Konflik bisa terjadi di berbagai jenis hubungan, termasuk LDM. Pernikahan jarak jauh atau yang sering disebut long distance marriage (LDM) merupakan sebuah fenomena yang sudah umum terjadi di Indonesia. Fenomena ini mengacu pada pasangan yang sudah terikat komitmen pernikahan, namun terpisah secara geografis. Sebagai contoh, salah satu pasangan harus pergi ke suatu tempat meninggalkan pasangannya di rumah atau kota asal mereka.

Umumnya, mereka memilih LDM karena mempertahankan pekerjaan masing-masing, sehingga tidak dapat membawa pasangannya turut serta ketika harus meninggalkan rumah. 

Menjalin LDM tentu bukanlah persoalan yang mudah jika dibandingkan dengan pasangan yang tinggal serumah. Kurangnya intensitas bertemu kadang membuat pasangan merasa kesepian, cemas, khawatir, dan curiga. Bahkan menurut Handayani (2016) risiko perceraian di antara pasangan LDM relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang tinggal serumah. 

Dinamika konflik yang dihadapi pasangan LDM

Minimnya intensitas pertemuan kadang membuat seseorang merasa kurang percaya, cemburu, rasa rindu dan ingin segera bertemu, dan persoalan lainnya. 

Belum lagi minimnya interaksi secara fisik yang membuat pasangan kurang mengenali kebiasaan dan sifat-sifat pasangan yang sesungguhnya (Rini, 2009). Namun, berhasil atau tidaknya LDM, kembali pada masing-masing individu yang terlibat dalam hubungan ini. Terutama terkait dengan penyelesaian masalah di antara pasangan (Manyak, dalam Rachmawati, 2007).

Pasangan yang menjalani LDM tentu memiliki conflict resolution (penyelesaian masalah) yang berbeda dengan pasangan yang tinggal serumah. Hal ini disebabkan faktor jarak, intensitas pertemuan, serta komunikasi yang terbatas.

Pasangan LDM biasanya hanya dapat menyelesaikan permasalahannya dengan berkomunikasi via telepon, chat, video call, atau teknologi komunikasi lainnya. Menurut Andromeda dan Noviajati (2015), kunci dalam menghadapi masalah di antara pasangan LDM adalah keterbukaan, saling mendukung dan membangun kepercayaan antara satu dengan yang lain. 

Wawancara yang dilakukan oleh Handayani (2016) terhadap 4 istri yang ditinggalkan suaminya bekerja di luar negeri menunjukkan, meski menjalani LDM sering menimbulkan konflik, namun hubungan keempat pasangan LDM tersebut masih tetap terjaga dengan baik. Lebih lanjut Handayani mengungkapkan bahwa setidaknya ada empat cara yang digunakan oleh para pasangan untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Keempat cara tersebut adalah collaboration style, compromise style, accommodating style, serta kombinasi competitive style dan accommodating style.

Collaboration style

Collaboration style merupakan salah satu bentuk upaya penyelesaian masalah, dimana kedua belah pihak saling mengutarakan pendapat masing-masing terkait masalah yang tengah mereka hadapi. Setelah itu, kedua belah pihak bekerja sama untuk menyelesaikan masalah tersebut sampai tuntas.

Gaya penyelesaian masalah ini diterapkan oleh responden berinisial FR dan suaminya. Ketika terjadi permasalahan dalam hubungan mereka, FR dan sang suami menyelesaikannya dengan cara meluangkan waktu khusus untuk membicarakan permasalahan mereka dan saling mengutarakan pendapat masing-masing. Dengan begitu, FR dan sang suami dapat segera mengetahui akar dari permasalahan yang mereka hadapi, sehingga mereka dapat menemukan solusi yang tepat dari permasalahan tersebut. 

Compromise style

Pada strategi penyelesaian masalah ini, pasangan yang sedang dalam konflik berusaha untuk meredam ego masing-masing demi menjaga hubungan dan kepentingan bersama.

Strategi penyelesaian masalah ini dipilih oleh responden berinisial YS dan suaminya. Ketika terjadi permasalahan dalam hubungan mereka, YS dan sang suami mencoba untuk mengabaikan kepentingan masing-masing untuk mencari kesepakatan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Menurut YS, cara ini lebih efisien dan tidak membutuhkan waktu lama, sehingga tidak mengganggu waktu istirahat sang suami.

Accommodating style

Accommodating style merupakan suatu strategi penyelesaian masalah dilakukan dengan cara menyerahkan pada salah satu pihak untuk menarik solusi dan menyelesaikan segala masalah yang dihadapi.

Strategi penyelesaian masalah seperti ini digunakan oleh responden berinisial RL. Ketika Ketika terjadi permasalahan di antara RL dan suami, sang suami lebih menyerahkan permasalahan tersebut kepada RL dan mengikuti segala keputusan subjek.

Sayangnya cara penyelesaian masalah seperti itu sering membuat RL merasa kesal dengan sikap sang suami yang selalu mengikuti keputusannya. RL merasa sang suami tidak bisa diajak bekerja sama dengan baik dan tidak dapat mengambil keputusan dalam menyelesaikan permasalahan.

Kombinasi accommodating style dan competitive style untuk menghadapi konflik LDM

Manajemen konflik ini adalah gabungan dari accommodating style dan competitive style. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya accommodating syle merupakan gaya penyelesaian masalah yang menyerahkan solusi sepenuhnya pada pihak lain. Sedangkan competitive style merupakan strategi penyelesaian masalah yang menggunakan pendekatan ‘menang-kalah’, dimana kedua belah pihak berusaha menyelesaikan konflik dengan mengalahkan pihak lain, biasanya dengan cara berdebat.

Cara penyelesaian masalah ini digunakan oleh HM dan suami. HM menjelaskan bahwa selama menjalani hubungan jarak jauh, ia mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam hubungannya. Namun yang HM rasakan bahwa suaminya selalu ingin didengar dan senang berdebat. Oleh karena itu, HM lebih memilih untuk mengikuti keputusan dari sang suami, karena HM tidak ingin berdebat dan memperpanjang permasalahan.

Jarak jelas menjadi masalah utama yang dihadapi oleh semua pasangan LDM. Namun lebih daripada itu, setiap pasangan LDM tentunya memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, cara penyelesaian masalahnya pun berbeda pula. Dari hasil penelitian yang dilakukan Handayani (2016), dapat dilihat bahwa dengan strategi penyelesaian masalah yang berbeda-beda, mereka mampu mempertahankan hubungan mereka dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam hubungan masing-masing.

Referensi:

Handayani, Yulastry. 2016. Komitmen, Conflict Resolution, dan Kepuasan Perkawinan pada Istri yang Menjalani Hubungan Pernikahan Jarak Jauh (Karyawan Schlumberger Balikpapan). PSIKOBORNEO, Volume 4, Nomor 3, 2016 : 518 – 529