Pada zaman sekarang kecerdasan emosional anak menjadi salah satu hal penting bagi masa depan anak. Emotional Intelligtual Quotient (EQ) merupakan kemampuan seseorang dalam mengatur emosi dengan cara yang benar. Anak yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dapat mengelola emosi dengan baik, menerima orang lain serta diri sendiri serta dapat lebih berempati pada lingkungan sekitar.

Apa Itu Kecerdasan Emosi?

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sendiri sebagai metamood, yaitu kesadaran seseorang akan emosinya sendiri.

Menurut Goleman, kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati. Apabila kurang waspada maka anak menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi.

Namun, itu merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga anak mudah menguasai emosi.

Komponen Kecerdasan Emosional

Dalam buku yang dipublikasi pada tahun 1995 dan 1998, Emotional Intelligence: Why It Can Matter More than IQ dan Working with Emotional Intelligence, Daniel Goleman mengategorikan kecerdasan emosional menjadi lima komponen, yaitu kesadaran diri (self-awareness), kemampuan mengekspresikan diri (self-regulation), motivasi, empati, serta keterampilan interpersonal (people skills).

Self- awareness atau kesadaran diri berbicara mengenai kesadaran seseorang akan dirinya sendiri, termasuk kelebihan dan kekurangan dirinya. Seseorang yang memiliki kesadaran diri yang tinggi paham bagaimana hal-hal tersebut dapat berdampak pada orang lain. 

Self- regulation atau kemampuan mengekspresikan diri berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk mengatur kapan dan bagaimana ia mengekspresikan perasaannya. Orang dengan kemampuan mengekspresikan diri yang baik umumnya dapat menyalurkan emosinya dengan cara yang dewasa dan terlatih dalam menahan emosi tersebut.

Motivasi tidak hanya berbicara mengenai keinginan seseorang untuk mencapai sesuatu, tapi juga berbicara tentang kegigihan orang tersebut. Orang dengan kecerdasan emosional yang baik dapat memotivasi dirinya sendiri, tangguh, dan juga tetap optimis bahkan ketika sedang menghadapi kekecewaan atau kegagalan. Orang yang memiliki motivasi yang tinggi juga biasa digerakkan oleh keinginan diri sendiri dan bukan sekadar oleh iming-iming jabatan ataupun uang.

Empati berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk merasakan dan mengerti emosi orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi biasa memiliki empati yang tinggi juga.

People skills atau keterampilan interpersonal  berbicara mengenai kemampuan seseorang membangun interaksi dan kepercayaan dengan orang lain dalam sebuah tim. Dengan keterampilan interpersonal yang mumpuni, orang-orang pun dapat berelasi dan mengerjakan tugasnya dengan lebih baik, terutama karena sekarang semua serba bergantung pada komunikasi yang baik.

Memanfaatkan Kecerdasan Emosional Bagi Anak

Dalam artikel berjudul Emotional Intelligence, Peter Salovey dan John D. Mayer menulis bahwa suasana hati dan emosi secara sistematis dapat bermanfaat dalam pemecahan suatu masalah.

“Pertama, perubahan emosi dapat memfasilitasi pembentukan beberapa rencana masa depan. Kedua, emosi positif dapat mengubah organisasi memori sehingga materi kognitif lebih terintegrasi dan beragam ide dipandang lebih terkait,” kata Salovey dan Mayer.

Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa emosi dapat membantu mereka keluar dari sebuah proses dan fokus pada kebutuhan yang lebih mendesak, dan yang terakhir, emosi bisa digunakan untuk membantu kinerja pada tugas kecerdasan yang kompleks.

Mood juga tak kalah penting. Menurut mereka, mood positif akan berdampak positif pada pemecahan masalah kreatif. Seorang individu dengan suasana hati yang positif lebih mungkin memilah masalah.

Melatih Kecerdasan Emosional pada Anak

Jika memang kecerdasan emosional penting bagi anak, bagaimana cara melatihnya? Psikolog Bradley Busch pernah menulis artikel berjudul“Emotional Intelligence: Why It Matters and How to Teach It” yang diterbitkan The Guardian. Ia menunjukkan cara mengasah kecerdasan emosional di sekolah, di antaranya mengajarkan anak menjadi pendengar aktif.

“Kemampuan mendengarkan aktif adalah bagian penting dari membantu menciptakan komunikasi dua arah yang sejati dan itu jauh lebih dari sekedar memperhatikan,” kata Busch.

Dengan mengajak anak menjadi pendengar aktif, mereka akan terlibat dalam dialog dan dapat menanggapi orang lain melalui bahasa tubuh mereka, tambahnya.

Selain itu, sekolah juga dapat mengajarkan anak kosakata untuk menyampaikan perasaan mereka agar siswa mampu memahami perbedaan makna seperti sedih, kecewa, dan kesal.

“Cara sederhana untuk memperkenalkan ini kepada anak adalah memainkan permainan alfabet dalam kelas. Anda melihat berapa banyak emosi berbeda yang dapat anda peroleh untuk setiap huruf dalam alfabet. Setelah itu, diskusikan perbedaan di antara masing-masing, apa yang mungkin mendorong emosi, dan bagaimana siswa dapat merespons secara pribadi,” jelas Busch.

Meningkatkan kecerdasan emosional anak juga bisa dilakukan dengan mengembangkan kesadaran diri mereka. Tujuannya, ketika bertemu orang lain, anak tak membiarkan citra diri yang terlalu tinggi mempengaruhi perilaku dan interaksi sosial. Anak juga perlu diajarkan untuk berempati ketika sedang bersama orang lain.

Empati merupakan kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain tanpa menghakimi, mengenali emosi mereka, dan mampu menyampaikan perspektif kembali. Merefleksikan kembali perspektif orang lain membantu orang lain merasa dipahami dan bisa meningkatkan dukungan.

Kontributor penulis: Rizki Amalia