Bali adalah wilayah yang terkenal dengan masyarakatnya yang kental akan budaya. Kebudayaan Bali menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang tidak bisa dilepaskan untuk potensi pariwisata. Namun, ada hal menarik dari kebudayaan Bali ini, yakni hukum kekeluargaan adat Bali.

Eksistensi hukum adat di Bali sangat kuat dan memiliki sistem ke-bapaan (vaderrachtelijk). Konsep adat seperti ini mengaruskan istri memasuki keluarga suaminya. Bahkan, anak-anak Bali terikat kepada keluarga ayah (suami) dan tidak ada hubungan lurus pada keluarga ibu (istri).

Konsep kekeluargaan adat di Bali bersifat patrilineal, yakni perkwaninan bertujuan mempertahankan garis keturunan bapak sehingga anak lelaki tertua harus melakisanakan perkawinan ambil istri. Dalam sebuah penelitian Hukum Adat Kekeluargaan dan Kewarisan di Bali, seorang perempuan yang dinikahi harus melepaskan kedudukan adatnya untuk masuk ke dalam kedudukan adat suaminya.

Tri Hita Karana: Konsep Hukum Kekeluargaan Adat

Tri Hita Karana adalah falsafah hidup yang tangguh. Tujuan dari konsep ini adalah melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan di tengan globalisasi dan homogenisasi. Konsep ini menekankan pada tiga hubungan manusia dalam kehidupan, yakni hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan Tuhan.

Prinsip dari konsep ini adalah keselarasan. Masyarakat di Bali percaya bahwa falsafah ini akan membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang seimbang, tentram, dan damai. Dengan kata lain, konsep ini bertujuan untuk menjaga harmonisasi seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan.

Seperti halnya yang sudah dijelaskan imaos dalam tulisan tentang Peran Ayah dan Ibu, konsep yang diyakini masyarakat di Bali ini juga bertujuan untuk manusia agar bisa berbagi peran secara adil. Secara sederhana, manusia (ayah, ibu, lelaki, perempual, dll) memiliki banyak sekali peran yang harus dijaga agar kehidupannya seimbang.

Konsep kebudayaan yang diyakini masyarakat Bali ini juga memiliki tujuan untuk mencapai keseimbangan. Manusia harus hidup seimbang untuk menghindari tindakan buruk. Seimbang dalam hal ini adalah selarah untuk mengambil peran sebagai manusia sosial, manusia beragama, maupun manusia peduli lingkungan sekitar.

Lelaki Bali dalam Keluarga

Hukum adat kekeluargaan di Bali mengharuskan lelaki memiliki hak dan kewajiban untuk dipenuhi. Hal ini mereka yakini sesuai dengan Manu Dharmasastra yang menguraikan tentang kewajiban suami dan istri dalam hidup berumah tangga.

Pertama, suami wajib melindungi istri dan anak-anaknya. Suami harus menjaga mereka dari kehidupan yang tidak layak. Bahkan, seorang suami atau ayah harus mengawinkan anak-anaknya pada waktu yang tepat.

Kedua, suami wajib menyerahkan dan menugaskan istri untuk mengurus harta rumah tangga, urusan dapur, dan urusan agama dalam rumah tangga. Hal ini sesuai dengan keyakinan mereka bahwa perempuan memiliki andil yang besar untuk hal itu semua.

Ketiga, suami wajib menjamin hidup atau nafkah istrinya. Terlebih lagi bagi para suami yang harus bekerja di luar daerah, mereka harus bisa memastikan kenyaman dan kedamaian istri saat ditinggal suami untuk bekerja. Hal ini adalah salah satu ajaran untuk para suami agar bisa bertanggungjawab kepada keluarganya.

Keempat, suami wajib memelihara kesuciannya dengan istri dengan saling mempercayai istri dan membuat istri percaya pada dirinya. Hal ini bertujuan untuk menjalin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga. Sikap ini juga sebagai bentuk peran lelaki menjadi suami untuk istri atau manusia untuk manusia lainnya.

Kelima, suami wajib menggauli istri layaknnya sebuah hubungan pernikahan. Hal ini dimaksudkan agar hubungan rumah tangga tetap harmonis. Selain itu, menggauli istri adalah salah satu kewajiban seorang lelaki dalam aspek nafkah batin.