Hubungan kakek-nenek dengan cucu yang berkualitas dipercaya dapat memberi kestabilan, dukungan sosial, serta kepuasan hidup bagi keluarga. Tiap anak, orang tua, dan kakek-nenek mampu merasakan berbagai manfaat dari hubungan keluarga ini jika hubungannya dijaga dengan baik.

Ditambah lagi, dukungan sumber daya yang diberikan oleh sosok kakek-nenek dapat meringankan beban kebutuhan keluarga, seperti kebutuhan mengasuh anak di kala orang tua bekerja atau bantuan moral lainnya ketika keluarga tengah menghadapi krisis tertentu.

Meski hubungan kakek-nenek dengan cucu cukup umum, namun bentuknya bervariasi. Neugarten & Weinstein (1964) mencetuskan beberapa bentuk atau pola peran kakek-nenek. Contohnya, beberapa kakek-nenek biasa diandalkan sebagai sumber kebijaksanaan dan petuah. Ada juga yang menjalani fungsi sebagai rekan bersenang-senang. Beberapa lainnya ada yang memiliki peran besar dalam menjalani fungsi keluarga, kadang juga menggantikan peran orang tua. Terakhir, ada juga kakek-nenek yang menjaga jarak dan tidak terlibat karena keinginan sendiri atau karena kondisi yang memaksa.

Selain itu, kakek-nenek juga memiliki kontribusi terhadap keberlangsungan keluarga yang mencakup dukungan emosional, keseimbangan peran, menjaga agar keluarga tetap akur, memberi petuah, serta menyediakan informasi mengenai sejarah keluarga tersebut.

Di usia awal sang anak, kedekatan dengan sosok kakek-nenek dapat memberi manfaat karena hadirnya kakek-nenek sebagai sosok dewasa yang penuh kasih sayang. Namun kedekatan ini bisa berubah seiring sang anak memasuki fase remaja. Waktu yang biasa dihabiskan dengan kakek-nenek akan berkurang karena dihabiskan dengan tugas sekolah yang menumpuk dan bermain dengan teman sebaya.

Sekilas, tampaknya frekuensi komunikasi, dukungan orang tua, serta upaya kakek-nenek untuk tetap terlibat dengan sang cucu justru membuat anak semakin menjauh. Namun beberapa peristiwa atau kasus khusus dalam kehidupan, seperti perceraian, biasanya malah membuat anak semakin dekat dengan kakek-neneknya. Seiring sang cucu memasuki fase remaja akhir atau dewasa awal, hubungan dengan kakek-neneknya bisa berubah lagi. Cucu mungkin akan lebih renggang secara emosional dengan kakek-neneknya, namun tetap menghargai dan memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap mereka.

Mengapa hubungan kakek-nenek dengan cucu bisa berubah

Sebuah titik balik dapat didefinisikan sebagai sebuah peristiwa yang menjadi penanda berubahnya sebuah hubungan dengan cara tertentu. Dalam konteks hubungan kakek-nenek dengan cucu, titik balik yang dimaksud adalah meningkat atau berkurangnya perasaan dekat antara kedua belah pihak.

Salah satu titik balik yang paling banyak terjadi adalah di kala kelahiran sang cucu. Jika kakek-nenek tinggal di tempat yang jauh, artinya mereka tidak bisa membantu orang tua dan tidak terlibat dalam kelahiran cucu mereka.

Kedekatan hubungan biasanya dapat tercipta melalui aktivitas yang dilakukan bersama, situasi darurat terkait kesehatan salah satu anggota keluarga, serta konflik keluarga tertentu. Kedekatan jarak fisik juga bisa berpengaruh terhadap kedekatan hubungan emosional antara kakek-nenek dengan cucunya.

Meskipun lunturnya hubungan dekat antara kakek-nenek dengan cucunya merupakan hal yang umum terjadi seiring sang cucu tumbuh menjadi remaja, banyak peneliti yang mencari tahu alasan sebenarnya. Apakah lunturnya kedekatan ini terjadi karena cucu lebih senang bermain dengan teman sebayanya? Ataukah karena sang cucu kini lebih disibukkan dengan urusan sekolah?

Sebagai sosok yang lebih dewasa dan bijaksana, pihak kakek-nenek cenderung lebih dituntut untuk bertanggung jawab terkait menjaga keutuhan hubungan ini. Bangerter & Waldron (2014) merumuskan beberapa poin yang mungkin bisa menjelaskan mengapa hubungan kakek-nenek dengan cucunya berubah, baik itu secara positif maupun negatif.

1.  Menghabiskan waktu bersama

Ketika kakek-nenek menghabiskan waktu bersama dengan cucunya, sudah pasti akan terjadi interaksi yang berpotensi menguatkan hubungan antara kedua belah pihak. Tak hanya sekedar interaksi, waktu bersama juga bisa diwujudkan dalam bentuk kunjungan, liburan keluarga, atau berkumpul saat hari raya. 

2. Dinamika hubungan keluarga

Terkadang masalah dalam keluarga juga bisa memicu terciptanya momen bagi kakek-nenek untuk meningkatkan hubungan dengan cucu. Contohnya ketika terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Ketika orang tua berlaku kasar terhadap anaknya, kakek-nenek bisa hadir sebagai sosok pelindung.

Selain masalah keluarga, urusan tempat tinggal juga bisa berpengaruh terhadap kedekatan kakek-nenek dengan cucunya. Kakek-nenek yang tinggal bersama dengan cucunya di satu rumah justru terbukti malah membuat hubungan mereka semakin memburuk. Karena absennya sosok orang tua, sosok kakek-nenek terpaksa menjadi sosok yang mengatur dan mendisiplinkan sang cucu, sehingga kedekatan hubungan semakin sulit dijalin.

3. Jarak geografis

Ketika kakek-nenek tinggal di kota lain, tentunya semakin sulit untuk bertemu dengan cucunya. Banyak kakek-nenek yang mungkin hanya bertemu dengan cucu mereka sekali dalam setahun atau bahkan kurang dari itu.

Dalam kondisi anak yang masih berusia muda, tentunya sulit untuk membangun kelekatan tanpa adanya kehadiran fisik. Alhasil, tiap kakek-nenek datang berkunjung, rasanya seperti harus membangun hubungan itu dari nol lagi.

4. Cucu kurang peduli

Ketika cucu mulai beranjak ke fase remaja, kepeduliannya terhadap kakek-neneknya mulai berkurang. Contohnya, ketika kakek-nenek berkunjung, si cucu malah main ke luar dengan teman-temannya atau sibuk dengan gadget-nya.

5. Penggunaan teknologi

Pengenalan teknologi dapat membantu menguatkan hubungan jarak jauh antara kakek-nenek dengan cucunya. Tidak jarang cucu bertukar pesan dengan kakek atau nenek mereka melalui fitur chat atau SMS. Dengan adanya fitur ini, mereka dapat bertukar cerita mengenai keseharian atau berbagi keluh kesahnya kala orang tua tidak bisa diandalkan untuk hal tersebut.

Selain itu, media sosial juga memiliki manfaat yang besar. Kini, kakek-nenek bisa saling berbagi foto liburan dengan cucunya atau berkomentar di laman profil satu sama lain di Facebook maupun Instagram.

6. Cucu mulai mandiri

Fase remaja merupakan tahapan perkembangan individu yang kompleks. Banyak anak yang tumbuh menjadi remaja cenderung jadi lebih tertutup dan tidak lagi merasa perlu dekat dengan sosok kakek-nenek.

Kendati demikian, tumbuhnya cucu menjadi remaja bisa menjadi titik perubahan yang positif jika direspon dengan tepat. Contohnya, ketika cucu perempuan mengalami haid untuk pertama kalinya, nenek bisa menunjukkan bahwa ia menerima cucunya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan membicarakan mengenai kehamilan dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan pubertas wanita.

Sejatinya, menjalin hubungan jarak jauh antara kakek-nenek dengan cucu hampir sama dengan menjalin hubungan jarak jauh antara pasangan yang menikah. Perlu ada perhatian khusus yang diberikan jika kedua belah pihak ingin kedekatan itu tetap ada.

Referensi

Bangerter, L. R., & Waldron, V. R. (2014). Turning points in long distance grandparent–grandchild relationships. Journal of Aging Studies, 29, 88-97.