagi proses tumbuh kembang anak.

Menurut Maslow, rasa aman termasuk dalam kebutuhan bertahan hidup yang utama. Menurut Erikson, masalah pertama yang dihadapi anak adalah tumbuhnya rasa percaya, yang bertumpu pada rasa aman. Sedangkan menurut Bowlby, gerakan-gerakan refleks pada masa bayi seperti menggenggam jari, menangis, dan mengeluarkan suara tawa, merupakan kiat menjaga keamanan dirinya.

Ketika anak terpapar trauma, seringkali anak merasa tidak aman. Kerap rasa tidak aman ini akhirnya merembet menjadi rasa tidak percaya pada orang lain, termasuk pada orang tua. Anak menjadi awas di hadapan orang tua, bahkan hingga menyiapkan siasat untuk menjaga jarak dengan orang tua ataupun orang dewasa lainnya.

Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah menciptakan ruang dan lingkungan yang aman untuk anak. Upaya penyembuhan dalam bentuk apapun harus dimulai dengan atmosfer yang aman. Tanpa hal ini, terapi profesional dengan fasilitas lengkap pun tak akan ada artinya.

Selain ruang dan lingkungan yang aman, para penolong juga harus memperhitungkan rasa aman lainnya, yakni keamanan fisik dan keamanan emosi. Biasanya rasa aman ini juga didapatkan dari sifat si penolong, seperti konsistensi antara perkataan dan perbuatan, dapat dipercaya, kejujuran, transparan, dapat diandalkan, serta kesiapsediaan. Selain itu, menyertakan anak dalam pengambilan keputusan juga dapat membantu anak merasa lebih aman.

Hal-hal yang membuat anak merasa kurang aman biasanya adalah perilaku mengontrol dan hukuman dari orang tua/orang dewasa yang mengasuh mereka. Sejatinya, upaya menyembuhkan yang paling baik adalah dengan menangani rasa sakit tanpa menciptakan rasa sakit lainnya (Anglin, 2002).

2. Membangun koneksi

Rasa aman tidak bisa timbul dengan sendirinya. Munculnya rasa aman bergantung pada hadirnya hubungan yang nyaman antara anak yang trauma dengan pengasuhnya. Hubungan yang positif dengan orang lain merupakan bumbu utama dalam kesembuhan dan tumbuh kembang anak.

Dalam sebuah terapi, hubungan emosional yang terjalin antara klien dan terapis memiliki efek dua kali lipat lebih besar terhadap kesembuhan klien daripada metode terapi itu sendiri.

Karena adanya trauma kompleks pada diri anak, seringkali anak mengasosiasikan orang dewasa dengan perasaan yang negatif dan tidak nyaman. Perasaan ini berujung pada rasa curiga yang berlebihan, kecenderungan untuk menghindar, hingga perilaku agresif.

Para pengasuh atau orang tua perlu menyusun ulang pemahaman anak hingga terbentuk sebuah perasaan positif, seperti rasa bahagia, senang, aman, dan nyaman. Anak perlu diajarkan untuk membedakan mana yang mengancam dan mana yang ingin menolong.

3. Manajemen emosi

Dampak dari trauma kompleks yang paling bahaya adalah munculnya dorongan batin dan emosi yang tidak terkontrol. Sedangkan kemampuan untuk mengontrol emosi dan tindakan merupakan salah satu faktor terpenting untuk kesehatan anak.

Maka dari itu, fokus utama dari bagian ini adalah untuk mengajarkan dan mendukung anak tentang cara-cara baru dalam mengelola emosi dan tindakan mereka secara efektif. Berkat usianya yang masih muda dan organ tubuhnya yang masih berkembang, anak sangat mampu mempelajari dan menyusun ulang cara-cara baru untuk mengontrol tubuh dan pikirannya.

Banyak kasus anak yang kehilangan kontrol akan tindakan dan pikirannya biasanya karena mereka tidak memiliki sosok orang dewasa untuk membimbing mereka. Anak membutuhkan orang dewasa yang bersedia belajar bersama mereka—bukan sekadar mengajari dan memberitahu.

Maka dari itu, kemampuan untuk mendengarkan anak dengan seksama penting dimiliki oleh orang tua. Tak hanya itu, orang tua juga harus mampu mengenali berbagai emosi anak yang berbeda-beda. Contohnya membedakan antara marah dan kecewa, takut dan cemas, senang dan bangga, dsb.

Ketika anak merasa dipahami, anak akan lebih mudah untuk berbagi cerita. Kesimpulannya, ketika anak sudah merasa aman, merasa dekat dengan pengasuhnya, dan mampu mengelola emosinya, maka anak akan lebih mudah untuk berbagi. Karena berbagi dan bercerita merupakan inti dari penyembuhan trauma anak.

Tidak perlu tenaga terapis profesional untuk dapat membantu menghadirkan 3 faktor utama ini dalam kiat penyembuhan anak (Bath, 2008). Siapapun bisa melakukannya, termasuk Anda.

Referensi

Bath, H. (2008). The Three Pillars of Trauma-Informed Care. Reclaiming Children and Youth, 17(3), 17-22.