Dongeng anak biasanya memiliki nilai moral yang penting dalam kehidupan si anak kelak. Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian luar biasa yang penuh khayalan (fiksi), yang disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Meskipun cerita dalam dongeng dianggap belum tentu benar adanya, namun kegiatan mendongeng dipercaya dapat menjadi salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai moral sejak dini.

Menurut Staden & Watson (2007), dongeng mampu menciptakan lingkungan belajar yang bagus. Selain itu, metode dongeng dapat berfungsi sebagai media dalam membentuk kepribadian dan menanamkan nilai-nilai moral. Dengan kata lain, anak dapat menyerap nilai-nilai moral dengan cara yang lebih menghibur dan menyenangkan.

Antara dongeng dan nilai moral anak

Penanaman nilai-nilai moral sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan perkembangan kecerdasan moral anak usia dini. Menurut Borba (2001), kecerdasan moral adalah kemampuan membedakan antara hal yang benar dan salah. Kemampuan tersebut membuat seseorang mampu memahami penderitaan orang lain, mengendalikan diri, bertoleransi, berempati, bersikap adil, menunjukkan kasih sayang dan rasa hormat pada orang lain, serta tidak bertindak jahat.

Lebih lanjut Borba menyatakan bahwa dongeng tentang kebaikan akan membantu anak memahami kekuatan kebaikan dan membuat anak berpikir bahwa mereka pun dapat berbuat kebaikan juga bagi dunia. 

Sementara itu, Sanchez dkk. (2009) mengungkapkan bahwa salah satu kelebihan dongeng adalah, buah hati dapat belajar mengenai moral melalui penggambaran tokoh yang ada dalam dongeng. Dengan kata lain, kebaikan yang dilakukan oleh tokoh dalam dongeng dapat menginspirasi si kecil untuk melakukan hal serupa.

Kecerdasan moral berkat dongeng

Untuk mengetahui sejauh mana dongeng dapat menanamkan nilai moral pada anak usia dini, Ahyani (2010) mengamati 24 anak yang terdiri dari 4 siswa PAUD di Semarang, 2 siswa TK di Solo, 6 siswa TK di Bantul, 8 siswa PAUD di Sleman, dan 4 siswa TK di Kodya Yogyakarta.

Sebelum diperdengarkan dongeng, setiap anak diukur terlebih dahulu kecerdasaan moralnya berdasarkan 7 unsur kecerdasan moral menurut Borba (2001), yaitu empati, nurani, kontrol diri, respek, baik budi, toleransi, dan sikap adil.

Setelah itu, semua anak akan diajak untuk mendengarkan 10 cerita dongeng yang berbeda dalam 10 kali pertemuan. Setelah diperdengarkan dongeng selama 10 pertemuan, semua anak menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kecerdasaan moralnya.

Maka tidak mengherankan jika mendongeng sering dilakukan dilakukan oleh orang tua zaman dahulu. Penelitian yang dilakukan oleh Ahyani (2010) menunjukkan bahwa setelah diperdengarkan dongeng, kecerdasan moral anak bisa meningkat.

Menurut Intani T (2012), selain berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai moral pada anak, mendongeng juga dapat mendekatkan hubungan emosional antara orang tua (ibu) dan anak, serta meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk meneruskan tradisi membacakan dongeng, setidaknya sebagai pengantar anak sebelum tidur. Menurut Ardini (2012), waktu sebelum tidur adalah waktu yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral dengan dongeng. Dengan membacakan dongeng, orang tua juga tidak perlu terlalu sering memberikan ceramah dan nasihat terkait moral kepada anak, karena dia sudah belajar dari kisah dongeng yang ia dengarkan.

Referensi:

Ahyani, Latifah Nur. 2010. Metode Dongeng dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus. Volume I, No 1, Desember 2010

Ardini, Pupung Puspa. 2012. Pengaruh Dongeng dan Komunikasi Terhadap Perkembangan Moral Anak Usia 7-8 Tahun. Jurnal Pendidikan Anak, Volume 1, Edisi 1, Juni 2012 

T, Ria Intani. 2012. Tradisi Mendongeng sebagai Upaya Pembudayaan Nilai-Nilai dalam Keluarga di Kelurahan Cisaranten Wetan Kecamatan Cinambo Kota Bandung. Patanjala Vol. 10 No. 1 Maret 2018: 67- 82