Spiritualitas anak hadir di kehidupan sebagai sebuah penuntun hidup yang penting. Meskipun definisi maupun konsep spiritual kemungkinan besar akan terasa asing di telinga anak, bukan berarti spiritualitas jauh dari kehidupan anak tersebut. Keingintahuan anak yang besar terhadap dunia ini kerap menuntun anak menjadi seorang individu dengan pikiran yang terbuka. Anak dapat dengan mudah mempercayai suatu hal meskipun hal tersebut tidak terlihat atau tidak mampu mereka jamah.

Dipahami sebagai insan yang hidup dengan konsep kekinian,—tidak memusingkan masa lalu maupun masa depan—seorang anak kerap bertindak berdasarkan prinsip yang ia pelajari tanpa memikirkan untung ruginya. Dengan kata lain, keluguan, kesucian, serta ketulusan hati anak inilah yang menjadikannya makhluk yang spiritual. Tidak bisa dipungkiri bahwa spiritualitas sudah dekat dengan hidup anak sejak dini.

Perihal tumbuhnya anak sebagai pribadi tertentu, semua bergantung ke cara mendidik serta lingkungannya. Cara mendidik serta pengaruh lingkungan secara perlahan akan membentuk prinsip hidup seorang anak. Ditambah lagi, tidak jarang prinsip hidup seorang anak mengacu pada sebuah ‘kuasa yang lebih tinggi’, yakni sebuah konsep mengenai adanya Tuhan atau kekuatan besar lainnya.

Sayangnya, sering kali pengalaman spiritual anak dipandang tak lebih sebagai sesuatu yang lucu, imut, atau sekedar banyolan belaka oleh para orang dewasa.

Memahami dan mendefinisikan spiritualitas anak

Secara kompleks, spiritualitas dapat didefinisikan sebagai sebuah eksistensi atau pengalaman yang melampaui batasan fisik, nalar, dan logika, yang terbaur atau tercampuradukkan secara samar dengan segala hal yang dekat dan intim dalam kehidupan sehari-hari, benda-benda, serta hubungan antar manusia.

Dalam rangka untuk lebih mudah memahami spiritualitas pada anak, David Hay dan Rebecca Nye, dua orang peneliti dari Nottingham University yang bergerak di Spirituality Project, melakukan sebuah penelitian terhadap sejumlah anak berusia 6-10 tahun. Penelitian ini mencoba untuk memberi sekat antara sifat relijius dengan sifat spiritual anak, dan lebih menekankan pada sifat spiritual anak.

Pada penelitian tersebut, anak diberikan sejumlah foto yang berisikan potret situasi eksistensial, yakni isu spiritual tanpa konteks agama maupun ketuhanan. Beberapa isi foto tersebut adalah foto anak yang sedang menangis, foto seseorang yang sedang memandang sinar matahari di antara kumpulan awan, foto jajaran planet di tata surya, dll.

Anak yang diperlihatkan foto-foto tersebut diminta merefleksikan pandangan mereka terhadap isu-isu spiritual yang berkaitan dengan foto tersebut.  Hasilnya, para peneliti mampu menyimpulkan 4 bentuk pemahaman spiritual oleh para anak, yakni:

  • Hubungan antara diri dengan Tuhan,
  • Hubungan antara diri dengan orang lain,
  • Hubungan antara diri dengan dunia dan alam semesta, serta
  • Hubungan antara diri dengan nurani atau diri mereka sendiri.

Fenomena spiritualitas pada anak

Di sisi lain, Joyce Ann Mercer, seorang profesor di bidang teologi, melengkapi 4 bentuk di atas menjadi 5 elemen krusial yang menguak fenomena spiritualitas pada anak, yakni:

  1. Spiritualitas pada anak didasari oleh pengalaman hidup. Pengalaman yang dimaksud di sini bukanlah sekadar keterangan atau penjelasan dari orang lain atau buku yang didapatkan anak, melainkan pengalaman itu sendiri secara langsung.
  2. Adanya perasaan dalam diri anak mengenai campur tangan atau keterlibatan Yang Maha Kuasa dalam hidupnya.
  3. Kemampuan anak untuk menjelaskan pengalaman mereka atas suatu misteri, keajaiban, atau sesuatu yang mengagumkan dan di luar nalar mereka. Anak tidak perlu menjelaskannya dengan kata-kata. Anak bisa memilih untuk menggunakan bentuk komunikasi lain, seperti kesenian, musik, drama, atau mimpi, guna menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan.
  4. Hubungan emosional anak terhadap diri mereka sendiri, orang lain, serta terhadap kuasa yang lebih besar, yang pada akhirnya membentuk makna dan prinsip hidup anak dalam tumbuh kembangnya.
  5. Spiritualitas anak melibatkan kemampuan anak untuk membentuk perspektif atau pandangannya sendiri terhadap hubungan antara dirinya dan 4 poin di atas tadi, serta berbagai pengalaman spiritual yang telah ia rasakan.

Lisa Miller, seorang penulis buku berjudul The Spiritual Child: The New Science on Parenting for Health and Lifelong Thriving, mendefinisikan spiritualitas anak sebagai hubungan antara anak dengan kuasa yang lebih besar, entah itu Tuhan atau alam semesta, yang penuh cinta dan petunjuk hidup.

Tumbuhnya sifat spiritual sejak dalam kandungan

Menurut Miller, bayi yang lahir ke dunia sudah dilengkapi dengan elemen spiritualitas yang secara alamiah dipersiapkan untuk tumbuh kembang mereka. Spiritualitas pada bayi yang baru lahir ini menghubungkan diri manusia dengan hal-hal di luar nalar—alam semesta, ritual, simbol-simbol, mimpi, empati, kemanusiaan, serta pengalaman-pengalaman mistis.

Hal ini dapat kita saksikan dengan mata kepala sendiri kala anak pertama kali melihat keindahan langit malam yang bertabur bintang, kemudian mengucap terimakasih pada Tuhan. Atau di kala anak pertama kali mengubur hewan peliharaannya yang mati dan belajar mengenai keikhlasan dan konsep hidup yang fana.

Nurani anak yang suci inilah yang menjadi bukti konkrit bahwa justru spiritualitas cenderung muncul lebih kuat pada anak kecil ketimbang pada orang dewasa.

Manapun definisi yang Anda terima, orang tua perlu memahami bahwa seorang bayi maupun anak kecil pun memiliki kualitas spiritual. Bimbing anak Anda dengan cara yang tepat agar ia bisa tumbuh dewasa dengan prinsip dan makna hidup yang penuh cinta, keindahan, dan tidak semua melulu soal materi.

Referensi

Divecha, D. (2015, August 21). How Does Spirituality Grow in Children? Diambil kembali dari Greater Good Magazine

Mercer, J. A. (2006, May). Children as Mystics, Activists, Sages, and Holy Fools: Understanding the Spirituality of Children and Its Signifificance for Clinical Work. Pastoral Psychology, 54(5), 497-515.

The BabyCenter Editorial Team. (2017, April 19). How to raise a spiritual child. Diambil kembali dari Baby Center