Menjalani peran seorang ibu dari jarak yang jauh bukanlah hal yang mudah. Ekonomi menjadi salah satu faktor pendorong terbesar yang membuat banyak orang merantau. Ketersediaan lapangan kerja yang terbatas dan kondisi tanah yang kurang subur kerap menjadi alasan banyak orang meninggalkan kampung halamannya dan bekerja di daerah lain. Bahkan banyak di antaranya yang sampai pindah ke luar negeri.

Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), pada tahun 2014 ada 429.872 Tenaga Kerja Indonesia yang ditempatkan di berbagai negara di seluruh dunia, dan 50% dari jumlah tersebut merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW). Dengan kata lain, ada lebih dari 240 ribu TKW yang meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk mencari nafkah di negeri orang.

Bekerja di luar negeri dipercaya dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dengan lebih cepat, karena gaji yang didapatkan sebagai TKW relatif lebih besar. Maka tidak mengherankan jika banyak wanita yang meninggalkan tanah air meskipun telah menikah dan punya anak.

Terlebih lagi, sekarang teknologi informasi sudah berkembang pesat sehingga memudahkan orang yang terpisah jauh untuk menjalin komunikasi. Bahkan menurut Madiano dan Miller (2011), banyak ibu merasa bahwa perkembangan teknologi informasi telah memudahkan mereka untuk tetap menjalankan perannya sebagai orang tua, meski terpisah jarak yang amat jauh dengan anaknya. Tapi apakah pesatnya perkembangan teknologi informasi mampu membuat anak merasa puas dengan peran ibu mereka yang dilakukan dari tempat yang jauh?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Madiano dan Miller (2011) di Filipina, banyak anak-anak yang merasa senang karena mereka bisa berkomunikasi secara rutin melalui telepon dengan ibu mereka yang bekerja di luar negeri. Namun, tidak sedikit pula yang merasa bahwa peran ibu sebagai pengasuh tidak cukup dilakukan hanya melalui telepon rutin dari jarak jauh.

Peran ibu dari jauh tidak memperbaiki hubungan dengan anak

Seorang anak bernama Grace secara eksplisit mengungkapkan bahwa komunikasi yang rutin melalui telepon tidak membuat hubungannya dengan sang ibu menjadi lebih baik.

Anda mungkin berpikir bahwa kami memiliki ikatan yang lebih baik, atau kehadirannya lebih terasa dalam hidup saya, namun sebenarnya tidak seperti itu. Menurut saya, pemanfaatan teknologi hanya membuatnya semakin mudah. Saya menggunakan kata mudah karena komunikasi melalui telepon hanya sebatas membahas masalah praktis, seperti ‘Apa tagihannya sudah dibayar?’, ‘Apa kamu masih di sekolah?’, ‘Apa kamu sakit atau sehat?’. Namun tentang kedalaman dan kualitas sebuah hubungan, itu tidak bergantung pada hal itu (komunikasi melalui telepon).” (Grace).  

Komunikasi via telepon tidak membantu peran ibu dari jauh

Perasaan tidak puas dari berkomunikasi dengan ibu melalui telepon juga dialami oleh seorang anak yang bernama Bea. Bea merasa bahwa manfaat teknologi seperti telepon lebih memuaskan peran ibu dari jauh daripada anak. Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi hanya membuat seorang ibu merasa bahwa ia telah menjalankan perannya sebagai orang tua.

Meski ibu Bea tidak menelepon sesering orang tua lain yang menelepon anaknya, Bea merasa bahwa ibunya masih terlalu sering menghubunginya. Bahkan Bea merasa pembicaraan dengan ibunya melalui telepon sama sekali tidak berarti.

Dia menelepon kami kurang lebih selama satu jam, dan kemudian kami merasa jengkel. Pada akhirnya kami memberikan teleponnya pada orang lain.” (Bea)

Anak merasa ibunya tidak cukup mengenalnya

Kehadiran seorang ibu dalam setiap momen tumbuh kembang anak menjadi salah satu masalah dalam metode pengasuhan jarak jauh melalui telepon. Bahkan banyak ibu bersikap seolah-olah mereka tidak mengetahui berapa usia anak-anak mereka sebenarnya. Kebanyakan ibu menolak untuk mengakui bahwa anaknya tumbuh dewasa. Hal itu diungkapkan oleh Ricardo. Dia menyatakan bahwa dirinya masih diperlakukan layaknya anak kecil, meski dia sebenarnya telah bekerja. Hal ini terjadi karena peran ibu dari jauh tidak bisa melihat secara pasti perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka.

Pengetahuan ibu yang rendah tentang perkembangan anak mereka dapat dilihat dari barang atau hadiah yang sering tidak sesuai dengan usia anak mereka. Hal itu membuktikan bahwa berkomunikasi secara rutin melalui telepon tidak menjamin ibu bisa mengenal anaknya dengan baik.

Panggilan telepon dari ibu dirasa mengganggu

Ricardo juga mengeluhkan, alih-alih mempererat ikatan antara ibu dan anak, panggilan telepon yang terlalu sering kerap ia rasakan sebagai gangguan.

Mereka bisa menelepon kapan saja. Mereka bisa menghubungi Anda dimanapun Anda berada. Misalnya ketika saya memiliki pacar. Pada saat itu ponsel menjadi populer di Filipina. Jadi mereka bisa memanggil saya (untuk bertanya) di mana saya berada dan saya harus berbohong bahwa saya tidak bersama gadis itu. Saya sedang belajar, hal-hal seperti itu. Jadi dalam arti tertentu, saya masih bisa mengatasinya, tetapi saya masih sangat gugup setiap kali mereka menelepon. Seperti, ‘oh my god, orang tuaku menelepon lagi!‘” (Ricardo)

Anak sulit menelepon ibunya

Lisa merasa bahwa ketika dia sudah memiliki ponselnya sendiri, ibunya jadi lebih sering menelepon dirinya. Namun hal itu tidak terjadi sebaliknya, saat Lisa ingin bergantian menelepon ibunya, peran ibu dari jauh malah sulit dihubungi. 

Selain itu, mahalnya biaya telepon membuat Lisa tidak bisa berbicara lebih lama dengan ibunya. Lisa hanya bisa berbicara dengan ibunya melalui telepon paling lama 10 menit. Akibatnya, mereka hanya bisa membangun obrolan yang lebih mendalam untuk meningkatkan ikatan. “Kamu tidak benar-benar punya waktu untuk lebih dekat” (Lisa).

Semua anak yang merasa bahwa komunikasi yang rutin melalui telepon tidak cukup untuk menggantikan kehadiran ibu ditinggalkan ibunya merantau ketika masih berusia di bawah 10 tahun. Sebaliknya, anak-anak yang ditinggalkan ibunya merantau ketika sudah berusia cukup dewasa mengungkapkan bahwa mereka merasakan manfaat dari pemanfaatan teknologi komunikasi.

Referensi:

Madianou, M. and Miller, D. (2011) ‘Mobile Phone Parenting? Reconfiguring relationships between migrant Filipina mothers and their left behind children’. New Media and Society, vol. 13(3): 457-470