Kepatuhan anak selalu menarik untuk didiskusikan, terutama dalam kontek budaya agama Islam. Dalam buku berjudul ‘Unconditional Parenting. Moving from Rewards and Punishments to Love and Reason’ yang ditulis oleh Alfie Kohn, sang penulis melakukan survei kecil-kecilan. Dalam surveinya, sang penulis bertanya kepada sejumlah orang tua, “Anda ingin anak Anda tumbuh menjadi orang yang seperti apa?

Jawaban-jawaban seperti “anak yang berbakti”, “anak yang baik”, serta “anak yang mandiri” sering muncul. Namun tidak ada jawaban yang menyatakan keinginan orang tua agar anaknya tumbuh menjadi anak yang patuh. Kendati demikian, ketika mendidik anak, banyak orang tua yang mengaku kalau anak yang patuh membuat kerja orang tua menjadi lebih mudah.

Dengan kata lain, sebagian besar orang tua ingin anaknya menuruti kehendak orang tua, namun tidak ingin anaknya tumbuh besar menjadi orang yang mudah patuh.

Anak yang patuh = Pola asuh yang sukses

Kehidupan sosial keluarga Muslim merupakan budaya kolektif. Budaya kolektif merupakan budaya yang memprioritaskan kebutuhan bersama daripada kebutuhan satu orang saja. Kesejahteraan keluarga dan masyarakat menjadi tujuan utama dari kehidupan sosial masyarakat Muslim.

Budaya kolektif pada keluarga Muslim ini mempengaruhi sifat mendasar anak serta gaya orang tua dalam membesarkan anak. Sifat dasar anak terbagi menjadi 2 (Duvall, 1969), yaitu (a) heteronomi, yakni kepatuhan anak pada sosok yang dianggap berkuasa, dan (b) otonomi, yakni sifat anak yang memikirkan diri sendiri.

Dua sifat dasar anak ini diklasifikasikan berdasarkan insting anak sejak lahir. Namun sifat dasar ini dapat diperkuat atau diubah oleh pola asuh orang tua.

Sebagian orang tua di budaya Islam cenderung mengartikan otonomi atau individualisme sebagai sebuah ancaman terhadap budaya masyarakat yang sudah ada (Dwairy & Achoui, 2006). Individu yang hanya memikirkan diri sendiri dianggap egois dan berpotensi mengesampingkan komunitasnya.

Kehidupan bermasyarakat dalam budaya Islam memandang kepatuhan seorang anak tidak terbatas pada orang tua saja. Kepatuhan anak pada orang tua mempengaruhi kepatuhan anak pada budaya masyarakat sekitar, dan berlanjut ke kepatuhan anak terhadap agama dan Allah. Kepatuhan anak pada orang tua berperan sebagai pondasi bagi kepatuhan anak terhadap kuasa yang lebih besar.

Keluarga Muslim, apalagi pada aliran konservatif, biasanya sangat menuntut kepatuhan anak. Ajaran Islam seringkali merujuk pada konsep keagungan Tuhan—bahwa Tuhan selalu benar. Segala tindakan Muslim harus merujuk ke kitab suci Al-Qur’an dan Hadist. Dalam ajaran ekstrem, bahkan banyak orang tua yang menggunakan hukuman fisik dalam rangka mendisiplinkan anak ketika anak tidak patuh.

Kebanyakan orang tua Muslim akan merasa bangga apabila ia berhasil membesarkan anak yang patuh. Kepatuhan juga menjadi salah satu indikator dalam sifat heteronomi anak. Anak yang memiliki sifat heteronomi dipercaya akan memikirkan kepentingan bersama daripada hasrat pribadinya. Anak yang patuh dipercaya tidak akan mengotori nama baik keluarga dengan berperilaku di luar batasan norma masyarakat yang berlaku (Al-Gohar, 2016).

Menurut ajaran Islam, seorang anak tidak bisa dihakimi atas tindakannya. Menurut doktrin ajaran Islam, perilaku dan tindakan seorang anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Karena itu, orang tua mencoba sebisa mungkin untuk mendidik anaknya untuk patuh agar orang tua tidak terkena getahnya apabila anak melakukan perilaku menyimpang.

Antara kepatuhan dan rasa hormat anak dalam budaya Islam

Banyak orang tua yang menganggap kepatuhan anak sebagai efek dari pola asuh anak yang sukses. Anak yang patuh tidak akan mendebat perintah orang tua, tidak keras kepala, dan mudah dinasihati. Masalahnya, banyak orang tua di keluarga Islam yang keliru memaknai antara kepatuhan dan rasa hormat.

Oleh banyak peneliti, kepatuhan dianggap menghambat insting dan intuisi natural manusia. Kepatuhan yang buta sering dihubungkan dengan sifat anak yang lemah, penakut, dan tidak percaya diri. Mengurus anak yang patuh dirasa lebih mudah oleh banyak orang tua. Kendati demikian, anak yang terlalu patuh biasanya memiliki kondisi emosional yang lebih rapuh dan mudah dimanipulasi.

Hasilnya, ketika tumbuh dewasa, anak akan dengan mudah mengikuti perintah dan keinginan orang lain tanpa memikirkan untung-rugi maupun baik-buruknya. Maka dari itu, orang tua tidak boleh hanya memikirkan mudahnya saja, tapi juga harus mempertimbangkan efek dari pola asuhnya terhadap sifat anak hingga ia tumbuh besar nanti.

Kepatuhan berbeda dengan rasa hormat atau respect. Anak yang menghormati orang tua tidak hanya patuh pada orang tua, tapi juga menghargai, menyayangi, dan mempertimbangkan pedoman dari orang tua dalam tiap perilakunya. Kepatuhan yang tidak disertai alasan serta batasan hanya akan menjadi kepatuhan buta yang berpotensi merugikan anak, apalagi dalam konteks agama Islam.

Patuh dan taat

Di luar ajaran konservatif, kebanyakan Muslim percaya bahwa Islam membangun budaya keluarga yang penuh akan cinta, kepedulian, dan rasa hormat akan satu sama lain. Menurut Al-Qur’an, seorang anak harus memperlakukan orang tuanya dengan baik, kecuali ketika orang tua meminta anak untuk berbuat dosa dan menyalahi kehendak Allah.

Kepatuhan anak pada orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan anak terhadap ajaran agama (Al-Gohar, 2016). Kendati demikian, kepatuhan anak terhadap orang tua berada di bawah kepatuhan terhadap Allah. Dengan patuh terhadap Allah, maka anak juga akan patuh pada orang tua, karena Islam percaya bahwa anak merupakan amanah dari Allah dan membesarkan anak merupakan kewajiban orang tua. Dengan pola asuh yang baik dan sikap saling menghargai, anak akan patuh pada orang tua dengan sendirinya sebagai bentuk ketaatan pada agama dan Allah.

Referensi

Acevedo, G. A., Ellison, C. G., & Yilmaz, M. (2013). Religion and Child-Rearing Values in Turkey. Journal of Family Issues, 1-29.

Al-Gohar, Y. (2016, November 6). Obedience to Parents According to the Quran. Diambil kembali dari AskYounusAlGohar: https://www.younusalgohar.org/articles/obedience-to-parents-according-to-the-quran-askyounusalgohar/

Baras, R. (2014, August 28). Obedience: Should You Teach it to Your Kids? Diambil kembali dari Family Matters: https://www.ronitbaras.com/family-matters/parenting-family/obedience-should-you-teach-it-to-your-kids/

Bridges, L. J., & Moore, K. A. (2002, January). Religion and Spirituality in Childhood and Adolescence. Child Trends, 1-62.