Usai menonton film NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini), saya merasakan pentingnya mengakui kedewasaan seorang anak. Angga Dwimas Sasongko dengan sukses berhasil menyihir ruang bioskop dengan atmosfer penuh tangis haru kala saya mencoba sekuat tenaga menahan isak tangis. Cerita dengan tema keluarga dan seluk beluk konfliknya yang terasa dekat membuat saya mau tidak mau menitikkan air mata seiring cerita filmnya mengalir.

Tak ada kesan dipaksakan. Alur naskah yang disusun sedemikian rupa oleh Angga Dwimas Sasongko, Jenny Jusuf, dan Melarissa Sjarief, terasa sangat natural dan nyata. Meskipun film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang dikarang oleh Marchella FP, cerita di filmnya memberikan pengalaman yang baru yang beda rasa dengan bukunya.

Jalan cerita film NKCTHI

Film NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini) bercerita seputar keluarga Narendra—pasangan suami istri yang memiliki 3 orang anak. Angkasa, anak sulung pria; Aurora, anak kedua; dan Awan, anak bungsu yang menjadi fokus utama alur penceritaan film ini. Tak hanya sebagai tokoh utama, Awan juga menjadi poros utama dari perhatian sang Ayah. Penonton kerap diingatkan bahwa Awan adalah anak paling diperhatikan dan disayangi—berbeda dengan kedua kakaknya yang kadang tampak dikesampingkan perasaannya. 

Sang Ayah digambarkan sebagai sosok yang begitu penyayang, namun terkesan tegas dan sedikit egois. Kemauan sang Ayah bagaikan sebuah titah raja yang harus dituruti oleh anak-anaknya. Dinamika tentu saja dapat ditebak. Anak-anak akhirnya merasa terlalu dikekang dengan kasih sayang berbalut segudang aturan dari sang Ayah.

Di sisi lain, sang Ibu kebanyakan hanya diam dengan tatapan sayu dan hampa yang ternyata merupakan dampak dari trauma masa lalu yang menjadi twist dari film ini. Di balik berjalannya keluarga ini, terdapat luka mendalam dan rahasia yang begitu kelam. Rahasia ini disimpan oleh para orang tua dengan dalih agar keluarganya selalu bahagia dan nihil kesedihan.

Membandingkan antara kisah kala anak-anak keluarga Narendra sudah dewasa dengan masa kecil mereka, saya melihat sebuah pola. Perlakuan sang Ayah terhadap anak-anaknya masih saja sama. Angkasa masih saja dituntut untuk menjaga adik-adiknya hingga 21 tahun lebih, bahkan sampai hubungannya dengan sang kekasih pun harus dikesampingkan. Aurora masih saja tidak diakui usahanya untuk membanggakan sang orang tua dan urung mendapatkan perhatian yang semestinya. Dan Awan masih saja diperlakukan layaknya anak kecil yang lemah dan selalu butuh ditolong.

Belajar mengakui kedewasaan anak dari film NKCTHI

Problematika dan pelajaran yang bisa diambil dari film ini adalah sikap orang tua yang terkadang enggan mengakui bahwa anak mereka tumbuh dewasa. Mengakui kedewasaan anak tidak serta-merta membiarkan anak hidup mandiri, namun orang tua juga perlu menyoroti hak-hak anak sebagai pribadi yang tumbuh dan berkembang, sesuai dengan yang digambarkan di film NKCTHI ini.

Alih-alih mendekatkan diri ke orang tua, banyak anak yang justru membangkang dan menciptakan jarak dengan orang tua mereka karena perlakuan dari orang tua yang tidak membiarkan anak terbang bebas di luar sangkar bertajuk ‘keluarga’.

Menurut Garg & Morduch (1998), ketika jumlah anak lebih dari satu, orang tua harus menanggung konsekuensinya, yakni membagi waktu dan perhatian bagi tiap anak secara adil. Tanpa disadari, muncul persaingan di antara para anak apabila orang tua tidak menerapkan strategi khusus untuk bersikap adil kepada tiap anggota keluarga.

Hal ini terjadi pada keluarga Narendra. Perhatian sang Ayah yang terpusat pada Awan membuat Aurora iri dan merasa tidak cukup disayangi. Sayangnya, hal ini seringkali terjadi tanpa disadari oleh pihak orang tua. Faktanya, dalam hubungan orang tua-anak, seringkali terdapat perbedaan persepsi antara orang tua dan anak. Orang tua merasa hubungan mereka dengan anak cukup baik, sedangkan para anak merasa sebaliknya (Clarke, Preston, Raksin, & Bengtson, 1999).

Sudut pandang dan teori kedewasaan anak terkait film NKCTHI

Di mata Narendra, ia merasa hubungannya dengan anak-anaknya baik-baik saja hingga munculnya konflik dan pembangkangan. Bahkan di titik itu pun Narendra masih merasa dirinya lah yang benar. 

Terdapat 3 masalah komunikasi antara orang tua dan anak yang dirumuskan oleh Clarke dkk. (1999). Pertama ialah gaya komunikasi. Banyak orang tua—dalam kasus ini, termasuk Narendra—yang menerapkan pola komunikasi yang terkesan memerintah, bukan mengajak diskusi. Kedua ialah kritik yang berlebih. Hal ini terjadi pada Aurora. Ketika Aurora terpilih masuk tim renang, sang Ayah bukannya memberi pujian, malah mengkritik sang putri karena tidak memikirkan adiknya. Ketiga ialah minimnya kejujuran dan keterbukaan. Upaya Narendra menutupi masa lalu keluarga yang kelam justru menjadi pisau bermata dua yang menimbulkan konflik yang lebih mendalam antar anggota keluarganya.

Konklusinya, orang tua harus berusaha untuk mendekatkan diri pada anak-anaknya. Cobalah untuk mencari tahu apa yang anak inginkan. Ciptakanlah ruang diskusi dan akuilah kemandirian dan kedewasaan anak. Tidak selamanya anak akan tetap menjadi bocah kecil yang tak berdaya.

Terlepas dari soal kedewasaan anak, film NKCTHI tetap menjadi tontonan yang hangat dan memiliki akhir bahagia yang tetap mampu memancing air mata haru para penontonnya. Keluarga tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk berlindung dan berbagi keluh kesah. Semoga pesan yang coba disampaikan film ini dapat menjadi inspirasi dan aspirasi untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga di manapun Anda berada.

Referensi

Clarke, E. J., Preston, M., Raksin, J., & Bengtson, V. L. (1999). Types of Conflicts and Tensions Between Older Parents and Adult Children. The Gerontologist, 39(3), 261-270.

Garg, A., & Morduch, J. (1998). Sibling rivalry and the gender gap: Evidence from child health outcomes in Ghana. Journal of Population Economics, 11, 471-493.

Lansbury, J. (2011, November 14). The Key To Your Child’s Heart (7 Ways It Works). Diambil kembali dari Elevating Child Care

Spector, N. (2019, Agustus 14). Your adult child resents the way you parented them. Here’s how to handle it. Diambil kembali dari NBC News