Komunikasi merupakan elemen vital yang harus dijaga dalam hubungan apapun, termasuk LDM (long distance marriage). Dalam tiap hubungan, juga harus ada yang namanya negosiasi. Negosiasi menghasilkan sebuah kesepakatan di antara tiap pelaku hubungan mengenai perilaku-perilaku yang diperbolehkan. Negosiasi juga membantu menyamakan pandangan hidup yang turut berkontribusi terhadap keintiman pasangan.

Negosiasi dalam sebuah hubungan menjadi suatu tantangan tersendiri. Sebab, tiap orang pasti memasuki sebuah hubungan sebagai individu yang memiliki keunikan masing-masing. Tidak semua orang memiliki pandangan ataupun prinsip hidup yang sama. Oleh karena itu, obrolan atau komunikasi dalam LDM menjadi elemen yang krusial guna memperjelas sebuah hubungan, termasuk hubungan pernikahan.

Pasangan yang menjalani long-distance marriage (LDM), atau pernikahan jarak jauh, umumnya tidak mampu melakukan rutinitas sehari-hari layaknya pasangan yang tinggal bersama, seperti makan bersama. Lantas bagaimana pasangan LDM menebus hilangnya rutinitas tersebut? Bagaimana mereka mempertahankan hubungan? Bagaimana mereka melanjutkan hubungan tanpa adanya keberadaan fisik pasangan? Bagaimana caranya agar pernikahan mereka bisa berjalan dengan sukses? Apakah mereka cukup puas dengan pola komunikasi dalam LDM?

Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa terjawab dengan membandingkan LDM dengan proximal marriage, yakni hubungan pernikahan pasangan yang tidak terpisahkan jarak (tinggal bersama). 

Pentingnya rutinitas guna menjalin komunikasi dalam LDM

Dalam proximal marriage, kedua pasangan biasanya pulang ke rumah seusai bekerja, makan malam sudah disiapkan atau dibelikan, kadang mereka mendiskusikan cerita hari itu, lalu mereka menghabiskan waktu berdua. Meskipun rutinitas ini tidak terjadi pada tiap pasangan, namun hal-hal kecil ini merupakan komponen utama dalam sebuah kehidupan pernikahan. Sayangnya, bagi kebanyakan pasangan yang sudah menikah dan tinggal bersama, hal-hal kecil ini rentan disepelekan dan seringkali tidak dipikirkan secara mendalam (mindless).

Langer, Blank, dan Chanowitz (1978) sempat mendiskusikan perbedaan antara pola berpikir yang penuh perhatian (mindfulness) dan pola berpikir yang enteng dan tidak mendalam (mindlessness). Mindfulness terjadi ketika seseorang ‘hadir’ secara fisik dan batin dalam sebuah situasi atau percakapan dan bertindak atau berbicara berdasarkan informasi yang ia peroleh/perhatikan dengan seksama. Sedangkan mindlessness terjadi ketika informasi baru yang diterima tidak diproses dengan baik, sehingga respons terhadap informasi tersebut cenderung merupakan refleks atau bentuk pengulangan respons yang sudah ter-stereotip.

Namun tanpa disadari kegiatan yang bersifat mindless dan biasa ini turut menjadi bagian yang penting dalam keseharian kehidupan suami-istri. Aktivitas yang ‘biasa’ ini berkontribusi terhadap bertahannya sebuah hubungan. Baxter dan Montgomery (1996) menyatakan bahwa struktur sosial justru didasari atas hal-hal biasa yang dilakukan dalam interaksi sehari-hari.

Dalam sebuah hubungan pernikahan yang tidak dirundung jarak, interaksi yang terjadi rata-rata bersifat ‘biasa’ dan berulang. Kendati kedua pasangan mungkin tidak puas dengan interaksi yang biasa saja dan berulang ini, interaksi yang konstan justru mampu menguatkan rasa kepemilikan terhadap hubungan tersebut. Lagipula, tema obrolan yang ‘biasa’ dan berulang dapat dengan mudah diperbaiki.

Maka dari itu, aktivitas rutin yang kerap dipandang ‘biasa’ atau bahkan membosankan justru krusial untuk menjaga kedekatan dalam hubungan serta menjadi tiang dalam dialektika hubungan pernikahan.

Bersama dalam diam

Dalam sebuah hubungan, ada sebuah pola interaksi yang disebut companionate silence, yakni sebuah kebersamaan tanpa dialog yang bersifat intim dan mendalam. Companionate silence ini justru terjadi karena sebuah kenyamanan antar satu sama lain.

Kegiatan sederhana seperti duduk berdua menonton televisi justru mampu menguatkan perasaan nyaman kala berdua dan menguatkan hubungan secara keseluruhan. Sayangnya, bagi pasangan LDM, hal ini tidak mungkin terjadi.

Ketika berada di hadapan satu sama lain, komunikasi verbal maupun non-verbal sama pentingnya. Komunikasi penting dalam memastikan kesuksesan sebuah hubungan, mau itu hubungan LDM maupun pasangan yang tinggal bersama.

Bagi pasangan LDM, terdapat sebuah tekanan antara menghabiskan waktu di telepon dan kurangnya komunikasi non-verbal. Meskipun intonasi suara bisa menjadi salah satu bentuk komunikasi non-verbal, namun masih banyak lagi komunikasi non-verbal yang terasa hilang. Kurangnya komunikasi non-verbal digabungkan dengan ketidakmampuan untuk menikmati companionate silence dalam telepon membuat LDM menjadi lebih sulit.

Berdiam-diaman di telepon tidak sama rasanya dengan berdiam-diaman di sofa di depan TV sambil merangkul satu sama lain. Meskipun companionate silence bisa terjadi ketika bersama secara fisik, hal ini tidak bisa terjadi di telepon.

Keseimbangan konten obrolan

Karena adanya keterbatasan waktu luang untuk berkomunikasi bagi pasangan LDM, tiap komunikasi menjadi krusial. Menurut Duck (1988), guna membangun hubungan yang sehat, diperlukan adanya keseimbangan antara obrolan yang ‘mendalam’ (diskusi mengenai hubungan, tujuan, serta keterpisahan) dengan obrolan yang ‘biasa’ (diskusi mengenai cuaca, pekerjaan, baju yang dikenakan, dan rutinitas sehari-hari).

Banyak pasangan LDM yang mengaku merindukan obrolan-obrolan biasa ini dalam kesehariannya selagi terpisah jarak. Seringkali justru komunikasi yang terjadi didominasi dengan obrolan yang bersifat ‘mendalam’. Obrolan-obrolan kecil dan ‘biasa’ justru terbengkalai, seperti pakaian apa yang mereka kenakan ke kantor, apa yang mereka makan kala makan siang, serta obrolan lainnya yang tidak dibahas ketika mereka tinggal bersama karena mereka melihatnya secara langsung.

Ketika pasangan menikah tinggal bersama, mereka dapat berbagi cerita mereka mengenai pekerjaan atau kegiatan lainnya setiap harinya. Namun dalam LDM, banyak pasangan yang menunda memberikan informasi yang dia anggap sepele karena merasa hal itu bisa diceritakan kala mereka bertemu. Sayangnya, ketika mereka akhirnya bertemu, cerita itu sudah tidak relevan lagi atau sudah basi untuk diceritakan.

Banyak pasangan LDM yang kurang memperhatikan keseimbangan konten obrolan karena merasa tidak ingin membuang-buang waktu mereka yang sedikit untuk membicarakan hal kecil. Padahal, harus ada keseimbangan antara topik biasa dengan topik yang serius dalam komunikasi LDM.

Referensi

Lehmann, C. (2016, Agustus 15). If You’re In A Long-Distance Marriage, Read This. Diambil kembali dari Huffpost.

Soto Herrera, P. P. (2018). The Use of Media Technologies in Long-Distance Relationships. Thesis. Rochester Institute of Technology.