Ketika istri ditinggal suami merantau, hidup terasa lebih berat. Bagi sebagian orang, bekerja di luar kota atau luar negeri merupakan kesempatan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Sementara bagi sebagian lainnya, bekerja di tempat yang jauh dari rumah dilakukan karena kebutuhan ekonomi dan tidak adanya pilihan lain.

Ketika kondisi memaksa seseorang untuk bekerja di luar kota atau luar negeri, tentunya akan lebih mudah jika ia bisa membawa serta pasangannya. Namun ada sebagian pasangan yang memilih untuk menjalani hubungan pernikahan jarak jauh (long distance marriage/LDM) karena berbagai alasan. Misalnya karena pasangan tidak bisa meninggalkan pekerjaan atau harus menjaga orang tua yang sudah tua dan sakit.

Menjalani LDM bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan suami istri kala ditinggal sang suami merantau. Apalagi jika hubungan yang terpisah jarak geografis ini berlangsung dalam waktu yang lama. LDM yang berlangsung dalam waktu lama berisiko mengganggu keharmonisan rumah tangga, seperti timbulnya pertengkaran, kecurigaan, dan ketakutan (Litiloly & Swastiningsih, 2014).

Pertengkaran, rasa takut, dan kecurigaan yang terus berlangsung selama menjalani hubungan pada akhirnya dapat memicu stres pada pelaku LDM. Oleh karena itu, penting bagi pasangan LDM untuk mengetahui tentang manajemen stres.

Menurut Hawari (2006), manajemen stres merupakan usaha untuk mengendalikan stres atau mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat pemicu stres. Dalam hal ini pemicu stres adalah perasaan negatif yang ditimbulkan akibat LDM.

Mengatasi stres yang timbul akibat suatu pemicu stres seperti pekerjaan, tentunya berbeda dengan stres yang ditimbulkan karena menjalani LDM. Pasalnya, masalah yang ditimbulkan oleh pekerjaan dan LDM jelas berbeda.

Menurut Litiloly & Swastiningsih (2014), setidaknya ada tiga cara yang dilakukan para istri untuk mengatasi stres akibat LDM. Ketiga cara tersebut adalah memperbanyak komunikasi, spiritual, liburan, dan bersosialisasi. 

Memperbanyak Komunikasi kala Ditinggal Suami Merantau

Masalah utama dari LDM tentu saja adalah jarak. Keterpisahan jarak menimbulkan kendala bagi pasangan suami istri untuk berkomunikasi. Untuk tetap menjalin komunikasi dengan suami, beberapa orang mengaku memperbanyak komunikasi melalui telepon dan sosial media.

Komunikasi melalui telepon dilakukan oleh para pasangan tidak hanya untuk mengobati rasa kangen dan mempererat ikatan, namun juga untuk mendiskusikan permasalahan yang tidak bisa dihadapi para istri sendiri.

Melakukan Pendekatan Spiritual

Selain memperbanyak komunikasi dengan suami melalui media sosial dan telepon, pendekatan spiritual juga dilakukan oleh para istri untuk mengatasi stres yang ditimbulkan oleh LDM yang mereka jalani. Menurut Litiloly & Swastiningsih (2014), para istri mengatasinya dengan memperbanyak beribadah, salat, dan berdoa.

Mencari Hiburan kala Ditinggal Suami Merantau

Mencari hiburan juga menjadi salah satu cara yang dipilih para istri untuk menanggulangi stres akibat LDM. Saat istri yang ditinggal suami merantau sudah merasa stres, mereka biasanya akan mencari hiburan dengan mengajak anaknya jalan-jalan ke mall.

Bersosialisasi dengan orang lain

Mengunjungi teman dan saudara juga menjadi salah satu cara yang dipilih oleh para istri ketika stres mulai melanda. Saat berjumpa dengan teman atau saudara, mereka biasanya curhat terkait permasalahan yang mereka hadapi untuk mengurangi beban pikiran. Meski tidak dapat menggantikan kehadiran pasangan, setidaknya keberadaan teman atau saudara bisa mengatasi rasa kesepian.

Dalam mahligai rumah tangga, tentu saja akan ada berbagai macam masalah yang akan dihadapi pasangan suami istri. Dengan kondisi hubungan yang terpisah jarak, tentunya masalah yang dihadapi lebih berat daripada masalah yang dihadapi oleh pasangan yang tinggal bersama. Oleh karena itu, penting bagi untuk melakukan manajemen stres agar hubungan pernikahan tetap harmonis.

Referensi:

Litiloly, Fariyuni & Swastiningsih, Nurfitria. 2014. Manajemen Stres pada Istri yang Mengalami Long Distance Marriage. EMPATHY, Jurnal Fakultas Psikologi Vol. 2, No 2, Desember 2014