Tak hanya dampak kala terjadi, dampak pasca karantina juga perlu diperhatikan dan ditangani. Karantina bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi mereka yang menjalaninya. Terpisah dari orang tercinta, hilangnya kebebasan, ketidakpastian dari status penyakit, serta kebosanan mampu menciptakan dampak yang cukup dramatis.

Dampak ekstrem seperti bunuh diri, amarah yang menumpuk, hingga perkara hukum bisa saja terjadi dalam karantina. Agar penerapan karantina dapat berjalan sukses, kita perlu sebisa mungkin mengurangi dampak negatif dari karantina tersebut, baik itu fisik maupun psikologis, dan saat serta setelah karantina berlangsung. Paparan di bawah merupakan hasil ulasan cepat dari Brooks dkk. (2020) yang memetakan problematika dan dampak pasca karantina beserta penanggulangannya.

Dampak psikologis pasca karantina

Usai karantina, pastinya banyak perubahan yang tidak bisa langsung diperbaiki dalam waktu singkat. Justru masa-masa penyesuaian ini yang biasanya membutuhkan perhatian. Khususnya di area kesehatan mental atau psikologis para penyintas. Berikut adalah 2 poin penting dari dampak pasca karantina yang berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat.

1. Kondisi finansial

Problematika finansial merupakan masalah besar dari dampak pasca karantina. Karena orang-orang tidak bisa bekerja, aktivitas profesi yang terhenti, serta tidak adanya perencanaan jangka panjang karena serangan pandemi yang cepat, efek masalah finansial ini dapat memiliki dampak jangka panjang. Kerugian finansial yang terjadi di masa karantina dapat menimbulkan masalah sosial-ekonomi yang cukup serius.

Dampak pasca karantina satu ini bahkan bisa bertahan hingga berbulan-bulan setelah karantina dalam bentuk kelainan psikologis, termasuk amarah, kecemasan, dan depresi yang berkepanjangan. Ambil contoh saja para pekerja seni atau pekerja proyek yang dalam kondisi normal pun tidak memiliki penghasilan yang tetap. Pasca karantina berakhir, biasanya belum tentu mereka langsung bisa bekerja kembali karena penghasilan mereka bergantung pada pihak lain. Orang-orang ini cenderung mengalami stres pasca karantina dibandingkan dengan pekerja kantoran atau industri lainnya.

Di sisi lain, pemerintah juga belum tentu bisa memberikan bantuan finansial secara langsung dan merata. Bantuan yang diterima pun belum tentu bisa menutupi pengeluaran keluarga secara umum. Akhirnya, banyak orang yang harus kembali bergantung pada keluarga mereka secara finansial. Hal ini justru memicu stres sendiri karena individu kehilangan kemandirian finansialnya, dan bisa memicu konflik sendiri dalam keluarga.

Penelitian juga menunjukkan bahwa mereka yang biasanya memiliki penghasilan rendah cenderung lebih merasakan dampak buruk pasca karantina di bidang finansial dibandingkan dengan mereka yang memiliki penghasilan tinggi.

2. Stigma sekitar

Sebagai salah satu dampak pasca karantina, stigma merupakan racun yang mampu menghancurkan kesehatan batin seseorang. Apalagi pasca pandemi COVID-19 yang memicu banyak kekhawatiran. Usai karantina, biasanya stigma buruk dari orang lain tetap berlangsung bahkan hingga berbulan-bulan setelah karantina berakhir.

Stigma yang dimaksud di sini adalah stigma dari orang sekitar bahwa orang yang pulang dari karantina masih memiliki risiko terjangkit pandemi penyakit. Stigma ini bahkan bisa berujung menjadi penolakan dari lingkungan sekitar. Dalam salah satu penelitian, disebutkan bahwa banyak penyintas karantina yang diperlakukan berbeda oleh orang-orang sekitarnya. Perlakuan berbeda ini mencakup dihindari oleh orang lain, hilangnya ajakan untuk berkumpul/bertemu, ditakuti dan dicurigai, hingga diberi komentar yang tidak mengenakkan.

Tak hanya di ranah sosial, stigma ini juga berlaku di pekerjaan. Banyak atasan yang menolak untuk mempekerjakan kembali karyawannya yang masuk karantina, bahkan meski karantina sudah berakhir. Dampak pasca karantina satu ini membuat para penyintas dipandang sebagai individu yang ‘berbahaya’.

Menanggulangi konsekuensi dan dampak karantina

Karantina kerap diasosiasikan dengan efek psikologis yang negatif, baik itu dampak saat karantina maupun pasca karantina. Oleh karena itu, diperlukan tindak penanggulangan yang efektif untuk memastikan agar karantina tidak memiliki dampak buruk terhadap kesehatan mental masyarakat. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa dilakukan guna menanggulangi dampak pasca karantina.

1. Mempersingkat durasi

Semakin lama durasi karantina, maka semakin buruk juga dampak psikologis pasca karantina bagi para penyintas. Penting bagi para pemangku kebijakan untuk berusaha mempersingkat masa karantina alih-alih memperpanjangnya.

2. Menyediakan informasi sebanyak dan sejelas mungkin

Ketakutan akan tertular dan menulari orang lain kerap dirasakan para pelaku karantina. Karena situasi demikian, banyak orang yang memahami seluk-beluk penyakit dengan berlebihan dan salah kaprah. Pemerintah dan pihak lain yang bertanggung jawab harus memastikan bahwa mereka yang dikarantina serta seusai karantina memahami informasi terkait penyakit secara tepat.

3. Menyediakan kebutuhan dasar yang cukup dan layak

Pastikan lokasi karantina serta lokasi pasca karantina memiliki suplai kebutuhan dasar yang cukup agar penyesuaian terhadap dampak pasca karantina bisa lebih mudah dan lancar. Perlu ada koordinasi yang baik terkait penyimpanan dan alokasi suplai agar tidak segera habis.

4. Meningkatkan komunikasi dan mengurangi kebosanan

Perlu ada berbagai himbauan dan tips agar para penyintas karantina dapat menangkis kebosanan dan rasa terasingkan dari dampak pra maupun pasca karantina. Tak hanya itu, pemerintah juga perlu menyediakan layanan komunikasi untuk konsultasi terkait Corona, baik itu medis maupun psikologis.

5. Memberikan perhatian khusus terhadap tenaga medis

Tenaga medis merupakan ujung tombak yang justru paling merasakan dampak psikologis yang buruk pasca karantina. Banyak yang mendapatkan stigma buruk, dan terbebani pekerjaan yang tidak kunjung usai. Pemangku jabatan, atasan rumah sakit, dan pemerintah perlu memberikan kompensasi yang layak bagi para tenaga medis agar penanganan pandemi bisa berjalan terus dengan usaha para tenaga medis.

6. Ikhlas lebih baik daripada terpaksa

Banyak orang yang stres kala dan pasca karantina karena merasa tidak punya kontrol. Keikhlasan bisa membantu untuk meredam stres ini. Mereka yang dikarantina akan merasa lebih baik jika mereka menganggap bahwa karantina ini bertujuan untuk hal yang baik—agar yang masih sehat tidak tertular. Perasaan ini akan menghasilkan kondisi mental yang lebih bahagia daripada perasaan karantina karena terpaksa.

Meskipun demikian, semua kiat penanggulangan dampak pra dan pasca karantina pandemi ini akan sia-sia apabila tidak diimbangi dengan informasi dan akomodasi yang jelas dan layak dari pemerintah.

Referensi

Brooks, S. K., Webster, R. K., Smith, L. E., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N., & Rubin, G. J. (2020, February 26). The Psychological Impact of Quarantine and How To Reduce It: Rapid Review of The Evidence. Lancet CrossMark (395), 912-920.

Centers for Disease Control and Prevention (2020, April 4). Social Distancing, Quarantine, and Isolation. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Diambil kembali dari CDC.gov

Nicolas, E. S. (2020, Maret 27). WHO warning on lockdown mental health. Diambil kembali dari EUObserver

Rahman, A. P. (2020, April 4). Isolation and mental health: the psychological impact of lockdown. Diambil kembali dari The Hindu