Artikel tentang konsep bermain anak usia dini ini diadopsi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Wiwik Pratiwi pada tahun 2017 lalu. Konsep tentang bermain ternyata memiliki perbedaan antara anak-anak dan orang tua. Oleh karena itu, artikel ini cukup menarik untuk orangtua yang ingin memahami anaknya.

Sebagaimana yang dipahami secara umum, bermain sering dipahami sebagai bagian dari hiburan. Hampir semua orang merasa senang setelah bermain karena itu adalah bentuk dari menghibur diri sendiri. Baik main sendiri maupun main dengan orang lain.

Hanya saja, ada hal penting lainnya dari bermain ini yang dapat memberikan pengaruh lebih untuk anak-anak selain sebagai upaya menghibur. Namun, di sisi lain juga orangtua sering menganggap bermain adalah kegiatan tidak bermanfaat untuk masa depan anaknya.

Oleh karena itu, artikel ini akan memudahkan orangtua supaya bisa menelaah lebih jauh lagi tentang konsep bermain. Hal ini karena versi bermain orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda.

Bermain, Belajar, dan Berkembang

Bagi orang dewasa, konsep bermain adalah upaya untuk menghibur diri yang memiliki ikatan dengan orang lain, seperti hangout dengan teman-teman, main olahraga bareng, main game bersama, dan sebagainya.

Orang dewasa cenderung memahami bermain adalah upaya melepas penat dari beban yang dipikul sehingga membutuhkan eksistensi orang lain untuk melepas beban tersebut. Hampir semua orang dewasa tidak bisa bermain dengan dirinya sendiri.

Berbeda dengan anak-anak. Konsep bermain anak-anak tidak hanya memicu rasa senang. Ada banyak hal lain yang muncul karena anak bermain. Dalam buku yang berjudul Bermain dan Permainan Anak Usia Dini menjelaskan bahwa bermain bagi anak memicu perkembangan fisik, kognitif, bahasa, dan sosial anak.

Selain itu, bermain juga dapat memicu kreativitas pada anak, perkembangan emosi, mengasah panca indra, hingga mengasah konflik internal dan eksternal pada anak. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak para ahli mengatakan bahwa bermain adalah cara belajar anak-anak.

Telaah Konsep Bermain Anak Usia Dini

Tim imaos melakukan studi literatur lebih lanjut untuk menelaah konsep bermain yang ada dalam penelitian tersebut. Ternyata ada banyak sekali telaah konsep bermain anak usia dini yang dilontarkan oleh para ahli.

Psikoalanisis Sigmun Freud menelaah bermain anak sebagai pelepasan emosi serta untuk pengembangan rasa harga diri anak. Vigotsky menelaah bermain adalah pemusatan hubungan sosial yang mempengaruhi kognitif karena anak akan menemukan pengetahuan dalam dunia sosial kemudian menjadi bagian dari perkembangan kognitifnya.

Selain itu, teori perkembangan kognitif menelaah bermain memiliki kaitan yang erat dengan perkembangan intelektualitas anak. Dalam teori ini, bermain sebagai salah satu kegiatan yang memicu intelektual dan afeksi anak.

Oleh karena itu, konsep bermain anak usia dini harus dipahami orangtua sebagai media anak-anak memahami dan menguasai kondisi sekitar mereka. Jika memang anak terlalu banyak bermain, orangtua tidak perlu menghentikannya tetapi mengajaknya berganti permainan yang lain.

Bermain adalah hal menyenangkan. Tidak semua orang ingin diganggu saat mereka sedang bermain. Sebagai orangtua, kita harus bijak dalam mendidik dan mengarahkan anak saat mereka terlalu asik bermain.